Lombok Post
Headline Pendidikan

Kasihan, Siswa SMAN 1 Belajar Lesehan

TANPA BANGKU: Dua rombongan belajar di SMAN 1 Mataram belajar lesehan alias tanpa bangku. Kondisi ini tentu menganggu pembelajaran siswa.

MATARAM – Resiko menerima siswa melebihi rombongan belajar (rombel) sangat fatal. Siswa harus belajar tanpa bangku alias lesehan. Ini terjadi di sekolah favorit di Mataram yaitu SMAN 1 Mataram. Puluhan siswa di dua kelas belajar tanpa kursi, meja, dan papan tulis. Kondisi ini tentu membuat kenyamanan terganggu.

a�?Hanya kelas IPA 4 dan IPA 5 yang belajar lesehan,a�? kata guru setempat Komang pada Lombok Post, kemarin (12/8).

Dikatakan, belajar di lesehan terjadi akibat orangtua yang memaksakan anaknya bersekolah di SMAN 1. Pada PPDB, sekolah sudah mengusulkan ke Dinas Dikpora daya tampung siswa enam rombel dengan kapasitas maksimal 34 siswa tiap rombel.

a�?Untuk mengantisipasi membeludaknya pendaftar sekolah juga menyiapkan satu rombel. Namun, jumlah siswa yang daftar membeludak,a�? akunya.

Lebih lanjut, banyak wali murid memaksakan anaknya masuk. Adanya tekanan dan paksaan, membuat rombel menggelembung sampai sembilan kelas.

a�?Sedangkan ruang kelas yang disediakan hanya tujuh kelas. Fasilitas belajar di sekolah seperti bangku, kursi dan papan tulis untuk tujuh kelas,a�? sebutnya.

Ditambahkan, sekarang ini proses belajar mengajar kurang maksimal. Dalam satu rombongan belajar isinya 45 siswa. Mengatasi kekurangan kursi, sekolah sudah memesan kursi dan meja.

a�?Harusnya satu rombel maksimal 34 siswa,a�? katanya.

Terpisah Kepala SMAN 1 Mataran HL Fatwir Uzali mengakui, kondisi belajar di lesehan ini sangat mengganggu siswa dalam belajar. Siswa tidak konsentrasi melaksanakan proses belajar mengajar. Sekolah bakal berkoordinasi dengan wali murid. Sekolah bakal membeli fasilitas proses belajar mengajar (PBM) yang masih kurang.

a�?Kami sudah memesan kursi dan meja dengan ngutang dulu,a�? imbuhnya.

Ditambahkan, belajar lesehan diperkirakan terjadi sampai Agustus. Sebelum September, fasilitas belajar seperti kursi dan meja sudah ada di sekolah.

a�?Mudah-mudah kursi dan meja yang kami pesan cepat jadi,a�? harapnya.

Apa yang terjadi di SMAN 1 ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab dari sekolah semata. Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) ikut andil membuat siswa melebihi rombel. Sampai saat ini belum ada langkah serius dari dinas.

Tidak hanya SMAN 1 saja, ada juga sekolah lain yang belajar di musala. Kondisi ini bisa memantik protes dari orang tua. Membayar sama, namun anaknya malah belajar lesehan.(jay/r13)

Berita Lainnya

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost