Lombok Post
Kriminal

Edi Rahman a�?Godaa�? Kejati

MENDEKAM DI BUI : Pelaksana proyek TPA di KSB, IS (kemeja biru) sesaat setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim penyidik Kejaksaan Tinggi NTB

MATARAM – Pengacara tersangka IS (inisial, Red), Edi Rahman, mulai a�?menggodaa�? Kejati NTB. Ia mengaku keberatan dengan tindakan penahanan yang dilakukan terhadap kliennya.

IS merupakan salah satu tersangka dalam kasus proyek pembangunan peningkatan TPA (Tempat Pembuangan Sampah) di Kabupaten Sumbawa Barat. a�?Dari kami, tentunya keberatan dengan penahanan tersebut. Dasar-dasar yang digunakan oleh kejaksaan masih belum jelas,a�? ungkap Edi Rahman ketika dikonfirmasi Lombok Post, kemarin (11/8).

Menurutnya, penghitungan kerugian negara sebesar Rp 800 juta menurut asumsi dari kejaksaan. Belum ada paparan dari kejaksaan, terhadap masalah kerugian negara yang berdasarkan penghitungan dari Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) NTB.

a�?Coba kejaksaan itu memberikan dasar penghitungan kerugian itu seperti apa. Dalam kasus seperti ini, harus jelas bagaimana kebenaran materiilnya seperti apa, dasar hitungan kerugiannya menggunakan dasar apa,a�? bebernya.

Ia berharap, agar kejaksaan tidak berasumsi sendiri karena ini terkait dengan permasalahan hukum, dimana semua prosesnya harus terang benderang.

Sementara itu, terkait dengan penahanan kliennya, dirinya mengaku akan mengajukan penangguhan penahanan. a�?Mungkin hari ini akan diajukan pengalihan status penahanan, apakah menjadi tahanan rumah atau tahanan kota, semuanya masih menunggu perundingan dari keluarga,a�? pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, IS menjadi salah satu tersangka dalam kasus proyek pembangunan peningkatan TPA (Tempat Pembuangan Sampah). IS merupakan pelaksana proyek TPA yang dilaksanakan pada tahun 2013 di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Dalam proyek tersebut, dilakukan penandatanganan kontrak pekerjaan TPA antara HG selaku pejabat pembuat komitmen dengan DS selaku direktur PT Daya Hasta Multi Perkasa, yang merupakan pemenang lelang. Seusai penandatangan kontrak, DS mengalihkan seluruh pekerjaan TPA Batu Putih kepada tersangka IS.

Setelah dialihkan dan dikerjakan oleh IS, tersangka mengakui bahwa proyek tersebut telah selesai pengerjaannya. Maka dilakukan pembayaran sesuai dengan kesepakatan kepada IS. Namun, fakta di lapangan, melalui penghitungan fisik dari tim UNRAM, ditemukan kekurangan volume yang nilainya Rp 800 juta.

Penyidik melakukan penahanan terhadap tersangka IS dengan alasan bahwa tersangka dikhawatirkan akan melarikan diri. Selain itu, untuk menghindari pengerusakan dan penghilangan barang bukti oleh tersangka dan mempercepat penuntasan perkara TPA.(cr-dit/r8)

Berita Lainnya

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost

Absen Kerja, Sukatra Ditemukan Tak Bernyawa

Redaksi LombokPost

Tilang Menurun, Laka Lantas Meningkat

Redaksi LombokPost

Rekanan Kembalikan Kerugian Negara

Redaksi LombokPost

Saksi Beberkan Percakapan Muhir

Redaksi LombokPost

Jaksa Siap Eksekusi Baiq Nuril

Redaksi LombokPost