Lombok Post
Headline Pendidikan

Sekolah Sedang Galau

TANPA BANGKU: Dua rombongan belajar di SMAN 1 Mataram belajar lesehan alias tanpa bangku. Kondisi ini tentu menganggu pembelajaran siswa.

MATARAM – Proses belajar mengajar di SMAN 1 Mataram secara lesehan alias tanpa bangku membuat sekolah bingung. Meski sekolah mengklaim sudah memesan kursi dan meja untuk siswa yang belajar lesehan, belum jelas kapan kursi dan meja itu datang.

Kepala SMAN 1 Mataram HL Fatwir Uzali pun mendatangi Dinas Dikpora Mataram menanyakan kepastian kapan mulai menarik pungutan kepada siswa baru.

Kepala SMAN 1 langsung menemui Sekdis Dikpora Mataram H Isin. Sekolah pun disebut tengah krisis atau tidak ada uang untuk pembiayaan operasional sekolah.

a�?Kapan kita mulai bisa memungut biaya kepada siswa baru,a�? tanyanya kepada Sekdis.

H Isin sendiri belum bisa memberikan sinyal terkait kapan uang komite sekolah jenjang SMA sederajat mulai ditarik. Tidak ingin diketahui secara detail. Akhirnya pembahasan terkait pungutan akan dilakukan dalam waktu dekat ini dengan mendatangkan pihak Dinas Dikpora Mataram.

Informasi yang dihimpun koran ini, sebagian besar sekolah, khususnya jenjang SMA/sederajat masih membaca waktu untuk menarik uang komite sekolah. Tahun lalu penarikan uang komite, bangunan, dan sebagainya dilakukan setelah tiga bulan proses belajar mengajar berjalan. Namun tahun ini informasi dihimpun koran satu bulan setelah proses belajar. Artinya dalam waktu dekat ini orang tua akan ditarik uang.

Terpisah, Kepala Dinas Dikpora Mataram H Sudenom melarang memungut untuk pembelian kursi dan meja kepada siswa baru. Untuk fasilitas sekolah sudah dianggarkan melalui dana APBD Perubahan yang kebetulan saat ini sedang dibahas di DPRD Kota Mataram. a�?Fasilitas pembelajaran kita sudah anggarkan melalui dana APBD Perubahan,a�? katanya.

Sudenom menyebut, dalam waktu dekat dana APBD perubahan ini bisa dicairkan untuk kebutuhan fasilitas pembelajaran di sekolah.

“Sekolah bersabar dalam memenuhi kebutuhan fasilitas yang saat ini masih kurang,” sambungnya.

Soal kurang kursi dan meja sesungguhnya tidak hanya dialami SMAN 1, ada sekolah lain mengalami hal serupa. Salah satunya SMPN 17 yang belajar di musala. (jay/r13)

Berita Lainnya

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost