Lombok Post
Headline Politika

Mantan Atlet Pencak Silat yang Berpolitik

Legislator Muda
F2/Keluarga : Anggota DPRD Kota Mataram Fuad Sofian Bamasaq (tengan berkostum wisudawan) bersama keluarga besarnya

Silaturahmi dan banyak bergaul menjadi salah satu kunci meraih kesuksesan. Membangun jejaring dari tingkat bawah dalam waku lama juga perlu dilakukan terutama seorang politikus. Itulah yang dilakukan Fuad Sofian Bamasaq, politikus Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.

A�***

LAHIR dari keluarga fanatik terhadap presiden pertama RI Soekarno membuat Fuad memiliki bakat politik. Sebagai politikus muda yang baru pertama mewakili rakyat, ayah tiga orang anak ini sangat berhati-hati dalam bersikap. Apalagi menyangkut kepentingan masyarakat yang menurut dia harus diutamakan.

Memang bukan yang pertama bagi Fuad berhubungan langsung dengan masyarakat. Dia dikenal sebagai tokoh masyarakat sekaligus tokoh pemuda di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Sepak terjangnya selama ini cukup dikenal sebagai figur muda yang sangat peduli kepada masyarakat.

a�?Saya sudah 16 tahun menjabat kepala lingkungan Kampung Melayu Tengah, termasuk aktif di posyandu dan kegiatan kepemudaan lainnya,a�?ujar Fuad kepada Lombok Post kemarin.

Ditemui di kediamannya di Kampung Melayu Tengah, Fuad tampak santai bersama keluarganya. Dia tetap menjaga penampilannya dengan berpakaian rapi. Didampingi istrinya Dewi Parni, Fuad sangat ramah menerima kehadiran Lombok Post. Menurut dia media merupakan bagian dari mitra yang harus dirangkul sebagai alat kontrol publik.

Bagi dia, tidak mudah terjun ke dunia politik apalagi di garda depan mewakili masyarakat. Banyak godaan dan tantangan yang harus ditempuh. Bahkan tidak jarang dia menerima kritikan yang dinilai sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Sebelum memutuskan bertarung dalam pemilu legislatif 2014, Fuad meminta izin ibundanya dan istri tercinta. Dia berupaya maksimal untuk meyakinkan keluarganya bahwa politik itu sangat positif.

Terpilih sebagai anggota DPRD Mataram dengan 1.396 suara tidak membuatnya berubah. Meskipun dia sudah merogoh kocek hingga lebih kurang Rp 32 juta.

Banyak hal yang menurut dia harus dibenahi, terutama dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Tidak hanya pergaulan pemuda hingga pentingnya pendidikan bagi anak, yang paling penting perlu segera dicarikan solusinya adalah mengubah mental masyarakat.

Dia menceritakan bagaimana sejak duduk di banguk SMP sudah mulai bergelut di bidang sosial kemasyarakatan. Bahkan dia sudah mulai ikut terlibat berurusan dengan kepentingan publik sejak tahun 1985. a�?Ya karena ayah saya ketua RT jadi mau tidak mau sering ikut bertemu masyarakat,a�? kata pria berpostur besar tinggi ini.

Tidak cukup di situ, dia juga ikut terlibat dalam posyandu. Termasuk membina remaja dan pemuda dalam satu perguruan pencak silat Kuntao Dewa. Saat itu jumlah muridnya di perguruan pencak silat sebanyak 300 orang.

Tidak heran Fuad juga tercatat sebagai atlet pencak silat bahkan pernah berlaga di kancah nasional. Dia pun pernah masuk 10 besar kejuaraan pencak silat tingkat nasional pada 1993.

Fuad yang kini menjadi ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan menginginkan pemuda memiliki karakter tersendiri. Artinya pemuda harus cerdas, berprestasi, dan kreatif. Selain itu, pemuda juga harus berwawasan luas dan tidak punya semangat untuk meraih kesuksesan.

A�Sebagai warga Kota Mataram, khususnya Ampenan, dia juga menaruh cita-cita tinggi untuk kesejahteraan masyarakat. Menurut dia, Ampenan memiliki sejarah panjang sebagai kawasan yang menjadi pintu gerbang perekonomian. Atas dasar itulah dia optimistis ke depannya Ampenan dapat kembali menjadi kawasan strategis terutama disektor pariwisata.

A�Penataan kawasan pesisir menjadi salah satu target perjuangannya. Terlebih kehidupan masyarakat pesisir terutama di Kota Mataram didorong menjadi perhatian serius pemerintah. a�?Mereka itu harus mendapat perhatian, saya akan mendorong agar kedepannya tingkat pereokonomian masyarakat pesisir pantai ini meningkat,a�? tandas anggota Komisi I DPRD Mataram ini.

A�Adapun di bidang politik, Fuad berkeinginan mendorong pemuda di wilayahnya untuk belajar berpolitik. Terlebih PDI Perjuangan saat ini menjadi salah satu partai politik yang memiliki sekolah politik bagi kadernya.

Pendidikan politik bagi Fuad, memang harus dibangun dari tingkat akar rumput. Dengan begitu, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) NTB akan terut meningkat.

Dia mengaku banyak hal yang dia pelajari selama terjun di dunia politik. Salah satunya menyangkut kesadaran individu untuk lebih banyak berbuat untuk masyarakat.

a�?Khaerunnasi Anfaa��uhum Linnas, sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain. Seharusnya itu yang dituju sehingga niat awalnya pun dalam berpolitik sudah bagus,a�? ungkap Fuad yang sudah delapan tahun berkiprah sebagai komite sekolah di SMP 3 Mataram.

Sementara itu menurut istrinya Dewi Parni, Fuad merupakan sosok yang memiliki keinginan kuat untuk berubah. Awalnya dia khawatir suaminya tidak mampu menjalankan amanah rakyat sebagai legislator. Hanya saja, berbekal keyakinan dan niatan untuk berbuat bagi kepentingan masyarakat Dewi pun mengizinkannya.

Sebagai istri pejabat, dia mengaku ikut membantu tugas-tugas suaminya terutama terkait hubungan sosial kemasyarakatan. a�?Toh bukan kali ini saja dia bergaul dan berhubungan dengan masyarakat luas. Saya berharap dia lebih mampu mengemban amanah dengan cara istiqomah berjuang untuk rakyat,a�? ungkap dia. (tan/r3)

Berita Lainnya

HBK Dukung Program Zul-Rohmi

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost