Lombok Post
Headline Pendidikan

Bunda Selly Ngecek SMAN 1

SMAN 1
HARUS DIBERESKAN: Puluhan siswa baru di SMAN 1 Mataram yang belajar lesehan harus disiapkan kursi dan meja. Siswa tidak boleh dibiarkan terus seperti ini.
MATARAM – Dua kelas di SMAN 1 Mataram yang belajar lesehan memantik perhatian Penjabat Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayan. Bunda Selly pun langsung mengecek ke sekolah yang ada di Jalan Pendidikan. Sayang, saat Bunda Selly datang, Kepala SMAN 1 sedang tidak ditempat.
a�?Kami ingin memastikan benar tidak siswa ini belajar lesehan,a�? kata Penjabat Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani pada Lombok Post, kemarin (14/8).
Dijelaskan, siswa yang belajar lesehan sudah diantisipasi sekolah dengan cara membuat kursi dan meja.
a�?Insya Allah paling lambat dua pekan kedepan semua sudah bisa teratasi. Ini masalah teknis saja,a�? imbuh wanita berjilbab ini.
Kejadian ini lanjutnya, harus dicari akar permasalahannya. Kedepannya sekolah-sekolah harus ditingkatkan kualitasnya. Baik dari tenaga pengajar maupun sarana-prasarana sekolah. Siswa yang belajar lesehan, bakal menjadi perhatian serius Pemkot Mataram.
a�?Harus ada intervensi program. Juga mengenai sistem BL yang selama ini banyak jadi keluhan masyarakat kurang mampu,a�? ucapnya.
Keluhan masyarakat, lanjut Selly, mereka tidak bisa di sekolah favorit karena tidak memiliki uang yang cukup.
a�?Semua ini perlu kajian mendalam. Saya sebagai Penjabat Wali Kota Mataram harus bisa memutuskan itu,
Sekda, Asisten III dan Kadis Dikpora Mataram sedang membuat kajian itu,a�? katanya.
Kepala SMAN 1 HL Fatwir Uzali yang hendak dikonfirmasi bak hilang ditelan bumi. Saat dikonfirmasi via ponsel, tidak diangkat.
Padahal sebelumnya, Fatwir merengek ke Dinas Dikpora Mataram menanyakan kepastian menarik pungutan kepada siswa baru. Fatwir menemui Sekdis Dikpora Mataram H Isin. Fatwir menyebut sekolah tengah krisis atau tidak ada uang untuk pembiayaan operasional sekolah.
Proses pembelajaran tidak lazim tidak hanya terjadi di SMAN 1. Ada juga sekolah yang siswanya belajar di musala seperti SMPN 17. Selain itu beberapa sekolah menyulap laboratorium ataupun perpustakaan menjadi kelas. Tentu saja, kondisi pembelajarannya kurang layak. (jay/r13)

Berita Lainnya

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost