Lombok Post
Selong

Bertaruh Nyawa Demi Uang Receh

box
LEMPAR: Seorang penumpang Kapal Fery melemparkan uang kepada sejumlah bocah yang sudah menunggu di bawah, Minggu (30/8).

Di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur (Lotim) sejumlah anak dijuluki sebagai bocah koin. Itu lantaran mereka siap berenang di dekat kapal demi uang receh yang dilemparkan penumpang. Anak-anak ini seolah rela bertaruh nyawa demi uang yang tak seberapa.

***
a�?a��PAK, buk lempar koinnya,a�? teriakan sayup-sayup yang terdengar dari kapal fery yang koran ini tumpangi. Sesaat setelah bersandar di Pelabuhan Kayangan, suara itu makin keras. Sejumlah penumpang lain kemudian menoleh ke luar jendela. Ternyata ada sejumlah anak yang berteriak dari luar.

Mereka dengan santainya berenang di dekat kapal bermuatan ribuan ton tersebut. Padahal ini bukan tanpa risiko. Kapal dalam kondisi hidup menghasilkan gelombang dari baling-baling yang bergerak. Bukan tidak mungkin jika mereka tersedot ke dalamnya. Tapi tak terlihat takut sedikitpun pada wajah anak-anak yang umumnya masih duduk di bangku sekolah dasar itu.

Begitu uang dilemparkan, saat itu juga mereka berebut, berenang secepat mungkin ke arah uang. Beradu cepat menyelam bersama koin yang dilempar penumpang. Karena itulah mereka dijuluki bocah koin. Namun demikian tak sedikit pengunjung yang melempar uang kertas.

Berapa pemasukan bocah-bocah ini setiap hari? Tak ada ketentuan pasti. Jika sedang untung bisa mencapai puluhan ribu. Namun bisa juga tidak sepeserpun. Bergantung keahlian berenang dan keberuntungan saat itu.

Andi salah seorang bocah yang masih duduk di kelas lima mengatakan ia sudah melakukan hal itu sejak tiga tahun silam. Dia yang memang putra nelayan awalnya diajak teman bermainnya untuk mengisi waktu senggang. Karena ada uang yang didapat, bocah itu terus melakukannya hingga kini. Biasanya ia mulai menjadi bocah koin sehabis pulang sekolah. Tak jarang itu dilakukan hingga menjelang magrib. a�?a��Biasanya cuman dapat buat beli jajan saja,a�? jawabnya polos.

Soal risiko, bukannya tak ada. Temannya bahkan pernah mengalami patah tulang. Saat itu, ketika melompat dari jembatan dermaga, kakinya tersangkut dan membentur beton.

Lebih dari itu risiko kematian bisa saja dialami. Lautan tak bisa diterka begitu saja. Bagaimana kalau mereka tiba-tiba kram atau kehabisan nafas saat menyelam? Itu tantangan yang setiap saat harus dihadapi.

a�?a��Makanya kalau batuk pilek hampir tiap bulan,a�? jawab Ridwan, perenang lainnya.

Anak-anak memang tak terlalu peduli soal risiko. Kesenangan yang didapat serta tambahan uang jajan mengalahkan segalanya. (Wahyu Prihadi/Selong)

Berita Lainnya

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost

SKD Selesai, Banyak Formasi CPNS Lowong

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Cegah Kematian Ibu Hamil dan Bayi

Redaksi LombokPost

ADBMI Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost