Lombok Post
Selong

Merariq Kodeq Biang Kerok Masalah

SOSIALISASI: Pengurus P2TP2A Lombok Timur saat melakukan konsolidasi di Selong, kemarin (27/8).

SELONG – Merariq Kodeq alias nikah dini masih banyak terjadi di Lombok Timur (Lotim). Data 2014 menunjukkan dari 2.036 perkawinan yang tercatat, 562 diantaranya dilakukan perempuan yang masih berusia kurang dari 19 tahun.

a�?a��Itu setara dengan 28,21 persen,a�? kata H Suroto, Kepala Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Lotim, kemarin (27/8).

Saat ini jumlah itu belum menunjukkan tanda-tanda akan mengalami penurunan. Hingga tengah tahun ini saja, tercatat pernikahan yang dilakukan perempuan di bawah umur sudah mencapai 27,6 persen. Bahkan di Kecamatan Jerowaru, dari 335 pernikahan yang tercatat, 128 diantaranya tergolong merariq kodeq, setara dengan 38,21 persen. Secara nasional, Lotim memang bukan yang tertinggi, namun angka yang ada menurutnya harus disikapi dengan penuh kehati-hatian.

a�?a��Ini angkanya tidak bagus walaupun kita bukan yang teratas,a�? ujarnya.

Menurutnya, pernikahan usia dini memberikan banyak pengaruh negatif dikemudian hari. Yang pertama tentu saja sulit tercapainya keluarga sejahtera. Karena dilakukan saat masih sangat belia, kerap kali rumah tangga itu mengalami gonjang-ganjing yang berakhir pada perceraian hanya dalam hitungan bulan.

a�?a��Habis bulan madu tiga bulan, terus cerai, kan tidak lucu,a�? katanya.

Persoalan lain yang tak bisa dianggap sepele ialah Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang hingga kini masih ditemukan. Pasangan yang belum matang dalam membuat perencanaan kerap terjebak dengan hal ini.

Kalaupun mampu bertahan mereka kerap harus menghadapi beban eknomi dan sosial. Mereka yang menikah muda sebagian besar warga desa dengan latar ekonomi yang pas-pasan, sehingga semakin menderita saat sudah menikah. Karena pernikahan terlalu dini, bisa juga mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk yang sangat signifikan karena tingginya angka kelahiran yang tak terkendali. a�?Bagaimana mau sejahtera kalau seperti ini,a�? katanya.

Hal itu dibenarkan Triyati, Program Asisten Sub Office Bakti Mampu NTB. Penggiat perlindungan perempuan dan anak itu mengatakan pernikahan dini terbukti menciptakan beragam persoalan dikemudian hari. Karena itu harus dicarikan solusi kongkrit agar hal yang seolah menjadi budaya di daerah ini tak terus terjadi dan makin berkembang.

a�?a��Ini harus diatasi bersama,a�? katanya.

Peranan sekolah sebagai lembaga pendidik menurutnya sangat sangat penting. Tak sebatas mentrasnfer ilmu, jika sekolah bisa mengambil peran lebih, persoalan ini diyakini dapat ditekan. Namun yang terjadi selama ini, sekolah belum maksimal dalam mencegah pernikahan dini tersebut. Bahkan dalam beberapa kasus terkesan abai dan membiarkan.

a�?a��Kan sering kita dengar anak tak ikut ujian karena keburu menikah,a�? katanya. (yuk/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost