Metropolis

Sidak ke Camat, Prihatin Honor Petugas di Bawah UMK

Hj Putu Selly Andayani

Hari pertama bekerja sebagai penjabat wali kota, Hj Putu Selly Andayani tidak langsung masuk kantor. Ia turun melihat pelayanan di tingkat kecamatan. Berbagai permasalahan mendasar didapatkan orang nomor satu di Mataram ini.

***

SIANG itu, para petugas di kantor Kecamatan Ampenan mendadak riuh. Seorang perempuan berpakaian dinas masuk ke kantor pelayanan. Tanpa kawalan protokol dan mobil Mataram satu.

Meski wajahnya belum terlalu dikenal, namun dalam petugas kecamatan langsung dapat mengenali perempuan itu adalah Penjabat Wali Kota Mataram yang baru dilantik Hj Putu Selly Andayani.

Wali kota Selly langsung meninjau ruang-ruang pelayanan, ditemani Camat Ampenan Ki Agus Idrus Salim. Mulai dari ruang tunggu, ruang keuangan hingga toilet kantor camat.

Setelah banyak berbincang dengan camat dan stafnya. Banyak hal didapatkan Selly terkait pelayanan, namun ada dua hal yang menjadi sorotanya. Yakni masalah sampah dan honor pekerja kontrak di sektor pelayanan dasar.

Selly mengatakan, sebelum melakukan rapat koordinasi program hari ini, ia perlu melihat secara langsung bagaimana kondisi di lapangan.

Salah satunya pelayanan di tingkat kecamatan. Ia melihat pelayanan di Kecamatan Ampenan semua sudah digratiskan. a�?Ke depan saya perlu turun bersama para camat, melihat kondisi masyarakat,a�? ujarnya.

Terkait masalah sampah, ia mengapresiasi banyak program sudah dilakukan. Namun ada beberapa hal yang belum tuntas sehingga dampaknya belum maksimal.

Seperti warga banyak menolak dibuatkan container atau dijadikan TPS. Sehingga ada solusi lain yang perlu dilakukan. Misalnya proses pembuangan dari rumah warga ke TPS hingga ke TPA perlu diatur kembali agar bisa maksimal.

Misalnya, mobil yang tadinya mengangkut sampah pada malam hari dijadwalkan mengangkut pada malam hari sehigga pagi semua sudah bersih. a�?Tidak ada macet lagi gara-gara mobil kebersihan melintang di jalan,a�? harapnya.

Baginya, masalah kerbersihan sangat penting, apalagi dalam waktu dekat Mataram akan menjadi tuan rumah MTQ tingkat nasional. Hal yang menjadi sorotan utama adalah kebersihan, kalau kotor maka dicap kumuh oleh daerah lain.

a�?Kita ingin menggerakkan masyarakat agar sama-sama berpartisiapsi membersihkan sampah,a�? katanya.

Selain itu, ia mengaku kaget dengan jumlah honor bagi tenaga kontrak atau honorer yang masih di bawah UMK dan UMR. Dimana honorer hanya diberikan Rp 700 ribu per bulan. Menurutnya, nilai itu sangat tidak layak dan harus dinaikkan. Sehingga mereka bisa bekerja maksimal.

Menurutnya, pemberian upah atau honor harus sesuai dengan UMK, jangan sampai pemerintah hanya meminta swasta saja memberikan upah sesuai UMK tetapi kita pemerintah tidak. Honor bagi para honorer harus sama dengan UMK.

a�?Jangan sampai kita zalim, tidak menghargai pekerja di bawah dengan upah yang rendah, tidak boleh,a�? tegasnya.

Jika standar UMK di Kota Mataram Rp 1,2 juta, maka semua harus sama. Tidak ada yang tidak bisa. Anggarannya nanti bisa disesuaikan dalam APBD perubahan yang belum diketok.

a�?Saya mau dari APBD perubahan ada perubahan, terutama upah honor,a�? tandasnya.

(bersambung/Sirtupilaili/r8)

Related posts

Jalur Laut Pilihan Terbaik

Redaksi Lombok Post

PNS Malas Tak Kunjung Tobat

Iklan Lombok Post

Warga Lendang Tengak, Sambelia Ancam Lapor Presiden

Redaksi Lombok post

Leave a Comment