Metropolis

Rayakan Harkitnas dengan Teater

MATARAM -Para pelajar yang aktif di teater punya cara tersendiri dalam merayakan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang diperingati setiap tangal 20 Mei. Jika di sekolah-sekolah dan kantor pemerintah merayakan dengan upacara bendera, para pelajar yang aktif di teater ini merayakan dengan mementaskan drama.

Sabtu malam (21/5), dua kelompok teater yaitu Teater Tas SMAN 1 Kempo (Dompu) dan Teater Bintang Smansaga Gangga (Lombok Utara) menghibur seratusan lebih penonton. Datang jauh dari Dompu,Teater Tas SMAN 1 Kempo membawakan naskah a�?Pesta Terakhira�?. Naskah ini karya Ratna Sarumpaet.

Pada pementasan di teater tertutup Taman Budaya Provinsi NTB, pementasan itu disutradarai Syamsul Ramdana. Sementara dari SMAN 1 Gangga mementaskan naskah a�?Orang Kasara�?, naskah karya Anton Chekov. Pementasan a�?Orang Kasara�? disutradarai Iko Putri Yopitasari.

a�?Kita ingin menampilkan nuansa berbeda dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional,” kata Kepala Taman Budaya Endah Setyorini.

Pementasan dibuka dengan empat orang pemuda membawa keranda jenazah. Dari perbincangan para tokoh itu, diketahui jika orang yang meninggal itu adalah seorang penguasa. Orang-orang mengenalnya sebagai Pak Sepuh.

Sosok Pak Sepuh banyak diungkap dari dialog-dialog empat tokoh itu. Diketahui pula selama memerintah Pak Sepuh dikenal bertangan dingin. Dia tidak segan menghabisi lawan-lawannya. Kebebasan ditekan. Dan dia memperkaya anak-anaknya dan para penjilat di sekitarnya.

Kematian Pak Sepuh meninggalkan duka mendalam bagi anaknya. Tapi kematian Pak Sepuh juga menjadi angin segar bagi tegaknya pemerintahan baru di negeri itu. Desas desus beredar jika calon pengganti Pak Sepuh adalah Hariyati, tak lain putrinya sendiri.

Selama memerintah Pak Sepuh yang memfasilitasi anak-anaknya untuk menjadi seorang koruptor. Lewat kekuasaannya, dia seenaknya memberikan berbagai kemudahan untuk anaknya, termasuk orang-orang yang setia mendampinginya. Kebobrokan Pak Sepuh itu mulai terkuak ketika dia meninggal. Para korban selama pemerintahan Pak Sepuh mulai bersuara. Mereka mengganggu tidur Hariyati.

Walaupun para pemain teater, pelajar SMA itu belum lahir ketika reformasi bergulir tahun 1998, mereka mampu memainkan naskah yang menjadi gambaran kroni Orde Baru itu. Para pelajar SMA itu, lewat dialog dan ekspresi mereka menunjukkan suatu masa peralihan Orde Baru. Suara orang orang kecil yang ditampilkan oleh sosok empat orang yang mengusung keranda jenazah Pak Sepuh menjadi kunci cerita.

a�?Diharapkan lewat kegiatan seperti ini membangkitkan kreativitas pelajar sekaligus bisa memaknai Hari Kebangkitan Nasional lewat cara mereka,” kata Endah. (fat/r9/*)

Related posts

Moratorium UN Harus Disikapi

Redaksi Lombok post

Unik… Rumah Terbalik Kini Ada di Kuta, Lombok Tengah

Redaksi Lombok Post

Kabar Gembira ! Tahun Ini Pemprov NTB Buka Lowongan CPNS

Redaksi Lombok Post

Leave a Comment