Lombok Post
Metropolis

Pernah Dianggap Gila, Belajar Otodidak

PUISI: Kiki Sulistyo, salah satu penyair Lombok yang tetap konsisten menulis sajak-sajak dan cerpen.

Tidak banyak yang memilih hidup di jalur sastra. Jalan sunyi yang masih dipandang sebelah mata. Tapi, Kiki Sulistiyo memilihnya dan menghibahkan hidupnya untuk sastra.

***

MENGENAKAN sarung. Rambut gondrong. Kaos oblong. Kiki berdiri di depan kontrakannya, di Perumahan Pagesangan Indah. Senyumnya menyambut ramah saat Lombok Post berkunjung.

Sunyi. Di sebuah kamar kosong ia mengajak ngobrol. Ditemani sebuah laptop dan beberapa buku puisi. Salah satunya adalah “Hikayat Lintah” buku kumpulan puisi pertamanya.

Di kamar inilah Kiki sehari-hari menghabiskan waktu. Bercengkrama dengan sajak-sajak dan tenggelam dalam renungan pikiran. Kesunyian kamar tidak membuatnya galau. Sebaliknya, ia merasa ramai. Karena pikiranbya bebas. Kemudian mulailah ia menulis sajak demi sajak.

“Saya malah senang kalau sepi begini,” katanya tersenyum.

Kebiasaan ini mengingatkan Kiki pada masa kecilnya. Pria kelahiran Ampenan 16 Januari 1978 pernah dianggap gila oleh teman-temannya. Waktu itu ia masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Tidak banyak teman sepermainannya. Kiki kecil lebih senang di dalam kamar sambil membaca. Dengan khayalannya sendiri ia kerap berdialog dan main silat-silatan sendiri di dalam kamar. Tingkah lakunya ini membuat teman-temannya mengira dia gila.

“Teman-teman anggap saya gila. Saya sendiri heran kenapa dikira gila,” kenangnya tertawa.

Tingkah lakunya ini tidak lepas dari bacan-bacaan yang setiap hari bacanya. Sebab sebelum masuk sekolah Kiki sudah muali membaca. Ia merasa senang bila membaca. Waktu itu, sang bibik di Ampenan sering membawa majalah dari tempat kerja seperti Majalah Intisari dan Majalah Kartini.

“Saya tidak mengerti tapi rasanya senang saja baca,” ujarnya.

Kebiasaan berimajinasi dengan dunia sendiri membuatnya tersisih dari teman sepermainan. Sampai akhirnya saat duduk di bangku SMP. Ia membaca buku-buku sastra, kumpulan puisi.A� Salah satunya puisi Amir Hamzah berjudul “Ibu ku dahulu”.

“Saya merasa bahwa sang pengarang bisa menyampaikan pikiran dalam puisi itu. Sementara saya banyak yang tidak bisa saya salurkan. Dan akhirnya saya mencoba menulis,” katanya.

Sejak saat itu Kiki kecil semakin senang pada dunia sastra. Bersama teman-teman yang suka nulis puisi, ia membentuk klub puisi. Menulis bersama, saling bertukar karya. Mereka hanya empat orang siswa. Puisi-puisi di lembar kertas itu tidak pernah ia buang, tapi hilang saat pindah rumah.

Setelah tamat di SMPN 3 Ampenan, sekarang SMPN 10 Ampenan tahun 1993. Ia tidak lanjutkan pendidikan ke SMA. Ia memilih kerja serabutan sebagai konsekuensi putus sekolah.

Harus cari uang. Bekerja seperti jadi tukang sablon, bantu peternakan ayam hingga jadi pemulung. Paling lama jadi penjaga toko kaset di Cakranegara.

Meski tidak sekolah ia tetap menulis dan membaca. Belajar otodidak. Sambil bekerja ia menulis puisi di kertas-kertas rokok. “Sambil jalan saya nulis-nulis di kertas apa saja. Setelah sampai di rumah saya salin ke buku,” tuturnya.

Uang yang didapatkan dari bekerja ia pakai buat beli buku kumpulan puisi. Dan ia belajar dari buku itu. Waktu kerja di toko, puisi pertamanya terbit di Lombok Post tahun 2002. Judulnya “Ingin” danA� “Aubade”. Pada saat itu mulai merasa puisinya diterima dan terus menulis.

“Hampir setiap minggu saya kirim, terakhir tahun 2003,” katanya.

Tapi sayang, kolom sastra di Lombok Post tidak ada lagi. Ia sedikit kecewa karena kolom itu ditutup. Setelah itu ia coba mengirim ke media lain. Dan beberapa kali dimuat.

Setelah banyak mengirim puisi. Ia pun mulai gelisah karena tidak ada temanA� diskusi.A� Ada sastrawan seperi Rianto Raba dan Imtihan Taufan. Ia ingin berdiskusi sama mereka tapi rasanya sulit.

Sampai ia bertemu dengan Putu Arya, penyair dan redaktur majalah Puisi saat itu. Kemudian menjadi teman diskusi pertamanya. Putu Arya tidak mengajarkannya teknis membuat puisi, tapi dia mengajarkan tentang sikap seorang penulis.

Tidak mudah putus asa, ketika tulisan tidak naik tidak patah semangat. “Pelajaran pertama seorang penulis adalah sabar,” katanya (Sirtupillaili/ Mataram /r4)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost