Lombok Post
Feature

Lestarikan Hutan agar Tongkonan Tak Runtuh

JKT-BOKS--layuk-sarungall
PEMUKA ADAT: Layuk Sarungallo di depan tongkonan Kete Kesu, Tana Toraja. F-DIAR CANDRA/JAWA POS

Sebagai wilayah yang ditinggali jejak peradaban Megalitikum, Tana Toraja memiliki tradisi yang mengagumkan. Lewat Toraja International Festival (TIF), warisan tradisi tersebut dijaga agar tetap menarik perhatian dunia. Layuk Sarungallo, Plt pemangku adat di Kete Kesu, desa yang teguh memegang adat Toraja, punya peran agung merawat tradisi eksotis di sana.

***

ADA tiga daerah yang disebut masih awet menjaga kukuh tradisi Tana Toraja sampai saat ini. Yakni, Kete Kesu, Marinding, dan Sangalla. Kete Kesu menjadi spesial karena untuk kali ketiga menjadi tuan rumah Toraja International Festival (TIF) 2015 bersama Makale pada 13-16 Agustus mendatang.

Ketika JPNN berkunjung akhir Juli lalu, barisan enam rumah tongkonan di Kete Kesu sedang dipercantik. Bambu kecil bergaris tengah 3 centimeter (cm) yang sudah dianyam menumpuk di beberapa sisinya.

Anyaman bambu yang mencapai ratusan tersebut dibutuhkan untuk mengganti atap tongkonan, rumah adat Toraja. Juga untuk mengganti alang, lumbung ala Toraja yang bentuk atap aslinya nyaris tak terlihat. Tanaman lumut dan paku-pakuan menutup hijau seluruh bagian atap alang di depan enam tongkonan itu.

Menurut Antonius Masek, salah seorang tukang yang sedang mengerjakannya, penggarapan atap barisan tongkonan dan alang sedang dikebut. Alasannya, TIF sudah ada di depan mata.

Masek menyebutkan, ada empat tukang yang menggarap bagian atas rumah adat suku Toraja itu. Tak sembarang orang bisa merenovasi tongkonan. Masek mengatakan bahwa kemampuan menukangnya didapat dari keluarga yang turun-temurun menjadi tukang.

“Cerita ayah saya, pernah ada tukang yang membuat atap tongkonan ini miring dan tak pas. Dua hari kemudian orang itu tak bisa bicara karena rahangnya bergeser. Makanya, saya hati-hati sekali,” ucap pria berusia 41 tahun tersebut.

Ketika hendak ditanya lebih banyak soal tongkonan di Kete Kesu yang sudah berdiri kurang lebih 700 tahun, Masek menyarankan JPNN untuk bertanya kepada Layuk Sarungallo. Layuk yang merupakan Plt pemangku adat Kete Kesu menjadi jujukan bertanya tentang semua hal di wilayah itu.

Layuk, yang biasanya “berkantor” di pos retribusi masuk kawasan wisata Kete Kesu, sedang tak berada di tempat ketika JPNN datang. Menurut penjaga yang bertugas, Layuk sedang menghadiri upacara pemakaman khas Toraja, rambu solo.

Setelah dua jam menunggu, Layuk tiba. Masih menggunakan dodo sambu, sarung hitam khas Toraja, Layuk lantas duduk di kursi yang ada di sudut ruangan yang berukuran 3 meter x 4 meter itu. Pria 69 tahun tersebut tak lupa memintakan dua cangkir kopi kepada petugas. Dia lantas membakar rokok kereteknya.

“Tadi baru selesai dari rambu solo kerabat di Makale Utara. Terima kasih sudah mau menunggu lama untuk bertemu saya,” tutur bapak tiga anak itu. Sebagai Plt pemangku adat, Layuk memegang peran penting dalam struktur masyarakat Tana Toraja. Khususnya di kawasan Kete Kesu.

Layuk lantas bercerita bahwa menjelang TIF membuatnya sibuk sejak tiga bulan belakangan. Sebagai tuan rumah tiga tahun berturut-turut, Kete Kesu akan kedatangan tamu jutaan orang dari berbagai pelosok Indonesia dan wisatawan mancanegara.

Namun, menurut Layuk, TIF tak berarti jika masyarakat Tana Toraja abai akan lingkungan sekitar. Jika modernisasi tak disikapi dengan bijak, budaya Tana Toraja yang sudah ratusan tahun bisa saja punah.

Menjabat sebagai Plt pemangku adat sejak 2012, Layuk berjuang agar masyarakat Kete Kesu tetap berpegang pada aturan adat. Sebab, kalau tak ada yang dipatuhi, tatanan yang ada selama ini akan rusak.

“Setelah Tana Toraja menjadi salah satu destinasi wisata, warga berebut punya rumah di pinggir jalan besar. Ekonomi menjadi penggerak utama, tapi juga bisa menjadi salah satu sumber permasalahan,” papar Layuk.

Nah, salah satu yang diperjuangkan Layuk adalah ketersediaan hutan buat masyarakat Tana Toraja. Tentu jenis hutan yang dimaksud memiliki semua jenis kayu yang dibutuhkan untuk membuat tongkonan. Tanpa itu semua, tongkonan yang menjadi simbol budaya Toraja bakal runtuh.

Beberapa jenis tanaman yang idealnya ada di satu komunitas Tana Toraja adalah bambu talang (berdiameter 3-5 cm), bambu pattung (bergaris tengah 10-14 cm), cemara, nangka, dan rambutan.

Selain itu, peran tongkonan sangat vital buat masyarakat Tana Toraja. Menurut Layuk, sistem tongkonan tak kalah rumit jika dibandingkan dengan sebuah negara. Misalnya, dalam satu tongkonan, ada delapan hal penyokong yang menjadi pilar budaya Toraja. Mulai aturan, hutan, peternakan, sawah, alun-alun sebagai tempat upacara, lumbung atau alang, masyarakat, hingga makam. Biasanya, wilayah satu masyarakat adat seperti Kete Kesu seluas 95 kilometer (km) persegi.

“Makanya, saya terus berkeliling di komunitas Tana Toraja untuk menjaga hutan. Mungkin malah seperti penyuluh kehutanan. Tapi, kalau bukan kita yang menjaga, anak cucu kita tak akan menikmati hutan dan tongkonan ini,” papar Layuk.

Layuk keluar masuk hutan di Tana Toraja untuk berkampanye peduli lingkungan. Banyak yang mendengar. Namun, tak kalah yang mencibir. Daripada mendengar cibiran orang, Layuk dengan cuek turun tangan sendiri untuk menjaga hutan dan kadang menanaminya dengan jenis kayu yang dibutuhkan untuk tongkonan.

Kakek dua cucu itu menceritakan, seumur hidupnya ada beberapa kejadian yang membuat masyarakat Tana Toraja semakin solid. Seingat dia, salah satunya adalah pascageger politik 1965. Kejadian kedua adalah pengenalan Tana Toraja kepada dunia internasional seusai kongres The Pacific Asia Travel Association (PATA) di Bandung pada 1974.
Untuk kejadian pertama, yakni 1965, masyarakat Tana Toraja yang menolak kepemilikan tanah komunal yang diusulkan Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak menerima orang yang menyebarkan paham komunis.

Karena masyarakat solid, Layuk dengan bangga berkata bahwa Tana Toraja aman dari “pembersihan” yang dilakukan pemerintah Orde Baru ketika itu. Tak ada satu pun orang Kete Kesu yang dianggap sebagai anggota PKI.

Lalu, pada kejadian kedua, saat Tana Toraja dibuka buat pariwisata untuk kali pertama, masyarakat setempat membuka diri terhadap kedatangan warga dunia untuk melihat kebudayaan mereka. Adanya perputaran uang membuat Layuk menerapkan keterbukaan. Misalnya memasang laporan kas masuk dari kunjungan turis di Kete Kesu pada papan yang ada di pos retribusi. Perinciannya mulai kas desa, biaya perawatan, sampai gaji para petugas.

“Setelah ada wisata, masyarakat Kete Kesu membuka kios yang berjualan souvenir khas. Ini juga yang mengangkat tingkat hidup Tana Toraja,” tutur Layuk. (Diar Candra/Tana Toraja/c11/sof/r7)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post