Lombok Post
Feature

Cerita Maut di Balik Kemegahan Tenun Sukarara

Sirtu/Lombok Post KAIN KAFAN: Inaq Murdan, penenun di Dusun Ketangga, Desa Sukarara Lombok Tengah tengah membuat Tenun Leang yang berfungsi sebagai kain kafan. Warga Desa Sukarara punya kebiasaan menyimpan tenun Leang, sebagai persiapan ketika dimakamkan kelak.

Tenun Lombok tak hanya megah dan indah. Tapi juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pada setiap motif kain, tersimpan kekuatan dan kecerdasan perempuan Sasak. Salah satunya Tenun Leang. Inilah tenun yang dibuat khusus untuk menghadapi kematian.

***

MEMASUKI Dusun Ketangga, Desa Sukarara, Lombok Tengah, bunyi alat tenun tradisional bersahut-sahutan menyambut setiap mereka yang datang. Kalau sudah begini, jangan harap menemukan keramaian.

Hanya beberapa orang anak berlarian di gang jalanItu sudah jadi paling ramai. Selebihnya adalah para tetamu yang lalu lalang. Sementara warga kampung berada di rumah.Di sanalah keramaian tersaji. Di rumah, warga sibuk sesibuk-sibuknya.

Siang itu, para wanita hanyut dalam aktivitas menenun.A� Di salah satu rumah sederhana, seorang wanita paruh baya duduk sendiri. Pinggangnya dieratkan pada alat tenun lengkap. Mulai dari Jajak, Berire, Batang Jajak dan Pengiring benang.

Tangannya perempuan itu cekatan nyesek. Pandangannya fokus pada helai demi helai benang putih untuk ditenun. Ia adalah Inaq Murdan, 50 tahun salah seorang penenun senior di kampung ini.

Berbeda dengan penenun lainnya. Inaq Murdan tidak sedang membuat kain songket, atau tenun warna warni untuk dijual. Dia sedang membuat kain Leang yang akan digunakan sebagai kain kafan. Coraknya putih polos.

a�?Tidak saya jual, kain ini untuk saya sendiri. Kan saya juga punya banyak anak cucu, mereka bisa pakai ini,a�? katanya sambil nyesek.

Kecuali kalau ada orang yang kepepet. Sangat membutuhkan, tentu Leang itu akan diberikan. Sebab, ia masih bisa membuat kain yang baru lagi.

Begitulah. Di Desa Sukarara, sebagian besar warga membuat kain kafannya sendiri. Kalaupun ada yang membeli, hanya sedikit. Itulah cara mereka menyiapkan diri untuk menghadap Sang Pencipta. Tenun Leang memang kain kafan. Bedanya kain ini hanya dibuat dengan cara ditenun.

Warga Desa Sukarara punya kebiasaan menyimpan tenun ini jauh hari sebelum ajal menjemput. Tujuannya sebagai persiapan menghadapi kematian. Kain ini baru digunakan setelah sang empunya meninggal.

Itu sebabnya, Leang memiliki arti tersendiri bagi warga. Yakni sebagai pengingat mati. a�?Umur tidak bisa kita tentukan sendiri. Tapi setiap saat pasti kita meninggal,a�? kata Inaq Murdan.

Bagi Inaq Murdan, dengan memiliki kain kafan sendiri, kelak setelah meninggal ia tidak menyusahkan orang lain. Tenun Leang itulah selimut terakhir tubuhnya. Kain yang dibuat dengan tangannya sendiri. Karena itu, jangan heran. Kala tenun itu dibuat, setiap helai benang demi benang, disambung dengan sikap berserah. Selalu ingat pada kematian.

a�?Suami saya sudah lama bilinan (meninggal), saya tinggal menunggu waktunya saja,a�? ucapnya.

Lebar kain tenun Leang sama dengan tenun lain yang terbuat dari alat tradisional yakni 60 centimeter. Untuk bisa digunakan harus disambung-sambung agar lebih lebar. Bagi janazah perempuan dibutuhkan lima kain Leang.

Sementara bagi laki-laki menggunakan tiga lembar kain Leang. Tenun Leang dibuat dengan benang kapas biasa. Sebelum ditenun, benang harus dimasak dahulu menggunakan nasi. Proses memasak ini butuh waktu sampai satu hari. Tujuannya agar benang lebih keras dan kuat. Tidak mudah putus.

Untuk membuat satu kain Leang, butuh waktu dua minggu sampai satu bulan. Bila tekun dikerjakan, hanya butuh waktu dua minggu pasti jadi. Tapi bila ada kesibukan lain, biasanya memakan waktu berbulan-bulan untuk satu kain.

Bagi Inaq Murdan dan warga Sukarara lainnya. Tenun Leang sangat berarti. Bila belum bisa membuat kain Leang secara utuh. Mereka bisa menyicil. Mulai dengan mengumpulkan benang kapas. Sedikit demi sedikit. Sampai tercipta kain kafan lengkap.

a�?Kalau tidak mampu simpan kain, minimal simpan benang dulu,a�? katanya.

Di Desa Sukarara, tidak hanya Inaq Murdan yang bisa membuat kain Leang. Sebagian besar penenun pun bisa. Mereka membuat untuk diri dan keluarganya. Sebab tradisi menyimpang kain kafan atau Leang ini sudah berlangsung secara turun temurun. Dari zaman nenek moyang.

a�?Saya sendiri baru lima bulan mulai simpan,a�? kata Kepala Dusun Ketangga Sunardi.

Sunardi menjelaskan, penggunaan tenun Leang sebagai kain kafan bukanlah kewajiban. Ada juga yang tidak menggunakan kain Leang. Tapi sudah menjadi kebiasaan. Minimal di satu rumah disimpan satu kain leang.

Kain kafan kaum Lelaki dibuatkan istri atau anggota keluarga perempuan di rumahnya. Sebab di desa ini, setiap perempuan harus bisa menenun. Bahkan bila tidak bisa, mereka tidak boleh menikah. Jadi, sejak kecil anak gadis sudah mulai diajarkan menenun.

Menurutnya, seiring dengan perkembangan zaman, kini sudah ada sebagian warga yang membeli kain kafan biasa di pasar. Tapi tenun Leang tetap memiliki keunggulan. Dimana tenun LeangA� yang terbuat dari benang kapas lebih mudah lebur di dalam kubur.

Sementara kain kafan buatan pabrik sulit rusak, dan biasanya masih utuh selama bertahun-tahun. Baginya, kain yang lebur ditanam lebih bagus sebab lebih menyatu dengan alam.

Desa Sukarara sendiri merupakan desa wisata di Kabupaten Lombok Tengah. Berbagai motif kain tenun dihasilkan seperti Bulan Begantung, Kiping, Keker, Subhanala, Subhanala Lepang, Subhanala Bangket, Subhanala Barong. Juga ada motif Rang-rang. (r10/Sirtupillaihi/Lombok Tengah)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post