Lombok Post
Selong

WargaTanjung Luar Antusias, Tapi Masih Mau Nangkap Hiu

DIALOG: Dialog antara warga dengan pemerintan dan LSM pemerhati lingkungan terkait persoalan hiu dan pari di Tanjung Luar, Lombok Timur Senin (10/8) malam lalu.

Pemerintah terus bergerak memberikan pemahaman pada masyarakat terkait aturan penangkapan hiu dan pari. Nelayan tradisonal Tanjung Luar, Lombok Timur (Lotim) yang bertahun-tahun memburu hewan dilindungi itu terlihat antusias. Namun mereka belum berencana menghentikan perburuan.

***

Sejumlah masa tumpah ruah di salah satu sudut Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Tanjung Luar malam itu. Saking penuhnya, terop yang dijajar untuk menampung warga tidak lagi muat. Banyak dari mereka yang akhirnya lesehan menyemuti area samping kiri dan kanan. Dalam hitungan panitia, tak kurang dari 1.300 warga yang menyemuti kawasan itu.

Bukan hendak berdemo, warga yang datang ingin mengikuti sosialisasi yang diadakan pemerintah dan sebuah LSM pemerhati lingkungan. Sosialisasi kali ini terkait larangan penangkapan sejumlah jenis hiu dan pari yang dilindungi. Antusiasme warga terlihat begitu jelas dalam kegiatan itu. Banyak interaksi yang terjadi.

Beragam pertanyaan diutarakan. Tanya jawabpun terjadi di malam yang dingin itu. Antusiasme warga terlihat tetap terjaga ketika pertunjukan wayang kulit oleh dalang HL Nasib AR mulai pentas. Kendati malam semakin larut, sangat sedikit yang beranjak dari kursi dan tempat duduknya masing-masing.

a�?a��Ini pendekatan berbeda yang coba kita lakukan pada masyarakat,a�? kata Tasywiruddin, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim.

Usai kegiatan dini hari waktu setempat, sejumlah nelayan mengaku mendapat pembelajaran baru. Wajar saja, mereka diedukasi langsung terkait hiu dan pari yang boleh dan tak boleh ditangkap. Pesan itu juga disampaikan secara gamblang dalam pementasan wayang kulit sang dalang kenamaan. Namun sejumlah nelayan mengatakan belum berencana menghentikan penangkapan.

a�?Itu mata pencaharian satu-satunya,a�? kata Ahmadi, salah seorang penangkap hiu dan pari.

Alasan ekonomi memang menjadi kendala utama. Sampai mereka menemukan pekerjaan dengan hasil lebih tinggi atau setidaknya sebanding, pekerjaan kali ini memang sulit untuk ditinggalkan. Banyak dari para nelayan tradisional ini yang sebenarnya mulai sadar. Bahkan beberapa ada yang mencoba peruntungan lain selain memburu dua mahluk terancam punah itu. Namun tak semua mendapat kesuksesan, sehingga sampai saat ini profesi itu masih saja digeluti.

a�?a��Kami juga takut kalau dipenjara, tapi inilah sumber penghibupan yang bisa kami usahakan,a�? kata Nasir yang mengisahkan dilemanya.

Sembari berharap ada perubahan. Mungkin cara-cara seperti ini perlu untuk terus dilakukan. Tak melulu dengan langkah persuasif damun lebih pada pendekatan yang langsung enyentuh para nelayan.

a�?a��Kami hanya perlu disadarkan dan dibina,a�? kata Daeng Bahtiar, tokoh masyarakat setempat. (wahyu)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost