Lombok Post
Headline Metropolis

Mataram Ikut Berduka

KUTUK KEKERASAN: Masyarakat peduli perempuan dan anak NTB menyalakan lilin di depan Taman Budaya, Jumat malam (7/5). Aksi #Nyala Untuk Yuyun ini dilakukan sebagai bentuk simpati terhadap siswi SMP di Bengkulu yang tewas diperkosa 14 orang. Mereka mengutuk setiap tindak kekerasan terhadap anak. Dan menuntut diberlakukannya hukum kebiri bagi pelaku kejahatan seksual anak.

MATARAM – Ratusan warga menyalakan lilin di depan Taman Budaya Provinsi NTB, tadi malam (6/5). Aksi ini dibarengi dengan doa bersama untuk Yy (inisial, Red), bocah 14 tahun yang dibunuh usai menerima tindakan kekerasan sesksual di Bengkulu.

Melalui aksi ini warga Mataram menunjukkan kepeduliannya dan mendesak DPR segera membuat undang-undang tentang Perlindungan Anak dan Perempuan dari kekerasan seksual maupun fisik.

“Saya terus terang merasa terpanggil. Kami sedih dan ikut berduka atas apa yang menimpa Yy. Saya tidak habis pikir, kenapa kejadian mengenaskan seperti itu bisa menimpa anak SMP,” kata Baiq Bintari, salah seorang remaja Mataram yang ikut dalam aksi itu.

Ia berharap, kejadian ini membuka mata pemerintah. Apalagi kasus kekerasan di NTB sudah sering terjadi. “Saya berharap apa yang terjadi kepada Yy jangan sampai terjadi di NTB,” katanya.

Dalam aksi ini, anak-anak, remaja hingga orang dewasa yang hadir berkumpul membentuk lingkaran. Beberapa kegiatan juga dilakukan sebagai bentuk kepedulian. Mulai dari penandatanganan dekrit, tabur bunga hingga pembacaan puisi renungan buat Yy.

Puisi dibacakan Azhar Zaini,A�direktur Yayasan Gagas yang juga bergerak di bidang perlindungan anak. Dalam puisi yang dibacakannya diceritakan bagaimana fenomena yang dialami Yy seolah menjadi hal yang biasa. Tidak ada perhatian lebihA� maupun keseriusan menindaklanjuti kasus ini.

“Ini adalah satu dari sekian ribu anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual. Negara kita ini sudah masuk masa darurat kekerasan seksual,” jelas Azhar Zaini.

Korban kekerasan seksual dari hari per hari terus bertambah. Bukan hanya kuantitas, melainkan kualitas kejahatannya juga makin tak masuk akal. “Kini bukan hanya pemerkosaan saja, bahkan pembunuhan,” ujar Azhar dengan nada lantang mengecam aksi 14 pelaku pemerkosa dan pembunuh Yy.

Karenanya, melalui aksi ini, ia dan warga Mataram yang hadir menyampaikan ke DPR dan pemerintah agar segara megesahkan Undang-undang Antikekerasan Seksual. Dimana rancangannya sudah ada namun belum masuk prolegnas dan belum dianggap priorotas.

Bersama komunitas remaja dan masyarakat peduli anak di Mataram dan NTB, Azhar berharap bisa memperjuangkan anak-anak dan peremuan NTB. Jangan sampai ada kasus tindak kekerasan sesksual berikutnya.

Azhar mengatakan, berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak, NTB berada di urutan 10 besar kasus kekerasan seksual terhadap anak. “Bukan hanya bagi anak perempuan, tapi juga anak laki-laki yang kerap jadi korban kekerasan para homoseksual,” bebernya.

Pembina Dewan Anak dan LPA Kota Mataram Nyayu Ernawati yang menggagas acara ini berharap kasus yang menimpa Yy, bisa membuka mata semua orang, bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak ini nyata dan ada. Untuk itu ia meminta semua pihak termasuk masyarakat mau terlibat mencegah terjadinya hal ini.

“Yang membuat saya sangat berduka, anak-anak juga bukan hanya korban tetapi juga sudah mulai jadi pelaku. Ini yang membuat kami sangat prihatin,” ujarnya.

Apalagi, belum lama ini Nyayu mengungkapkan di NTB telah ditemukan kasus kekerasan seksual terhadap anak laki-laki. Dia khawatir nantinya anak-anak yang jadi korban homoseksual akan trauma. Bahkan bukan tidak mungkin menyebabkan menularnya hal ini di masa depan.A� A�”Ini sangat mengerikan. Ironisnya ini dilakukan warga asing,” kesalnya.

Untuk itu, ia berharap gerakan aksi peduli Yy di seluruh Indonesia bisa mendesak pemerintah untuk lebih serius lagi dan memberikan perhatian lebih terhadap kasus kekerasan seksual. Agar kasus seperti ini bisa segera dihentikan.

“Kasus kekerasan seksual bisa dicegah apabila terjadi komunikasi yang baik dalam keluarga. Masyarakat juga harus terlibat, meskipun bukan anaknya, kalau melihat ada yang mencurigakan segera dilaporkan dan ditindak,” katanya. (ton/r1)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost