Lombok Post
Feature Headline

Di Kapal Jadi Presiden, Dokter, Sekaligus Jaksa

Oktavianus Waro menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai pelaut.

Jabatan nakhoda tidak bisa dipegang sembarang orang. Ada tanggung jawab besar yang mesti dipegang teguh oleh mereka yang berstatus nakhoda.

***

SILIRAN angin siang itu jadi pertanda baik bagi Oktavianus Woka, nakhoda KM Pantokrator. Langit tampak cerah jelang keberangkatan bahtera baja yang dikemudikannya. Kapal diagendakan berangkat pukul 13.30 Wita, dari Samarinda menuju Parepare, Sulawesi Selatan.

Kapal bermuatan 1.920 penumpang itu siap mengangkat sauh. Mesin kapal telah menyala. Meski begitu, aktivitas memuat barang masih terlihat di buritan. Sejumlah penumpang pun tampak masih terlibat suasana haru biru kala berpamitan dengan keluarga.

Di atas kapal, Kaptena��begitu biasa Oktavianus disapa, tampak sibuk mengecek segala kesiapan kapal. Beberapa kali dia bersama para mualim, bolak-balik ke ruang mesin dan kemudi. Aktivitas itu biasa disebut one hours notice.

Dalam sebuah kesempatan, Oktovianus sempat berbagi cerita dengan Kaltim Post. Dia menceritakan, menjadi nakhoda kapal bukanlah pekerjaan remeh. Ada tanggung jawab besar yang diletakkan di pundak nakhoda. a�?Nahkoda merupakan presiden kapal yang mutlak. Seandainya ada presiden yang jadi penumpang sekalipun, nakhoda tetaplah pemegang kewenangan di kapal,a�? ujarnya.

Pria kelahiran 1953 di Maluku Utara itu sudah 41 tahun menggeluti dunia pelayaran. Berawal pada 1975, ketika dia berusia 22 tahun. Baginya, menjadi pelaut adalah pilihan besar. Beruntung orangtua memberi restu, meski akhirnya harus jarang bertemu. a�?Memang ini semua sudah menjadi jalan hidup saya sebagai pelaut. Menjadi passion saya. Dulu saya mengemudikan kapal kargo, bukan kapal penumpang seperti sekarang. Pada 1995 baru membawa kapal besar,a�? ujarnya.

Awal kariernya, dia hanya dipercaya menjadi kru di sebuah kapal kecil. Berkat konsistensi, perlahan kariernya menanjak. Dari kru, kemudian menjadi mualim, hingga kini menjadi nakhoda. a�?Menjadi kapten kapal harus berpengalaman. Ada tahapan yang harus dilalui. Jika ada orang yang ingin menjadi kapten, dia harus berniat dan tekun, dan menikmati setiap prosesnya,a�? tutur pria keturunan Papua-Sulawesi itu.

Loyal di dunia maritim, dia sudah merasakan sensasi berkunjung ke sejumlah negeri. Sebut saja Tiongkok atau sederet negara di Benua Biru, Eropa. Hidup berpindah-pindah bukan masalah baginya. Itu adalah tanggung jawabnya sebagai nakhoda. a�?Tidak ada masalah sama sekali,a�? tuturnya.

Menurut Oktavianus, nakhoda tidak sekadar mengatur arah kapal. Nakhoda juga menjadi presiden, pemilik kapal, sekaligus sekertaris yang mengecek segala administrasi pelayaran. Begitu juga menjadi dokter atau jaksa saat menghadapi keadaan kahar dalam perjalanan. a�?Memang harus serba bisa, cepat, tanggap, dan tepat mengambil keputusan. Tidak bisa sembarangan karena semua tugas dan tanggung jawab ada pada nakhoda. Semua harus penuh perhitungana�? ucapnya.

Hal tersebut dibenarkan Ashar Bz Umar, seorang mualim di KM Pantokrator. Ia mengatakan bahwa nakhoda adalah orang yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi di kapal. a�?Jika terjadi kesalahpahaman di kapal, nahkoda yang bertanggung jawab. Kalau nahkoda berhalangan saat memutuskan sesuatu, barulah mualim meng-cover tugas dan tanggung jawab nahkoda,a�? ujarnya menjelaskan.

Ashar sendiri sudah 12 tahun hidup di dunia pelayaran. Selama itu pula keluarga di Sulawesi memahami pekerjaannya sebagai pelaut. Rindu kampung halaman bisa diatasi dengan rasa kekeluargaan yang tercipta di antara para kru kapal. a�?Di sini sudah seperti keluarga yang sama-sama mengalami masa sulit dan senang,a�? jelasnya.

Dia mengungkapkan, selama menjadi pelaut, telah berlayar ke sejumlah negara, seperti Jepang, Tiongkok, hingga Yunani. Ia menuturkan pentingnya menjalin komunikasi yang baik antarawak kapal ataupun dengan atasan. a�?Jarang terjadi miskomunikasi, sehingga tak ada hambatan yang berarti ketika melakukan perjalanan. Kalaupun ada, tetapi masih dalam kontrol yang baika�? tuturnya.

Menurutnya, pelaut harus mengerti situasi dan kondisi, serta bersahabat dengan alam. a�?Pernah terjadi benturan ekor kapal pada karang dan palung, tapi tidak sampai parah. Efeknya hanya getaran. Pernah juga menghadapi cuaca tak terduga seperti angin kencang,a�? ucap pria lulusan sebuah akademi pelayaran di Makassar itu. Sebelum melakukan perjalanan, kapal semestinya sudah mendapat izin dari Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Serta mengetahui kondisi medan dan cuaca melalui navigasi dan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). (MAYANG SARI/myg/JPG/r10)

Berita Lainnya

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost

Kades Jangan Alergi Diperiksa!

Redaksi LombokPost

Surya Paloh Road Show ke Lombok

Redaksi LombokPost