Lombok Post
Selong

Idola Baru Warga Selong, Satai Tugu Pak Kumis

satai tugu pak kumis
KERJA KERAS: Pak Kumis saat membakar sate dagangannya di Taman Tugu, Selong, Lombok Timur tadi malam.

Di Taman Tugu, Selong ada satu lapak kecil yang kini ramai dikunjungi warga. Walaupun hanya pedagang kaki lima, namun satai yang jadi menu utamanya sudah terkenal seantero Selong. Saking terkenalnya, sebelum jam sembilan malam, satai itu sudah habis terjual.

SELONG – Begitu tiba di pojok Taman Tugu, sejumlah orang terlihat sudah menunggu. Ada yang duduk di atas sepeda motor, ada pula yang duduk di tikar yang disediakan. Semua mengambil posisinya masing-masing.

a�?Tunggu sebentar ya, anak saya lagi ambil satai di rumah,a�? jawab Rohandi si penjual yang akrab disapa Pak Kumis.

Orang yang cukup ramai di seputaran lapak dengan ciri payung warna-warni itu sedang menunggu satai pesanannya. Mereka rela menunggu, mereka juga rela mengantre lama. Semua itu demi satai buatan Pak Kumis. Para pembeli menyebutnya dengan beragam nama. Ada yang mengatakan Satai Bulayak, ada yang menyebut Satai Tugu, ada juga yang menamainya dengan sate Pak Kumis sesuai ciri penjual yang berkumis lebat. Namun kendati namanya berbeda- beda, mereka seolah akan satu suara soal rasa. Enak dan bikin ketagihan.

Rasa satai yang ditawarkan memang khas. Inilah yang membuat sate pak kumis begitu cepat populer namanya. Padahal baru satu tahun ia mulai merintis usahanya itu. Kini hampir semua penjuru kota mengetahui makanan yang satu ini. Begitu satai stok terakhir itu tiba, dengan cekatan ia langsung menaruhnya di atas arang yang telah menyala. Seketika itu asap mengepul terhalau kipas membawa aroma sedap kedalam hidung. Air liurpun hendak menetes rasanya. Tak sampai 15 menit setelah itu, satenya sudah habis. Semua stok delapan kilogram hari itu A�ludes terjual hanya dalam waktu empat jam saja. Berjualan sejak pukul 17.00 Wita, sate itu selalu habis sebelum pukul 21.00 Wita.

Tiba giliran koran ini mencicipi sati ini. Benar saja, sensasi yang ada begitu berbeda dengan sate bulayak kebanyakan. Beberapa bahan memang berbeda dan khas. Seperti rasa ekstra pedas yang menyengat. Ada juga taburan kuah sayur yang menggoda, plus lontong sebagai pengganti bulayak. Harganya juga cukup terjangkau, hanya Rp 10 ribu perporsi.

a�?Enak kan,a�? kata pak kumis.

Banyaknya pembeli sudah menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Dalam empat jam berjualan itu, ia bisa meraup keuntungan bersih Rp 200 ribu. Sama dengan enam juta rupiah dalam satu bulan. Bayangkan berapa keuntungan bila ia membuat satai lebih dari delapan kilo.. a�?Sengaja hanya delapan kilo, biar tak terlalu capek,a�? jawabnya.

Bagi anda yang belum pernah mencicipi, silahkan coba sendiri sensasi satai Pak Kumis. Selamat menikmati. (WAHYU PRIHADI SAPUTRA/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost