Lombok Post
Headline Metropolis

Hari Ini di Istri Pertama, Esok di Istri Kedua

BOKS
GANDENG DUA ISTRI: Inilah pernikahan Hasan Basri, di Dusun Jurang Are Desa Bonder Praya Barat Lombok Tengah, yang menggandeng dua istri sekaligus diacara resepsi Minggu, kemarin.

Menikahi dua perempuan dalam selang waktu hanya sepekan, membuat Hasan Basri benar-benar dituntut berbuat adil. Maka dia pun membagi konsentrasi yang sama untuk dua perempuan belahan jiwanya. Satu istri masing-masing bergiliran bersama Basri satu hari. Tak boleh lebih.

***

JIKA hari ini, Basri berbagi kasih dengan istri pertamanya Nurul Hidayanti, maka esoknya, dia akan bersisian berkasih sayang dengan istri keduanya, Nurhidayatullah.

Dua perempuan terpenting dalam hidup Basri itu saat ini tinggal terpisah. Nurul Hidayanti, masih indekos di Mataram. Sebab, dia memang masih duduk di bangku kuliah semester VI di salah satu perguruan tinggi di Ibu Kota NTB ini. Di indekos itulah, Basri pulang selang sehari untuk Nurul.

Sementara, untuk Nurhidayatullah, saat ini tinggal bersama orang tua Basri di Dusun Jurang Are, Desa Bonder, Praya Barat, Lombok Tengah. Ke sana pulalah, Basri pulang esoknya setelah dari indekos Nurul di Mataram.

Lakon itu dijalani Basri semenjak menikahi Nurhidayatullah, 16 April 2016. Itu selang enam hari setelah terlebih dahulu dia menikahi Nurul Hidayanti.

Tentu saja Basri tak pernah keliru. Dia tahu betul kemana harus pulang sehabis bekerja mencari nafkah dari tempat tugasnya di Desa Batujangkih, Praya Barat Daya. a�?Begitu pulang kerja di Desa Batujangkih, Basri terkadang langsung menuju kos istrinya di Mataram,a�? tutur H Sahri, ayah Basri kepada Lombok Post, kemarin.

Keesokan harinya, kata Sahri, Basri akan kembali berangkat bekerja dan kemudian pulang ke rumah orang tuanya menemui istri keduanya. Begitu seterusnya.

Menjelang petang kemarin, Lombok Post memang berkesempatan menghabiskan kopi dengan H Sahri. Pria ramah ini banyak bertutur soal pernikahan anaknya yang memang memantik heboh.

Kala koran ini datang ke sana, Sahri tengah duduk di teras rumah bersama sejumlah kerabat. Spontan satu persatu mereka meninggalkan tempat duduk, dan membiarkan Lombok Post duduk berdua bersama ayah Basri.

Di temani secangkir kopi, Sahri menceritakan perjalanan hidupnya beserta anak-anaknya.

Bagi pria kelahiran 1955 itu, pernikahan yang dijalani anaknya, tidak melanggar hukum apa pun, baik hukum adat, hukum tertulis maupun hukum agama.

Hanya saja, yang dianggap menghebohkan adalah, ketika anaknya melangsungkan resepsi pernikahan dengan kedua istrinya sekaligus.

Sebetulnya kata dia, di tempat lain, menurut Sahri ada kejadian seperti itu. Cuma, tidak begitu dihebohkan di media sosial.

Keluarganya kata dia mendengar kalau ada gonjang-ganjing terdengar di luar sana. Namun, pihaknya bersama keluarga, cuek-cuek saja. Karena lagi-lagi, tidak ada yang dilanggar. a�?Ini semua pasti ada hikmahnya,a�? kata dia.

Dirinya saja memiliki dua istri yaitu, Hj Mariam atau ibu dari Basri dan almarhumah Nurmane. Kini, dia memiliki 10 orang cucu dan delapan orang anak. Lima laki-laki dan tiga perempuan. Basri sendiri merupakan anak ke enam.

Basri lahir pada tahun 1990. Dia, kata Sahri merupakan sarjana perawat lulusan perguruan tinggi ternama di Surabaya, Jawa Timur. Satu kampus dengan istri, asal Desa Dasan Lekong Lombok Timur, Nurhidayatullah.

Pada tahun 2014 Basri lulus S1 dan tahun 2015 lalu, mengambil program Ners di Jombang.

Sementara, istrinya yang lain Nurul Hidayanti asal Dusun Masjuring Bonder, memang masih duduk di bangku kuliah semester VI, di salah satu perguruan tinggi di Mataram. a�?Istri pertamanya itu, keluarga dekat kami. Dia bukan orang lain, tapi keluarga,a�? ujar Sahri.

Perbincangan hangat, terputus begitu terdengar suara azan Magrib. Koran ini pun bersama Sahri, berjalan menuju masjid Jamia�� Baiturrahman, yang jaraknya sekitar 30 meter. Masjid itulah yang menjadi saksi pernikahan Basri dengan dua perempuan dalam rentang waktu sepekan.

Beberapa puluh menit kemudian, sosok Basri muncul. Peluh terlihat masih mengucur di tubuhnya, karena dia baru selesai mencuci karpet yang digunakan pada acara resepsi pernikahannya.

Hingga menjelang salat Isaa�� perbincangan kami berbincang dengan aneka topik ke sana kemari. Sayangnya, Basri hanya menyilakan yang dikutip keterangan dari ayahandanya saja.

Lombok Post pun berpamitan dan menuju kediaman keluarga mempelai perempuan di Dusun Masjuring.

Jaraknya sekitar 800 meter dari rumah Basri. Tapi Lombok Post tak beruntung. Di tengah jalan, Ustadz Maisun, menyarankan agar perbincangan dilanjutkan di kediamannya saja.

Ustadz Maisun sendiri adalah, paman dari Basri dan sepupu dari istrinya, Nurul Hidayanti.

Ustadz Maisun menceritakan, Nurul Hidayanti adalah anak yatim. Ayahnya Amaq Sarman meninggalkan empat orang istri. Ibunya bernama Inaq Jaknah.

a�?Sebagai keluarga terdekat, saya tidak mau mempermasalahkan pernikahan anak kami ini. Saya justru bangga kepada Basri, karena dia diberikan hidayah oleh Allah SWT,a�? ujarnya.

Mendampingi kedua istri di pelaminan, diakuinya menjadi kejadian langka. Tapi patut menjadi contoh, serta suri teladan bagi ummat manusia.

Kata dia, hikmah yang bisa dipetik adalah, para perempuan tersebut, memiliki kekuatan hati dan perasaan memaknai apa yang disebut dengan, sunnah Rasul.

Tidak sembarangan kaum wanita yang memiliki kebesaran akhlak mulia seperti mereka berdua. Mereka pun kata Ustadz Maisun, tergolong wanita beruntung dunia dan akhirat.

a�?Sekali lagi, saya atas nama mempelai perempuan dan laki-laki, menerima dengan ucapan Alhamdulillah. Semoga Allah, memberkahi pernikahan anak kami tercinta ini,a�? ujar Ustadz Maisun.(Dedi shopan shopian/Lombok tengah/r10)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost