Lombok Post
Giri Menang Headline

Gara-Gara Sampah, Tuan Guru Menggah

MERUSAK CITRA: Sudut kota santri di Kediri masih terdapat tumpukan sampah. Luput dari perhatian pemerintah.

GIRI MENANGA�– Momok sampah untuk Lombok Barat belum ada matinya. Sampah bahkan mulai merambah wilayah kota santri di Kediri dan Gunungsari. Melihat fakta ini, Tuan Guru pun menggah (baca: marah).

TGH Muchlis Ibrahim mengatakan, Islam mengajarkan tentang pentingnya kebersihan. Dimana, kebersihan merupakan sebagian daripada iman. Masih menumpuknya sampah di sudut kota santri, tentu beseberangan dengan ajaran Islam.

a�?Kota santri, harus bersih dari sampah dan kotoran,a�? kata TGH Muchlis Ibrahim, yang juga Ketua Yayasan Ponpes Al-Ishlahuddiny, Kamis (12/5).

TGH Muchlis menilai, kondisi lingkungan kota santri saat ini sangat mengecewakan. Sampah bertebaran di mana-mana. Tanpa ada penanganan khusus.

Menurutnya, pemerintah tidak hadir di tengah-tengah persoalan sampah ini. Selama ini masyarakat tetap melaksanakan kewajibannya. Namun pemerintah lalai memberikan hak kebersihan kepada masyarakat.

a�?Kita tetap ditarik iuran kebersihan sampah melalui PDAM, tapi sampah masih betebaran di setiap sudut,a�? kritiknya.

Pemerintah seharusnya turun tangan dengan serius. Melayani masyarakat dengan membersihkan sampah. a�?Tidak bisa juga pemerintah hanya bisa memerintah, tanpa memberikan fasilitas kepada masyarakat,a�? katanya.

TGH Muchlis pun mengingatkan dinas terkait untuk tidak terlalu santai. Lalai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sendiri. a�?Kalau memang tidak becus, ya di evaluasi saja,a�? tegas dia.

Pembina Ponpes Al-Ishlahuddiny TGH Khudari Ibrahim mengatakan, wilayah kota santri bisa di bilang telah darurat sampah. a�?Kita sudah menjelang darurat sampah,a�? kata Khudari, Kamis (12/5).

Banyaknya sampah di kota santri, mencoreng citra daerah secara keseluruhan. Kata TGH Khudari, kota santri sebagai kota urban, yang didatangi banyak orang dari segala penjuru. Sehingga sangat memalukan jika masih banyak sampah yang menumpuk di setiap sudut kota.

a�?Santri di Kediri dan Gunungsari kan tidak berasal dari wilayah Lobar, bahkan ada yang dari luar Lombok hingga Indonesia. Bayangkan saja kalau orangtua mereka datang dan melihat sampah, tercoreng itu wajah Lombok Barat,a�? kritiknya.

Dia melanjutkan, pemerintah tidak bisa berjalan sendirian dalam pengelolaan sampah. Apalagi sekarang banyak masyarakat bergerak untuk pengelolaan sampah.

a�?Kesalahan fatal kalau tidak mau dibantu. Pekerjaan sendiri tidak bisa selesai, tapi gengsi meminta bantuan,a�? sindir TGH Khudari.

Selain itu, peran tuan guru pun jarang dilibatkan. Padahal jika saja pemerintah peka, melibatkan tuan guru untuk ikut mensosialisasikan permasalahan sampah, beban kerja pemerintah bisa semakin ringan.

Sementara itu, TGH Safwan Hakim mengatakan, pemerintah perlu juga untuk menambah fasilitas. Sehingga masyarakat bisa ikut menjaga kebersihan.

Termasuk, menaruh slogan-slogan kebersihan di setiap sudut jalan. Bahkan bisa pula menetapkan pola hukuman terhadap masyarakat yang tetap membuang sampah secara sembarangan. a�?Taruh banyak tempat sampah,a�? sarannya.(dit/r6)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost