Lombok Post
PELESIR

Lebaran Topat

PERANG TOPAT
JANGAN ADA DENDAM : Seluruh warga Karang Langu, khususnya kaum pria, tua, muda, anak-anak saat Perang Topat yang menjadi rangkaian perayaan Lebaran Topat. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun.

Seminggu setelah lebaran Idul Fitri 1 Syawal, masyarakat Lombok kembali menggelar perayaan lebaran. Perayaan kedua ini dikenal dengan Lebaran Topat (ketupat), sebagai perayaan setelah puasa sunat 6 hari Idul Fitri. Di beberapa tempat, Lebaran Topat ini bahkan lebih ramai dibandingkan lebaran Idul Fitri.

======

KETUPATA�menjadi ciri khas Lebaran Topat ini. Sebagian masyarakat Lombok Barat, hampir seluruh masyarakat Kota Mataram, dan sebagian masyarakat Lombok Utara menggelar besar-besaran perayaan Lebaran Topat ini. Bahkan pemerintah secara khusus membuat even perayaan Lebaran Topat. Belakangan Lombok Timur dan Lombok Tengah juga mulai menggelar perayaan Lebaran Topat.

Seperti pada lebaran Idul Fitri, pada malam Lebaran Topat, warga menggelar takbiran. Masjid-masjid, kampung kembali semarak. Sehari sebelum Lebaran Topat, masjid kembali dipercantik. Ornamen malam takbiran Idul Fitri kembali dikeluarkan.

Anak-anak, tua, remaja keluar rumah untuk menggelar pawai takbiran Lebaran Topat. Sementara para ibu-ibu rumah tangga sibuk menyiapkan menu keesokan paginya : topat dan opor.

Dua jenis makanan ini pasti ada di dulang (nampan tempat menaruh makanan). Masakan terbaik akan dikeluarkan pada hari Lebaran Topat, keesokan harinya.

Pagi hari pukul 07.00 Wita pada tanggal 8 Syawal, warga akan berkumpul di masjid. Seluruh rumah di kampung itu akan keluar membawa dulang. Dulang itu dijejer di salah satu sisi masjid.

Setelah dulang terkumpul. Kiyai di kampung itu akan memimpin zikir dan doa. Sekitar jam 8 pagi, acara zikir dan doa berakhir. Barulah seluruh hidangan yang dibawa ke masjid itu dinikmati bersama.

Sebagian warga lainnya, juga menghidangkan dulang di rumah mereka. Mengundang kerabat dekat, mengundang para tetangga. Kadang momentum silaturrahmi keluarga besar dilakukan pada Lebaran Topat ini.

Setelah acara syukuran selesai, warga bersiap menuju tempat ziarah. Makam-makam yang dikeramatkan menjadi tempat berkumpul. Kadang rombongan dari kampung tertentu, sejak pagi buta sudah di kompleks makam itu. Acara zikir, doa, dan rowah (pesta) bersama digelar di kompleks makam itu.

Sebagian lain, ada yang menikmati liburan. Biasanya paling banyak dikunjungi pantai. Kawasan pantai Senggigi di Lombok Barat, pantai Malaka dan Sire di Lombok Utara, pantai Ampenan dan Loang Baloq di Kota Mataram menjadi pusat rekreasi Lebaran Topat. Di lokasi-lokasi inilah, pemerintah daerah setempat menggelar perayaan khusus.

Makam-makam seperti Loang Baloq (Mataram), Batulayar (Lombok Barat), Medana (Lombok Utara), dan Selaparang (Lombok Timur), Rembitan (Lombok Tengah), dan belasan lokasi makam lainnya dipenuhi warga berziarah. Biasanya rombongan ziarah makam itu satu keluarga besar. Mereka menyewa mobil. Kadang ada juga yang datang rombongan satu kampung. Di makam-makam itu, para warga yang ziarah berdoa. Lalu dilanjutkan makan siang bersama.

*****

Perayaan Lebaran Topat juga menjadi momentum untuk menggelar berbagai kegiatan aqiqah (mencukur rambut bagi bayi). Para orang tua ramai-ramai membawa putra putri mereka ke masjid, atau lokasi perayaan Lebaran Topat. Para tuan guru (kiyai) memimpin acara mencukur rambut itu. Kegiatan aqiqah ini dilakukan hampir kelompok masyarakat yang merayakan Lebaran Topat.

Perayaan Lebaran Topat yang berbeda ditemukan di Dusun Karang Langu, Desa Tanjung, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Momen Lebaran Topat sekaligus menjadi acara saur sangi (penebusan janji) atas niat yang pernah diucapkan. Pada momen Lebaran Topat di kampung ini, warga juga mengadakan Perang Topat sebagai puncak perayaan.

Jika memiliki nazar (kehendak) yang sudah terpenuhi, pada Lebaran Topat itulah saatnya untuk menebus nazar tersebut. Menyediakan ketupat untuk dijadikan senjata bagi warga melakukan Perang Topat adalah salah satu cara menebus nazar itu. Cara menyediakan ketupat sebagai senjata Perang Topat pun unik. Ketupat harus dikalungkan ke leher orang atau hewan peliharaan yang pernah di nazarkan.

Itulah yang menjadi alasan Adi ketika mengalungi istrinya dengan beberapa buah ketupat lengkap dengan ayam goreng. Setelah ketupat dan ayam itu dikalungkan, belasan wanita dewasa dan anak-anak mengejar istinya, mengambil ketupat itu. Istrinya, Ririn pun kewalahan untuk mengadapi warga yang berebut mengambil ketupat yang tergantung di lehernya itu. Sehabis ketupat itu diambil, secara spontan warga saling melempar, termasuk juga Ririn.

a�?a��Saya bernazar kalau anak saya lahir dengan sehat akan menyediakan topat,a��a�� kata Adi.

Begini nazar Adi. Ketika hamil beberapa, perut istrinya sangat besar. Adi yang tidak memeriksakan istrinya ke dokter, menduga akan lahir bayi kembar. Adi khawatir terjadi apa-apa jika lahir bayi kembar. Saat itulah dia mengucapkan janji, jika lahir satu orang bayi dan istrinya melahirkan dengan selamat dia akan saur sangi saat Lebaran Topat.

a�?a��Alhamdulillah anak kami lahir dengan selamat,a��a�� tutur Adi.

Lain lagi dengan Anto, 30 tahun. Dia saur sangi untuk seekor sapinya. Sapi itu pernah sakit dan kurang produktif. Dalam pengucapan janjinya, jika sapi itu sehat maka Anto akan mengikuti saur sangi pada Lebaran Topat. Lebaran Topat kali ini, keinginan Anto terwujud, sapi miliknya sehat dan terus bertambah gemuk.

Anto menyiapkan puluhan ketupat. Ketupat itu dikalungkan pada leher sapi. Seraya mengalungkan ketupat di leher sapi itu, Anto mengucapkan a�?a��saya bayar janji saya hari inia��a��. Sapi itu kemudian dilepas. Warga yang menunggu berebut ketupat yang ada di leher sapi itu.

Lain lagi bagi Arsadi, Ketua RT 4 Karang Langu. Dia membayar janji atas kesembuhan anaknya Sulhadi. Bocah yang masih berstatus murid SDN 6 Tanjung itu sering sakit. Badannya kurus. Orang tuanya berjanji jika kesehatan Sulhadi membaik, akan saur sangi pada Lebaran Topat. Sulhadi pun sembuh. Maka Sulhadi pun dikalungkan ketupat. Puluhan anak-anak mengelilingi, menunggu waktu untuk rebutan ketupat yang dikalungkan di lehernya itu.

Begitu juga dengan Islahuddin, siswa SMPN 1 Tanjung. Janji yang pernah terucap orang tuanya, jika kesehatannya membaik, pada Lebaran Topat akan membayar janji itu.

a�?a��Telinga saya yang sering sakit, sekarang sudah sembuh pak,a��a�� katanya.

Udin si kusir cidomo (andong) membayar janji atas kesehatan kudanya. Kuda itulah yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Kesehatan kuda itu menjamin kesehatan ekonomi keluarganya. Itulah sebabnya, keluarga Udin selalu meniatkan setiap tahun atas kesehatan kudanya. Kuda dikalungkan ketupat, lalu ramai-ramai warga mengejar kuda itu.

Mengejar sapi dan kuda untuk mengambil ketupat itu menjadi momen paling mendebarkan pada persiapan Perang Topat. Tidak jarang warga diseruduk sapi. Bahkan bisa terinjak jika tidak hati-hati. Beda halnya dengan ketupat yang dikalungkan pada manusia, justru orang yang dikalungkan itulah yang cukup tersiksa. Ketupat di lehernya ditarik dan dikerumuni puluhan orang. Sulit untuk lari.

a��a��Tegang rasanya pak,a��a�� tutur Islahuddin.

Tokoh masyarakat Karang Langu, Rinajib mengatakan, tradisi Lebaran Topat warga Karang Langu seperti saat ini sudah dilakukan secara turun temurun. Warga membawa dulang (nampan berisi makanan) ke masjid setempat. Dulang yang terkumpul di maka bersama seluruh warga yang hadir di masjid.

Pengumpulan dulang itu dimulai pukul 06.00 Wita hingga pukul 07.30 wita. Setelah dulang terkumpul dilakukan zikir, lalu ditutup dengan makan isi dulang bersama. Anak-anak, orang dewasa, orang tua tidak ada perbedaan. Semua membaur.

a��a��Tradisi saur sangi itu juga sejak nenek moyang kami sudah ada,a��a�� katanya.
Awalnya, saur sangi itu menyediakan ketupat saja, belakangan menjadi Perang Topat. Tokoh masyarakat Karang Langu, Itradim mengatakan tradisi Perang Topat besar-besaran seperti saat ini dilakukan tahun 2009 silam.

Tradisi Perang Topat ini tradisi baru, tapi tidak dilarang dalam perayaan Lebaran Topat. Menutur Itradim, tradisi tersebut tidak merusak inti perayaan Lebaran Topat. Lebaran Topat sebenarnya lebaran bagi umat Islam yang puasa sunat sehari setelah Idul Fitri 1 Syawal. Sementara Perang Topat itu sebagai a�?a��bumbua��a�� memeriahkan Lebaran Topat.

a�?a��Sekarang malam Lebaran Topat pun ada pawai takbiran,a��a�� katanya.

Sempat menjadi kekhawatiran Perang Topat itu akan membawa dendam. Tapi selama ini kekhawatiran itu tidak terjadi. Warga yang berperang tidak pernah ribut di belakang. Tidak menaruh dendam. Siapa pun warga, lelaki, jika ada di arena Perang Topat harus siap menjadi peserta peperangan. (fathul)

Berita Lainnya

Juara Lagi, NTB Raih Destinasi Wisata Halal Terfavorit 2018

Redaksi Lombok Post

Pascagempa, Malaysia Bantu Pemulihan Pariwisata NTB

Redaksi Lombok Post

Bandini Riverside Cottage, Sensasi Ketenangan Jadi Suguhan Utamanya

Redaksi Lombok Post

Nanang Samodra Melenggang ke DPR RI

Redaksi Lombok Post

Diboyong Kemenpar, JFC Sukses Pikat Hati Travel Bloger Asal Dubai

Redaksi Lombok Post

Fitri Carlina Ceritakan Pariwisata Banyuwangi Lewat Video Clip Terbarunya

Redaksi Lombok Post

Ini Dia Dukungan BRI untuk ViWI 2018 di Rakornas IV Pariwisata

Redaksi Lombok Post

Halaltraveling, Halalkan Gaya Hidupmu

Redaksi Lombok Post

NTT Expo 2017, Happy Ending Crossborder Atambua 2017

Redaksi Lombok Post