Lombok Post
Ekonomi Bisnis

UKM Lingkar Tambang Bergantung pada Newmont

ukm
dok. www.jawapos.com

SUMBAWA – Para pelaku Usaha Kecil Mikro (UKM) di sekitar Pelabuhan Benete dan Desa Maluk, Sumbawa Barat terancam gulung tikar. Usaha yang sudah mereka geluti selama belasan tahun akan tergerus, bila izin ekspor PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) tidak diperpanjang.

Mereka pernah merasakan dampak tidak beroperasinya PT NNT beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut membuat ekonomi masyarakat sekitar tambang tidak berputar.

a�?Saat Newmont tiga bulan tidak beroperasi, kami nyaris gulung tikar, sekarang sudah bisa bernafas lagi,a�? terang pedagang gorengan Hendra Mutji di Pelabuhan Benete kemarin.

Mutji menuturkan, beroperasinya PT NNT membawa dampak besar bagi pelaku UKM. Dirinya saja, mampu meraup omzet perhari hingga Rp 2 juta.
a�?Kalau izin ekspor Newmont berhenti, bisa-bisa pendapatan saya jatuh,a�? ujarnya.

Diakui, ketika PT NNT tidak beroperasi, sebagian besar pelaku UKM berhenti bekerja. Untuk menghidupi keluarganya mereka mencari pekerjaan lainnya. Namun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan besarnya kebutuhan hidup sehari-hari.

Pedagang kuliner di Desa Benete, Kecamatan Nangkalanung Ningsih juga membenarkan, jika UMKM di lingkar tambang tergantung kegiatan PT NNT. Jika PT NNT berhenti, UMKM bakal tergerus.

a�?Konsumen kami tidak hanya karyawan Newmont, tapi juga perusahaan rekanannya. Kalau Newmont berhenti beroperasi, semua karyawan tidak ada yang bekerja, kami juga kena imbas,a�? tandasnya.

Namun, bila pemerintah tetap tidak mengizinkan PT NNT melakukan ekspor, harus ada upaya lain untuk menyelamatkan UKM yang ada. Salah satunya melalui pembenahan pariwisata di Benete. Dengan pembenahan pariwisata, diharapkan banyak wisatawan yang datang ke Benete.

a�?Kami harap beberapa fasilitas disediakan, seperti toilet umum, dan sarana kebersihan,a�? terangnya.

Diakui, peminat pengunjung ke pantai Benete cukup besar. Yang datang tidak hanya wisatawan domestik, melainkan wisatawan asing.

Mereka ini banyak mengeluhkan tidak adanya fasilitas yang lengkap, seperti wifi, toilet umum, dan suasana pantai yang monoton.

Sementara itu, pengusaha bus PT Gita Usaha Madani (GUM) H Abdul Gani juga mengaku khawatir jika PT NNT berhenti beroperasi. Selama ini ia memiliki 400 karyawan yang bekerja di PT NNT. Baik sebagai sopir bus, tukang bersih-bersih town site, kantin, hingga suplier buah-buahan.

a�?Kalau berhenti, mereka akan kemana. Kami harap pemerintah bisa mempertimbangkan dan mencari solusinya,a�? harapnya. (ewi/r4)

Berita Lainnya

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Soft Opening Jannah Tour and Travel Meriah

Redaksi LombokPost

Masyarakat Didorong Gunakan Produk Lokal

Redaksi LombokPost

FWD Life Resmi Hadir di Lombok

Redaksi Lombok Post

Golden Palace Hotel Dikunjungi Wakil Duta Besar Australia

Redaksi Lombok Post

BI Sosialisasi Kartu GPN di Kota Bima

Redaksi Lombok Post

Distribusi Kartu Berlogo GPN Dekati Target

Redaksi LombokPost

Avian Brands Peduli Bangun Kembali Lombok

Redaksi Lombok Post

Harga Bahan Bangunan Naik

Redaksi LombokPost