Lombok Post
Opini

Dukung GLB, Kita Bisa!

Opini LombokPost
Opini LombokPost

Oleh: Pudji Isdriani Komari
(Alumni Fakultas Sastra Indonesia UNS 11 Maret Surakarta dan UI Jakarta. Saat ini masih aktif mengajar di SMA Negeri 26 Jakarta, Ketua Umum Masyarakat Sastra Jakarta, Ketua Umum Isbanda NTB)

***

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional yang pada tanggal 20 Mei 2016, sudah selayaknya bangsa ini instrospeksi diri. Tentunya hanya berjarak delapan belas hari dari Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei lalu. Untuk itu, terasa sekali bahwa ada benang merah antara kedua tanggal tersebut.

Tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan, apa yang telah kita lakukan terhadap pendidikan di Indonesia? Setelah itu, pertanyaannya adalah apa yang telah bangsa ini lakukan demi memupuk rasa nasionalisme?

Gerakan Literasi Bangsa (GLB) yang didasarkan Permendiknas Nomor 21 dan 23 Tahun 2015, bertujuan untuk pendidikan budi pekerti dan budaya membaca juga menulis. Penulis sangat setuju dengan GLB meskipun sudah terlalu lama pemerintah baru melakukan gebrakannya. Apalagi dengan adanya data statistik UNESCO tahun 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca.

Sungguh sangat menyedihkan. Bangsa besar yang berpendudukA� 252 juta orang, ternyata hanya 252 ribu saja yang mempunyai minat membaca. Minat baca bangsa Indonesia kalah jauh dibandingkan Vietnam yang berada di urutan 20 sedangkan Indonesia berada di urutan 64 dari 65 negara.

Untuk itu, sangat tepat jika pemerintahan saat ini harus benar-benar bekerja keras. Jika memang menginginkan bangsa Indonesia disegani oleh dunia. Melalui GLB, bangsa ini menggantungkan harapannya guna menumbuhkan minat baca tulis. Untuk kemudian bisa menjadi budaya. Alangkah bangganya jika di mana pun kita berada dapat melihat pelajar atau pun masyarakat membawa buku dalam tasnya dan membaca buku. Apakah itu di perpustakaan, di stasiun, terminal, bandara, apotek, ruang tunggu dokter, perjalanan (naik kendaraan umum, mobil pribadi, kereta api, pesawat, kapal laut dll).

Bahkan dalam kitab suci Alquran Surat Al-Alaq ayat 1, berbunyiA� a�?Iqraa�? yang artinya bacalah.

Makna a�?bacalaha�?A� sungguh sangat luar biasa. Allah SWT memerintahkan umatnya supaya membaca karena dengan membaca kita dapatA� mengetahui banyak hal yang ada di dunia. Inilah nikmat yang kita peroleh dari Allah SWT jika manusia gemar membaca.A� Karena membaca merupakan kebutuhan hidup yang memang seharusnya menjadi budaya bangsa.

Membaca dan menulis seperti dua sisi mata uang. Berbicara mengenai membaca tidak lepas dengan kegiatan menulis. Dari sinilah kita akan melihat bagaimana manfaat yang diperoleh dari membaca yang sangat diperlukan untuk menulis. Sebab menulis tanpa pernah membaca, ibaratnya tanaman yang kering karena tidak pernah disiram. Apa yang pernah dibaca akan menjadi acuan seorang penulis.

Mengapa harus menulis? Bagi saya, menulis merupakan salah satu dari hobi. Tentunya, masih banyak hobi-hobi yang lain. Begitu juga dengan Anda yang mempunyai hobi beragam. Nah, justru dari hobi yang beragam itulah akan dapat dijadikan sebagai bahan tulisan. Kalau kita menulis sesuatu yang sangat disukai, maka semua akan berjalan dengan ringan dan menyenangkan. Jadi, hobi yang disukai itu akan menjadi bahan tulisan. Kalau ditulis maka akan banyak orang yang membaca tulisan tersebut. Dengan demikian kita sudah berbagi ilmu dengan banyak orang. Artinya, ilmu kita bermanfaat untuk orang lain.

Sebelum saya lanjutkan terlebih dahulu perlu diketahui mengapa kita harus menulis? Jawabnya adalah, (1) Menulis waktunya fleksibel, bisa di mana saja dan kapan saja, (2) Apa yang ada di sekitar kita yang dilihat, didengar dan dirasakan bisa menjadi bahan tulisan, (3) Dengan menulis kita jadi lebih banyak membaca karena membutuhkan bahan acuan. Tentu masih banyak lagi manfaat menulis.

Bagaimana memulainya? Nah, ini yang biasanya menjadi kendala bagi kita. Memulai itu merupakan hal yang sulit. Terkadang kita bingung bagaimana mengawali menulis. Pertama, pilihlah topik yang kita sukai. Misalnya, Anda menyukai traveling, akan sangat menyenangkan kalau semua perjalanan tersebut dituliskan. Mulai dari objeknya, mengapa kita pilih objek tersebut. Setelah itu bagaimana transportasi ke tujuan. Bagaimana tempat menginapnya, kulinernya,A� budaya masyarakatnya, pusat oleh-olehnya, keindahan alamnya. Nah, itu yang akan menjadi bahan tulisan. Bagi Anda yang punya hobi traveling buatlah tulisan tentang perjalanan tour, bagi yang suka olahraga buatlah tulisan tentang ola raga, tentang musik, dll. Intinya materi atau topik tulisan bisa dari dalam rumah atau luarA� rumah.

Materi dari dalam rumah misalnya: keluarga, remaja dan masalahnya, psikologi remaja, kesehatan, percintaan dsb. Sedangkan materi dari luar rumah misalnya: masalah lingkungan, masalah sosial,A� traveling, fotografi, kesehatan masyarakat, budaya, dsb. Jadi, kalau kita mau menulis maka bahan untuk menulis itu sungguh luar biasa banyaknya. Apa pun bisa dijadikan tulisan. Sekarang tinggal bagaimana menumbuhkan minat menulis yang tentunya dimulai dari minat membaca yang kemudian menjadi budaya membaca. Inilah nyawa dari GLB. Meskipun GLB diawali dari dunia pendidikan baik SD, SMP, SMA. Namun sebenarnya GLB itu adalah gerakan untuk semuanya. Minat baca itu sesungguhnya dimulai dari rumah. Jika sejak kecil orang tua sudah membiasakan anak-anaknya membaca. Maka anak-anak akan menyukai membaca sejak dini. Anak-anak akan melihat dan meniru orang tuanya yang suka membaca. Orang tua juga harus melatih anak-anaknya untuk membeli buku. Paling tidak jika pergi ke mal, jangan hanya membeli sepatu, tas dan baju bermerek atau beli gadget yang harganya jutaan. Namun tidak pernah membeli buku atau sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku yang harganya hanya puluhan ribu rupiah saja.

Sekarang, saatnya membaca dan menulis!

Bagi Anda yang baru memulai menulis atau masih malas untuk menulis, saya mempunyai resep untuk mulai menulis: (1) Kemauan, (2) Disiplin, (3) Berkesinambungan, (4) Berani mengirimkan ke media, (5) Siap dikritik, (6) Tidak patah semangat. Disamping hal-hal tersebut, yang jelas dengan menulis apakah itu hanya sekadar hobi atau bukan, menulis itu ada imbalannya. Misalnya, di koran-koran, majalah, menulis makalah sebagai nara sumber sebuah acara dan sebagainya. Untuk penulis buku, selama buku tersebut dicetak ulang dan masih laku dijualA� maka royaltinya akan terus berjalan.

Bagaimana caranya mengirimkan ke media? Mengirimkan tulisan ke media saat ini sudah sangat mudah. Kalau dulu kita harus mengirimkan melalui pos dan memerlukan waktu yang cukup lama. Maka saat ini hanya dalam hitungan detik tulisan kita sudah bisa sampai ke meja redaktur sebuah harian, majalah, jurnal, tabloit dsb. Keberadaan internet sangat membantu proses pengiriman naskah tulisan kita. Lewat email siapa pun dapat mengirimkan naskahnya, kita tidak perlu lagi mendatangi kantor pos untuk mengirimkan hasil tulisan kita. Supaya tidak salah alamat, kenali terlebih dahulu koran yang kita tuju. Koran minggu berbeda dengan surat kabar harian, majalah remaja tentunya berbeda dengan majalah olahraga. Kalau akan mengirimkan tulisan tentang resep masakan jelas majalah wanita yang kita pilih. Misalnya mau mengirimkan artikel tentang pendidikan, bisa dikirimkan ke redaksi koran yang ada kolom pendidikannya.

Kalau kita sudah mengetahui topik apa yang akan ditulis dan ke mana tulisan itu nantinya akan dikirimkan atau bahkan dibukukan. Sekarang saatnya menentukan teknik penulisannya. Menurut Arswendo Atmowiloto, menulis itu gampang (dalam buku yang berjudul sama a�?Menulis itu Gampanga�?), Saya setuju. Namun meskipun menulis itu gampang kita tetap harus mempunyai kemauan dan disiplin. Tanpa kemauan dan disiplin akan sulit untuk menghasilkan sebuah tulisan yang bagus.

Sekaranglah saatnya bangsa Indonesia bangkit dari peringkat rendah minat membaca. Bagaimana pun budaya baca tulis bukan semata-mata PR pemerintah. Kinilah saatnya setiap keluarga menjadi fondasi bagi anak-anak Indonesia untuk gemar membaca. Jangan sampai ada orang tua yang mengatakan dengan bangga dan tanpa rasa bersalah, a�?Anak-anak saya tidak suka membaca, karena saya juga tidak suka membaca.a�? Duh betapa sedih mendengarnya. (*)

Berita Lainnya

Pemuda dan Transformasi Masa Depan

Redaksi Lombok Post

Penyaluran DAK Fisik dan Dana Desa Pascagempa Lombok

Redaksi Lombok Post

Kebijakan dan Pengelolaan Dana Desa Melalui KPPN Mataram

NTB Menuju Panggung (Politik) Nasional

Redaksi Lombok Post

TGB dan Masa Depan Indonesia Gemilang

Redaksi Lombok Post

Gerakan Zakat: Antara Pergerkan, Angka, dan Regulasi

Redaksi Lombok Post

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Redaksi Lombok Post

LEMBAGA ZAKAT: DARI FUNDRAISING KE FRIEND-RAISING

Redaksi Lombok Post

PILKADA ZAMAN NOW

Redaksi Lombok Post