Lombok Post
NASIONAL

Jamaah Tak Bisa Pindah Kloter

HAJI
Para calon jamaah haji Jakarta melakukan latihan ibadah haji di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (08/08/2015).--Foto: Imam Husein/Jawa Pos

Madinah – Dampak keterlambatan visa terus diantisipasi petugas PPIH Madinah dan Arab Saudi. Yang terbaru adalah keinginan para jamaah saat pulang sesuai dengan kloter awal, sebelum ada masalah visa. Alasannya, mereka ingin pulang bersama dengan jamaah haji daerahnya atau rombongannya.

c

Pindah kloter yang dimaksud adalah ketika seorang jamaah tidak bisa berangkat karena visa terlambat, otomatis tempatnya diganti dengan jamaah yang sudah memiliki visa. Saat pulang, jamaah tersebut ingin kembali ke kloter awal karena ingin bergabung dengan saudara, rombongan, atau teman sedaerah. Begitu pula dengan jamaah pengganti. Tentu saja pindah kloter itu menjadi masalah pelik dalam pelaksanaannya.

Dampak lain diungkapkan Edayanti Dasril Munir Kasi Kedatangan dan Pemulangan Jamaah Daker Bandara (Madinah dan Jeddah). Menurut dia, dengan pindah kloter akan terjadi masalah lama tinggal dan penerbangan. Menurut dia, kesepakatan antara kemenag dengan pihak airline di tanah air dan Saudi Arabia, proses mutasi kloter baru dimungkinkan dengan dua alasan. Pertama penggabungan karena sakit, suami istri, dan karena tugas. Sehingga tak ada perubahan manifes penerbangan sejak awal.

a�?Sementara masalah sekarang adalah adanya problem visa. Kalau jamaah yang kloter asli mau pulang dulu, nggak masalah. Tapi kalau yang duluan (pengganti) lalu minta pulang sesuai kloternya yang lebih akhir, itu yang masalah. Ada overstay, kelebihan izin tinggal,a�? tuturnya.

Menurut dia, masa izin tinggal jamaah haji yang telah disepakati dengan pihak penerbangan baik Garuda maupun Saudi Airline, paling lama adalah 39 hari. Lebih dari itu akan dikenakan penalti 50 ribu USD per flight yang harus ditanggung oleh pihak penerbangan. Padahal, kelebihan itu bukan disebabkan oleh pihak penerbangan.

a�?Karena itu, jika ada perubahan kloter yang berdampak pada perubahan manifes, ya saya harus membicarakan lagi dengan pihak penerbangan,a�? ujarnya.

Edayanti menegaskan masa tinggal jamaah tidak bisa dipermainkan. Karena semua terkoneksi dengan siskohat. Sehingga, dengan cepat diketahui masa tinggal jamaah sudah melebihi 39 hari atau tidak.

a�?Kalau dia berangkat di akhir kemudian dia pulang cepat itu gak masalah dia dianggap tanazul, tapi kalau dia berangkat awal pulang belakangan itu terjadi kelebihan masa tinggal jamaah di situ,a�? tegasnya lagi.

Terlebih lagi, jika itu terjadi pada jamaah yang gelombang kedua. Mereka mendarat di Jeddah dan pulang melalui Madinah. Di Madinah mereka harus melakukan arbain setelah melaksanakan ibadah haji. Sementara yang pulang mereka yang ada di kloter gelombang pertama yang sudah melaksanakan arbain duluan.

a�?Masak disuruh arbain lagi. Ini yang harus dipikirkan,a�? tuturnya.
Sementara itu, kedatangan gelombang pertama jamaah calon haji yang mendarat di Madinah berakhir kemarin. Hingga siang, sudah ada 172 kloter atau 71.884 jamaah yang sudah tiba di Madinah.Hingga dini hari nanti, diperkirakan 184 kloter akan tiba di Madinah. Sedangkan hari ini gelombang kedua mulai datang langsung ke Jeddah.

Jamaah yang sudah bergerak ke Makkah sebanyak 48 kloter atau 19.620 orang. Sedangkan yang masih melakuan arbain di Madinah sebanyak 124 kloter atau 52.245 orang. Semua jamaah akan meninggalkan Madinah paling lambat 13 September, setelah semua menyelesaikan ibadah salat 40 waktu di Masjid Nabawi.

Pergerakan jamaah dari Pemondokan di Madinah ke Makkah, kemarin sempat terkendala. Jamaah sudah mengenakan pakaian ihram sejak dari pagi, namun baru berangkat ke Bir Ali siang hari sekitar pukul 12.00 . Hal itu terjadi karena bus yang akan mengangkut mereka ada yang terlambat.

a�?Busnya sempat terlambat,a�? kata Angrudi La, Pengendali Transportasi Daker Madinah. Ini terjadi pada jamaah dari Padang yang menginap di hotel Taibah Mubarak. Sehingga jamaah menunggu hingga lima jam.

Tak hanya itu, karena bus tak bisa mengangkut koper-koper jamaah, maka banyak barang bawaan jamaah yang telantar di depan hotel. Padahal, jamaah sudah melakukan perjalanan ke Makkah. Ratusan koper dan tas tenteng jamaah yang tidak terangkut tergeletak di jalan depan Hotel Fayroz Al Masi.

Petugas Kementerian Haji Arab Saudi yang bertanggung jawab pada koper-koper tersebut sempat marah kepada sopir truk yang baru mengangkut barang jamaah lima jam setelahnya.

a�?Ini susahnya kalau jamaah menggunakan bus yang standar. Bagasinya nggak ada, ya harus pakai truk ngangkutnya. Padahal kalau bus bagus, bagasi langsung di bawah bus nya,a�? ujar seorang petugas haji di Madinah.(end/r5)

Berita Lainnya

Lion Air JT 610 Bermasalah di Bali, Jatuh di Karawang

Redaksi LombokPost

16 Instansi Belum Umumkan Seleksi Administrasi CPNS

Redaksi Lombok Post

Jokowi Beri Sinyal Subsidi BPJS Kesehatan

Redaksi LombokPost

Tes CPNS Baru untuk Instansi Pusat

Redaksi LombokPost

Pendaftar CPNS Segera Lapor Dukcapil Kalau Data NIK Tidak Muncul Saat Daftar

Redaksi Lombok Post

Separo Kuota CPNS untuk Pendidik

Redaksi Lombok Post

Sampai Jumpa di Guangzhou 2022

Redaksi Lombok Post

Tiga Jamaah Haji NTB Meninggal di Tanah Suci

Redaksi Lombok Post

Busana Adat Warnai Peringatan HUT RI di Istana

Redaksi Lombok Post