Lombok Post
Feature

David, Memetik Buah Latihan Soal Tiga Bulan

Polycarpus David Subroto
Polycarpus David Subroto

Polycarpus David Subroto muncul sebagai siswa NTB peraih nilai tertinggi UN bidang IPA. Prestasinya siswa SMA 1 Mataram ini dicapai dengan kerja keras. Tiga bulan sebelum UN, dia telah menempa dan mempersiapkan diri.

***

SENYUM bahagia terpancar dari wajah Polycarpus David Subroto. Kerja kerasnya terbayar. Tak sia-sia dia membuang waktu bermain. Kini hasil telah dia petik.

Di hadapan Kepala SMA 1 Mataram yang memanggilnya ke sekolah, David menebar senyum. Seperti siswa lainnya, kendati UN telah usai, David memang masih kerap masuk seperti biasa ke sekolah.

Tadinya sebelum dipanggil, Fatwir Uzali, Kepala Sekolah SMAN 1 Mataram sempat ragu. Mengingat, hari-hari sekarang ini tidak terlalu penting bagi siswa kelas XII untuk datang ke sekolah usai UN.

Mereka akan datang sesekali, antara lain bila ada keperluan. Seperti mengambil ijazah atau minta tanda tangan kepala sekolah. Bahkan tak jarang pula, ada siswa yang keluar daerah untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi (PT) diinginkan.

Apa yang diprediksi Fatwir usai pelaksanaan UN ternyata berbeda. Meski UN usai, sebagian besar siswa sekolah yang berlokasi di Jalan Pendidikan ini tetap masuk. David juga salah satu siswa yang kerap datang ke sekolah meski UN telah dilaksanakan beberapa waktu lalu.

David dikenal di sekolah sebagai siswa cerdas. Kemampuannya dalam bidang IPA sudah tak diragukan lagi. Sehingga, tak jarang sekolah memanggil siswa asal Lingkungan Mayura Cakranegara tersebut menjadi perwakilan pada Olimpiade Sains Nasional (OSN).

Meski pintar, David selalu merendah. Hal ini dilihat dari kepribadiannya yang tidak menyangka menjadi peraih nilai UN tertinggi di NTB bidang IPA.

Persiapan UN bukan hanya dilakukan satu dua hari. Ia menyiapkan UN kurang lebih tiga bulan. Persiapan UN juga tidak dilakukan dengan belajar seperti siswa lainnya yang kebanyakan membaca buku.

Melainkan, ia harus latihan menjawab soal. Menurutnya, belajar IPA berbeda dengan belajar bahasa. Belajar bahasa banyak menghafal untuk menemukan jawaban. Tapi, kalau ilmu pasti seperti IPA harus banyak latihan mengerjakan soal guna bisa menjawab soal.

Dalam belajar ilmu pasti ia harus memahami konsepnya dulu. Jika tak tahu konsep dasar maka tak akan menemukan jawaban dari soal tersebut. Untuk itu, dalam belajar ia harus tahu dulu konsep. Ini pun harus dibarengi dengan latihan mengerjakan soal.

Dalam persiapan UN 4 April lalu, ia mendapatkan soal-soal latihan dari sekolah. Meski demikian, ia tidak merasa puas dengan soal diberikan pihak sekolah. Ia pun berselancar di internet untuk mencari kisi-kisi soal UN. a�?Banyak contoh soal di internet,a�? kata alumni SD Alethea Ampenan ini.

Anak pasangan Roy Subroto-Brigitta Carolyna membeberkan, dalam mempelajari ilmu pasti harus banyak latihan menjawab soal. Bukan belajar dengan cara membaca seperti ilmu lainnya. Kesukaannya terhadap pelajaran IPA memang sejak masih kecil. Cita-cita menjadi dokter membuat dirinya harus menekuni ilmu pasti.

Pada hari UN beberapa waktu lalu ia tak memaksakan diri untuk belajar maksimal. Pasalnya, ia sudah belajar dari beberapa bulan sebelumnya. a�?Saya belajar seadanya saat UN,a�? aku David.

Kesuksesan hasil UN diraihnya juga tak lepas dari sistem Computer Based Test (CBT). Dimana, UN dilaksanakan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mempermudah dirinya dalam menjawab soal. a�?Tinggal klik saja,a�? singkatnya.

UN CBT ini juga dilengkapi dengan pilihan dalam menjawab soal. Ia tidak menjawab soal UN sesuai dengan nomor urut. Ia menjawab soal yang dianggpanya mudah. Jika ragu atau sukar maka ia akan loncat ke butir soal lainnya. a�?Kalau ragu ada tandanya,a�? kata siswa yang juga pernah ikut OSN sejak SD ini.

Usai menjawab soal, ia mereview kembali dari butir soal satu hingga 50. Mana jawaban yang masih ragu-ragu dan mana jawaban yang dianggapnya sukar. Selain itu, kelebihan UN sistem CBT lebih irit waktu. Sisa waktu dimanfaatkan untuk menjawab butir soal yang dianggapnya ragu atau sukar.

Bukan hanya itu, ia juga diuntungkan dengan masuk shift pagi pada UN sistem CBT. Di pagi hari katanya, pikiran lagi fresh. Sehingga enak diajak mengerjakan soal UN. Beda kalau shift siang akan terasa ngantuk dan lemas. a�?Sudah semestinya UN sistem CBT ini diterapkan di semua sekolah. Apalagi kita hidup di zaman modern sekarang ini,a�? kata siswa dua bersaudara ini.

Apa yang diraih David ini banyak siswa yang mengatakan wajar. Maklum, ia dikenal sebagai siswa pintar dan kerap meraih juara kelas. Kini, siswa alumni SMP Alethea Ampenan ini salah satu calon siswa UGM Fakultas Kedokteran. a�?Ya di SNMPTN saya pilih UGM Fakultas Kedokteran,a�? akunya. (Ali Rojai/Mataram/r10)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post