Lombok Post
Bima - Dompu

Terlilit Hutang, Bayi 3,5 Bulan Ikut Jualan

box
GENDONG BAYI: Ana, seorang pedagang sayur di Pasar Ama Hami berjualan sambil menggendong bayinya.

Dalam seribu hari pertama perkembangan seorang anak, dibutuhkan pengawasan yang ekstra. Baik makanannya, kesehatan maupun lingkungannya. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Ana, 26 tahun warga Bina Baru. Bayinya yang baru berumur tiga bulan setengah pun, harus ikut jualan. Berikut kisahnya.

***

SEJATINYA, seorang bayi harus mendapatkan perawatan yang layak. Malaikat kecil itu harus dijaga dan diawasi dengan sepenuh hati.

Kasih sayang yang diberikan pun haruslah tulus. Namun bentuk kasih sayang setiap ibu ke sang buah hatinya tentu saja beragam.

Seperti yang terjadi pada Ika, bayi 3,5 bulan. Dia terpaksa harus ikut jualan bersama ibunya di Pasar Ama Hami.

Tubuh mungilnya pun harus berpanas-panas di bawah teriknya matahari.

Belum lagi suasana ramai pasar, tentu saja membuat bayi tersebut tidak bisa tidur lelap.

Ana terpaksa membawa serta bayinya jualan di pasar. Termasuk kakaknya yang berusia 1,8 tahun. Malah kakaknya lebih parah, saat usia tujuh hari sudah dibawa ke pasar.

Semua itu dilakukan Ana, karena tidak ada tempat penitipan untuk kedua buah hatinya itu.

Tidak heran, saat memberikan asi kepada buah hatinya, Ana juga harus melayani pembeli. Suaminya yang juga bekerja sebagai pedagang, membuat mereka menghabiskan waktu di Pasar.

Terkadang, kedua buah hatinya itu harus dimandikan saat subuh. Jika cuaca sangat dingin, dua gadis mungil itu tidak dimandikan.

a�?Saya harus mandikan mereka subuh-subuh sebelum ke pasar,a�? tuturnya pada Radar Tambora, Juma��at (4/9).

Kondisi seperti ini harus dia lewati setiap hari. Karena terbebani hutang, membuatnya harus bekerja keras. Apalagi uang yang dipimjam itu dari rentenir. Setiap hari harus dia bayar.

Penagih hutang terus mendatanginya membuatnya tidak nyaman. Sehingga diapun harus tetap jualan, meski harus membawa serta dua buah hatinya ke pasar.

Ana merasa kasihan terhadap kedua buah hatinya itu. Mereka harus melewati hari-hari di lingkungan Pasar. Ia khawatir, lingkungan seperti ini akan berdampak buruk bagi pertumbuhan kedua anaknya ke depan.

Namun apa hendak dikata, keadaan yang mengharuskan mereka seperti itu.

Aktifitas sebagai pedagang sudah ia jalani sejak duduk di bangku SMA. Saat itu ia membantu ibunya yang juga berprofesi sebagai pedagang.

Saat bertemu dengan suami pun, mereka sama-sama sebagai pedagang.

Penghasilannya sebagai pedagang sayur yang bisa ia tabung setiap harinya sebesar Rp 100 ribu. Penghasilan itu di luar dari tagihan hutang dari rentenir.

Ia berharap ke depan mendapat tempat jualan di Pasar Ama Hami. Sehingga tidak lagi berjualan di emperan seperti saat ini.

Ia merasa kasihan sama anaknya yang harus tidur kepanasan. Apalagi tempat jualannya belum dipasang terop. Panas matahari langsung ke kulit sang bayi.

Jika saja ia dapat tempat di bagian dalam, pasti anaknya tidak akan kepanasan. Sang buah hati pun sangat mengerti dengan kondisi ibunya. Mereka tidak pernah rewel. (Yety Safriati/Bima)

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara