Lombok Post
Kriminal

NTB Peringkat Lima Nasional

NTB
SAMBUTAN: Arist Merdeka Sirait memberikan sambutan dalam acara peringatan Hari Anak Nasional Kota Mataram di depan Pendopo Wali Kota Mataram, kemarin.

MATARAM – Kekerasan terhadap anak masih marak terjadi. NTB pun tak luput dari masalah tersebut. Hal itu justru banyak datang dari orang terdekat mereka.

Ada beberapa situasi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi anak. Sehingga tanpa disadari mengatakan atau melakukan sesuatu yang dapat membahayakan atau melukai anak. Biasanya tanpa alasan yang jelas.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait mengajak semua piihak untuk memutus mata rantai kekerasan tersebut. a�?Sesuai pesan Pak Presiden di Istana Bogor, mari jaga dan bahagiakan anak-anak Indonesia,a�? ujarnya pada Lombok Post.

Menurutnya, untuk memutus mata rantai tersebut, perlu komitmen dari semua pihak. Komitmen paling utama berada di orang tua anak. Sebab mereka sangat berperan penting dalam perlindungan keselamatan anak. a�?Hal tersebut juga yang menjadi komitmen presiden,a�? kata Arist.

Arist menambahkan, ada tiga komitmen yang harus disepakati. Yakni, stop kekerasan, narkoba dan pornografi. Ketiga hal tersebut dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Pemberantasan terhadap ketiganya merupakan tanggung jawab dari semua pihak. Orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah daerah dan pusat. Mereka harus bisa memutus mata rantai kekerasan mulai dari rumah sekolah, ruang publik, hingga tempat bermain anak.

a�?Termasuk panti dan pondok-pondok,a�? lanjutnya.

Arist mengatakan, kekerasan terhadap anak terjadi hampir di seluruh provinsi di Indonesia. Paling marak terjadi adalah kekerasan seksual. Banyak predator seksual yang berkeliaran di berbagai kota. Dari 34 Provinsi di Indonesia, NTB berada di posisi ke lima tingkat kasus kekerasan anak.

a�?Jadi saya mendukung secara penuh kampanye nasional tentang bagaimana memutus mata rantai kekerasan terhadap anak,a�? pungkasnya.

Arist juga membeberkan kekerasan seksual terhadap remaja banyak dilakukan oleh warga negara asing (WNA). Di NTB, kasus seperti ini banyak terjadi di berbagai daerah. Faktor utamanya adalah kemiskinan. Banyak para remaja miskin dimanfaatkan oleh WNA sebagai ajang pelampiasan nafsu seksual. Hal ini tentu membuat ancaman HIV/AIDS bagi remaja.

a�?Pemerintah wajib memerangi setiap bentuk kekerasan terhadap anak,a�? tegasnya.

Ia juga menuturkan, Komnas Perlindungan anak sedang fokus pada kasus yang terjadi di Lombok Barat, khususnya Senggigi. Senggigi merupakan surga Pedofilia bagi WNA. Ia telah mendapat laporan jika kasus eksploitasi terhadap remaja cukup tinggi.

Banyak remaja yang akan menjadi korban penyakit seksual. Salah satunya HIV/AIDS dan Incest (perkawinan sedarah). a�?Sejauh ini sudah tercatat sekitar 6.000 orang korban Incest oleh kakek, paman, bahkan bapak sendiri,a�? aku Arist.

Sebagai langkah antisipasi, Arist akan mengadakan pertemuan dengan pemerintah daerah. Itu dalam rangka mencari solusi permasalahan tersebut. Masyarakat maupun pemerintah harus menyatakan perang melawan kekerasan seksual anak. Terutama yang dilakukan oleh WNA.

Kasus kekerasan terhadap anak tidak seperti kasus kebakaran. Ini sudah menjadi fenomena ancaman bagi anak-anak dan remaja. Khususnya anak-anak dan remaja miskin. Arist juga mengaku, akan mengadakan pertemuan dalam dua atau tiga hari mendatang. Hal itu karena NTB khususnya Lobar sudah berstatus darurat kejahatan seksualitas.

a�?Lombok Barat sudah darurat kejahatan seksual, darurat pernikahan dini, dan kasus incest,a�? tegas Kepala Komnas Perlindungan Anak RI tersebut.(cr-fer/r6)

Berita Lainnya

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost

Ombudsman RI Pantau Kasus Buku Kemenag

Redaksi LombokPost

Dana Rehabilitasi Sekolah Melonjak Rp 1,2 Miliar

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Gubernur Yakin Kemampuan Brimob

Redaksi LombokPost

Polda Kantongi Data Baru Kasus Pengadaan Buku Madrasah

Redaksi LombokPost

Berkas Banding Merger BPR Dilimpahkan

Redaksi LombokPost

Utamakan Langkah Preventif

Redaksi LombokPost