Lombok Post
Catatan Redaksi

Generasi Masa Depan

SERIUS: Ratusan calon siswa mengikuti tes BL di SMAN 5 Mataram

Arif Saputra,S.Pd
(Mada Dou Sila Tumpu)

Kita biasanya menghabiskan waktu 9-12 tahun di bangku sekolah untuk menuntut ilmu. Tanpa ilmu pengetahuan, manusia tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Tetapi, ilmu yang kita dapatkan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau ilmu itu menjadi tidak berguna. Itulah yang menjadi motivasi dasar bagi kita untuk pergi ke sekolah. Namun, sistem pendidikan di Indonesia terlalu beriorentasi kepada kurikulum dan memanipulasi tujuan belajar kita. Pengajar mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk memenuhi tuntutan kurikulum. Ujian Nasional juga menjadi bagian dari kurikulum. Ujian menuntut siswa untuk mendapatkan nilai bagus dan memenuhi standar kelulusan. Nilai yang ditulis di atas lembaran kertas menjadi penentu kesuksesan mereka. Akibatnya, siswa termotivasi belajar hanya untuk mendapatkan nilai bagus. Mereka bisa saja menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya dengan mencontek, membeli kunci jawaban, atau kecurangan lainnya. Bahkan, guru pun juga tidak segan-segan memberikan kunci jawaban, memberi kesempatan untuk mencontek, atau membujuk murid yang pandai untuk membantu temannya saat ujian. Jika ada siswa yang tidak lulus, nama sekolah bisa tercoreng. Ya, itulah sistem pendidikan di Indonesia. Masih banyak yang perlu dibenahi.

Hari ini banyak tempat kesembronoan orangtua dan guru yang sangat menyedihkan sungguh yang paling mengkhawatrikan adalah masadepan umat. Maka ketika kita mengurusi anak-anak di rumah dan di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utama kita bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan!

Sebab sesungguhnya kita sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang mengurusi umat ini 30tahun mendatang. Dan ini pekerjaan yang sangat serius .Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus,tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpahenti. Karenya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apapun yang kita lakukan terhadap anak-anak kita di rumah dan di kelas,ingatlah akibatnya bagi dakwah 30-40 tahun yang akan datang. Jika mereka kita ajari curang dalam mengerjakan soal, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaiman agar mereka lulus ujian bukan yang terjadi justru sebaliknya,masa depan umat sedang kita pertaruhkan. Tidaklah ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan. Bangun sekolah yang ambruk bukan berita paling mengerikan meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang.

Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka ketika kita bersibuk dengan cara instan agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusan bukan untuk tepuk tangan. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada. Wahai para guru, anak-anak ini bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus kita ingat adalah a�?ini urusan umat. Urusan Dakwah.a�? Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong menbawa anaknya selain karena alasan iman di dada mereka,inilah saatnya engkau perbanyak istigfar, semakin namamu ditinggikan,semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah a�?Azza Wa Jalla.

Wahai para guru, jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah kurangnya jumlah siswa yang akan terjadi, yang kita sedihkan adalah tentang masa depan umat, tentang kelangsungan dakwah, dimasa ketika kitamungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Maka, ajarilah anak kita mengenali kebenaran sebelum mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah mereka kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan diri mereka keyakinan bahwa Al-Qura��an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya.

Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan diri mereka keyainan dan kecintaan terhadapA�As- Sunnah Ash-Shalihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Mari dahululah mengajarkan pada anak-anak kita yang Haq daripada apa-apa yang mengikat. Prioritaskan mengajarkan padanya yang benar daripada apa yang penuh gebyar.

Sungguh,jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada cara mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

Maka,sekali lagi jangan pernah meremehkan dakwah kepada anak-anak kita!

Sebab jika hatinya telah terikat dengan islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah ia dewasa.

Berita Lainnya

Senggigi Sudah Move On

Redaksi LombokPost

CPNS Kesulitan Penuhi Passing Grade

Redaksi LombokPost

KEK Mandalika Penyumbang PAD Terbesar

Redaksi LombokPost

Senggigi Diprediksi Normal Tahun Depan

Redaksi Lombok Post

Buy tamoxifen

Redaksi Lombok Post

Cheap tadapox review

Redaksi Lombok Post

Tadalis purchase

Redaksi Lombok Post

buy tadacip

Redaksi Lombok Post

Buy synthroid generic

Redaksi Lombok Post