Lombok Post
Metropolis

Ajarkan Anti Korupsi, Amaq Kesek Bisa Diajak Ngobrol

BERDIALOG : Dua orang siswa SMP SLB Selagalas Abdul Gawi (laki-laki) dan Lia (jilbab) berdialog dengan para tokoh wayang Sasak beberapa waktu lalu.

Menyaksikan pentas wayang kulit sudah biasa. Tapi apa jadinya bila para tokoh wayang itu mengajak Anda bicara. Dalam pentas sekali ini, anak-anak yang datang menyaksikan bisa berdialog langsung dengan para tokoh jenaka wayang Sasak.

***

GELAK tawa terdengar dari ruang gelap itu. Samar-samar, wajah penonton terlihat saat diterpa sinar lampu panggung. Sebagian besar adalah anak-anak. Mereka duduk di bangku merah, setengah melingkar, semakin ke belakang semakin tinggi posisi duduknya.

Seting ruangan minim cahaya membantu mata fokus ke panggung. Dari balik layar itu, para dalang cilik beraksi.

Malam itu, perut penonton serasa dikocok. Di antaranya juga terdapat anak tuna netra. Menikmati pentas dengan indra pendengaran. Tawa mereka juga meledak-ledak.Tingkah para tokoh wayang Sasak membuat anak-anak ini tidak kuat menahan tawa.

Seperti Amaq Kesek yang lebih senang dipanggil Amaq Alex. Amaq Ocong yang tertawa meliuk-liuk. Amaq Amad. Amaq Baok dengan suara berat tapi kocak. Juga Inaq Itet, tokoh perempuan dengan suara cempreng. Dalam pentas ini, Inaq Itet digambarkan sebagai sosok keibuan tapi tetap lucu.

Dialognya ringan. Penuh makna. Isu-isu berat seperti korupsi dan darurat kekerasan seksual anak dikemas dalam dialog santai. Seperti dalam perbincangan lepas keseharian.

Dimulai oleh Inaq Itet, menangis setelah membaca koran. Ia merasa prihatin dengan kasus-kasus kekerasan seksual pada anak. Diikuti suara seluring mendayu. Sedih. Tapi selentingan Amaq Kesek membuat gelak tawa kembali pecah. Sahut menyahut dengam Amaq Ocong, lalu Amaq Baoq. Juga tokoh lainnya.

Diiringi gelak tawa penonton. Pembahasan masuk pada tema korupsi. Bayu Khairul Azmi, sang dalang, menggambarkan korupsi tidak hanya dilakukan pejabat.

Tapi secara tidak sadar dilakukan sejak duduk di bangku sekolah. Seperti kebiasaan mencontek, tidak jujur pada orang tua. Semua itu dicontohkan sebagai sikap korup sejak kecil. Semua pesan ini tetap disampaikan dalam dialog jenaka.

Di tengah pentas. Para tokoh wayang ini tiba-tiba memanggil beberapa orang penonton. Maju ke depan. Ikut berdialog. Meminta pendapat mereka tetang perilaku korupsi dan kekerasan terhadap anak.

Seperti Abdul Gawi dan Lia, dua siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Selagalas. Dengan bantuan beberapa rekannya, dua siswa ini maju mendekati Amaq Kesek dan teman-temannya.

Mereka pun beramah tamah. Ucapkan salam dan terima kasih. Saling bertanya tentang korupsi dan kekerasan pada anak. Tokoh-tokoh jenaka ini seperti hidup dalam dunia nyata.

Anak-anak ini pun semakin girang. Senang. Disambut tawa penonton lainnya. Mereka semua sedang mengikuti kegiatan temu forum anak Mataram. Pentas wayang hanya salah satu kegiatan.

Konsep wayang interaktif dipentaskan karena selama ini pertunjukkan wayang selalu satu sisi. Sekolah Pedalangan ingin mengembangkan konsep interaktif agar para tokoh pewayangan terasa lebih nyata di tengah penonton.

Selain itu, tema-tema yang dipentaskan selalu berkaitan dengan hari-hari penting. Menyampaikan pesan yang kontekstual dengan kondisi masyarakat. Misalnya, tema kekerasan terhadap anak yang sedang marak.

Degan contoh-contoh kecil biasanya penoton akan lebih paham. Dekat dengan masyarakat. Sehingga mudah dicerna. Intraktif dan lebih mengena. Termasuk dengan memanggil tokoh yang dekat di lingkungan anak seperti Ketua LPA Mataram, Ketua Dewan Anak Mataram dan lain-lainnya.

Jika selama ini hanya dalang dan wayang yang berbagi cerita. Dalam wayang interaktif, penonton juga ikut bercerita. Berbagi pada wayang juga penonton lainnya.

Mahsan, Wakil sekretaris LPA Kota Mataram mengaku wayang merupakan media yang sangat bagus bagi anak-anak. Selain untuk menyampaikan pesan, juga menjadi bagian dalam upaya pelestarian budaya Sasak. a�?Saya berharap media-media seperti ini bisa terus dilestarikan dan dilanjutkan,a�? harapnya. (Sirtupilaihi /Mataram /r6)
A�A� A�

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost