Lombok Post
Politika

Politisi Muda Terganjal Biaya Politik

MATARAM – Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB Sulhan Mukhlis Ibrahim pesimistis politikus muda dapat bersaing di pilkada serentak 2015. Terlebih jika biaya politik pada pilkada serentak 2015 tinggi.

Sulhan yang juga politikus Partai Kebangkitan Bangsa itu menilai peran pemuda dalam kancah perpolitikan di daerah harus diberikan ruang sebagai proses pembelajaran. Hanya saja, politikus muda tetap terkendala dengan biaya politik untuk bertarung di pilkada serentak.

a�?Masyarakat memang harus memberikan kepercayaan kepada generasi muda untuk memimpin daerahnya. Tapi, kalau sudah bicara finansial atau biaya politik, generasi muda akan sulit bersaing,a�? kata Sulhan kepada Lombok Post kemarin (10/8).

Sembari merinci biaya politik yang harus dikeluarkan calon kepala daerah, Sulhan menilai proses pembelajaran politik harus dibuka selebar-lebarnya demi estafet kepemimpinan. Dalam riniciannya, seorang calon kepala daerah setidaknya harus memiliki modal kisaran Rp 35 miliar untuk bertarung di pilkada.

Menurut dia, dana sebesar itu merupakan dana untuk biaya operasional politik. Untuk operasional suara saja, seorang calon kepala daerah setidaknya menyiapkan Rp100 ribu per suara. Belum lagi operasional lainnya seperti biaya atribut, kampanye, sosialisasi, pelibatan media masa, hingga biaya untuk konsultan politik.

Dia mencontohkan daerah yang jumlah pemilihnya mencapi 500.000 pemilih. Untuk meraih kemenangan, setidaknya calon kepala daerah harus memperoleh 75 persen suara dan dikalikan 500.000 dikalikan Rp100.000. a�?Siapa politikus muda NTB yang berani dan mampu buang uang Rp 35 Miliar untuk menjadi bupati/walikota,a�? tandasnya.

Selama biaya politik untuk menjadi kepala daerah masih tinggi, KNPI kata dia pesimistis generasi muda mampu bersaing.

Meski begitu, dia mendorong generasi muda tidak patah arang. Jika belum mampu bertarung merebut kursi kepala daerah, pemuda dapat menyalurkan ilmunya dengan menjadi penyelenggara pemilu.

Bukan hanya itu saja, pemuda juga dapat belajar politik baik menjadi tim pemenangan pasangan calon atau pemantau proses penyelenggaraan pemilu. Terkait pilkada serentak di NTB, dia yakin di beberapa daerah tokoh muda sudah berani tampil dan mengambil peran masing-masing. Terlebih peran central di politik masih didominasi tokoh-tokoh di atas usia 50 tahun.

Dari enam kabupaten yang menyelenggarakan pilkada serentak di NTB, setidaknya lebih kurang tujuh orang politikus muda yang ikut ambil bagian. Mereka di antaranya adalah Indah Damayanti Putri di Kabupaten Bima, Indra Jaya Rayes di Kabupaten Sumbawa, Iwan Pandjidinata di Kabupaten Sumbawa Barat, dan Syarifuddin di Kabupaten Lombok Utara.

Sebenarnya di Kota Mataram terdapat tokoh politikus muda Partai Golkar yakni H Mohan Roliskana yang dicalonkan kembali sebagai Wakil Walikota Mataram. Hanya saja, hingga saat ini belum ada kepastian apakah Mohan dapat bertarung di pilkada Mataram pada Desember 2015. (tan/r12)

Berita Lainnya

Janji Korban Gempa Harus Dituntaskan

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost

HBK Dukung Program Zul-Rohmi

Redaksi LombokPost

Pendaftaran Calon Angota KPU Diperpanjang

Redaksi LombokPost

Sembilan Sekolah Lolos Babak Penyisihan Lomba Cerdas Cermat

Redaksi LombokPost

Partisipasi Pemilih Nasional Ditarget 77,5 Persen

Redaksi Lombok Post

Pemilu Serentak 2019 Ribet

Redaksi LombokPost

Ma’ruf Amin Kampanye di Pondok?

Redaksi Lombok Post

Tiga Caleg DPRD NTB Dinyatakan TMS

Redaksi LombokPost