Lombok Post
Ekonomi Bisnis Headline

Perajin Tempe Menjerit

TEMPE
PRODUKSI: Salah satu perajin tempe H Mustafa di Kekalik sedang mempersiapkan pencetakan tempe

MATARAM – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga level Rp 14 ribu, berimbas pada naiknya harga kedelai. Hal ini dikeluhkan oleh para perajin tempe di Kekalik dan Abian Tubuh.

Perajin tempe di Kekalik H Mustafa mengeluh dengan melonjaknya harga kedelai impor yang naik drastis. Semula dirinya membeli kedelai seharga Rp 7.000 per kilogram (kg), kini dirinya harus membeli kedelai seharga Rp 7.500 per kg-nya.
a�?Meskipun naiknya cuma Rp 500 tapi sangat terasa bagi saya, soalnya setiap kali mendatangkan kedelai bisa mencapai 200 kg setiap 3 hari sekali,a�? ucap Mustafa.

Dia menambahkan, artinya setiap kali dia mendatangkan kedelai, dirinya harus menambah biaya produksi hampir mencapai Rp 500 ribu. Namun, untuk mengurangi kerugian, dirinya berencana akan memperkecil ukuran tempe yang dia buat.

a�?Untuk saat ini harganya belum saya naikan, tidak enak pada pelanggan. Tapi saya berencana akan mengecilkan ukuran jika nantinya harga kedelai tak kunjung turun,a�? terang pria yang sudah menjadi perajin tempe sejak 20 tahun lalu itu.

Perajin tempe lainnya Slamet di Abian Tubuh mengatakan, hingga kini dirinya masih memproduksi tempe menggunakan kedelai impor dari Amerika. Pasalnya, jika menggunakan bahan kedelai lokal ketersediaannya di pasar masih sangat sedikit.

a�?Sebenarnya pakai yang lokal bisa, walau dari sisi kualitas masih kurang. Melihat harganya, jauh lebih murah kita juga ingin pakai lokal,a�? terangnya.

Menurutnya, petani lokal di NTB masih enggan menanam kedelai. Mereka cenderung lebih memilih menanam bawang merah atau lainnya, sementara bantuan benih kedelai yang diberikan pemerintah justru dijual kembali oleh petani.
a�?Ada yang saya temui seperti itu, petani malas nanam kedelai lokal karena harganya rendah,a�? ungkapnya.

Mewakili perajin tempe lainnya, ia berharap pemerintah pusat segera berupaya menurunkan harga kedelai impor. Sedangkan pemerintah daerah, memberikan pembinaan, perhatian pada petani agar mau menanam kedelai.
a�?Kalau sudah pakai kedelai lokal, kita tidak perlu lagi mengharapkan impor seperti ini,a�? tandasnya. (ewi/r4)

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost