Lombok Post
Headline Metropolis

PKL Disikat, Investor a�?Dilindungia�?

BONGAR : Satpol PP Kota Mataram dibantu Linmas menertibkan lapak PKL di Jalan Bung Hatta,kemarin(1/6).

MATARAM a�� Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menepati janjinya untuk membongkar lapak pedagang kaki lima (PKL) Jalan Bung Hatta. Puluhan anggota Satpol PP dibantu Linmas membabat habis lapak yang dinilai merusak pemandangan Kota Mataram itu.

a�?Iya lapak-lapak ini memang sangat meresahkan warga,a�? kata Kabid Trantibum Satpol PP Kota Mataram Bayu Pancapati saat ditemui di lokasi.

Keluhan yang dimaksud Bayu mulai dari perusakan bunga-bunga taman, menyediakan minuman keras, hingga praktik prostitusi terselubung. Walaupun Satpol PP sendiri belum memiliki bukti jika lapak PKL itu disalahgunakan.

a�?Bahkan ada info yang saya terima PSK yang ada disini merupakan pelarian dari Pasar Beras. Kata mereka kalau di sana (Pasar Beras, red) sering dirazia, jadi mereka melakukakn aksinya disini,a�? beber Bayu.

Tak hanya itu, aktivitas di Jalan Bung Hatta itu juga memancing balap liar. Sehingga, tak sedikit warga yang enggan dan takut melewati Jalan Bung Hatta. Jalan yang tembus ke Jalan Lingkar Utara itu kerap disabotase anak muda yang sudah dibawah pengaruh minuman keras.

Penertiban ini juga dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan. Bayu menepis tudingan jika penindakan yang mereka lakukan a�?tajam ke bawah namun tumpul ke atasa�?.

Pelanggaran para PKL ditindak cepat, sementara pelanggaran kakap oleh para investor, justru masih dibiarkan hingga saat ini.

a�?Yang jelas kami bergerak berdasarkan perintah. Jika kami diperintah turun, ya turun. Kalau tidak (ada perintah) ya tidak (ada penindakan),a�? jawab dia.

Sementara itu, beberapa pedagang terlihat kecewa. Meski tidak melakukan perlawanan apapun, mereka menyindir aparat, hanya berani bertindak tegas pada rakyat kecil.

Yulianti, pedagang asal Monjok misalnya menyayangkan upaya penertiban itu. Ia menilai, pemerintah lebih menyayangi tanaman daripada rakyatnya.

a�?Pemerintah ye kangenan kekembang dait rakyat ne (pemeritah lebih sayang bunga dari pada rakyatnya),a�? ujarnya kecewa.

Dia tak menampik ada sejumlah oknum penjual yang memang a�?menjajakana�? wanita dan minuman keras.

a�?Tapi itu bukan saya pak, saya loh lihat mereka (penjual lain) ada yang teriak-teriak sampai minta wanita-wanitanya menari seksi,a�? celetuknya.

a�?Kami hanya minta kebijaksanaan pemerintah, minta solusi agar ada tempat jualan,a�? kata Rahimah, salah seorang pedagang.

Sebelum dibongkar petugas, ia sendiri membongkar lapaknya yang berada di atas saluran. Termasuk meja dan gerobak diangkutnya.

Ia mengakui, pedagang salah karena berjualan di atas saluran. Tapi ia berharap ada sebuah solusi yang bisa diberikan. Sebab keberadaan para penjual di kawasan itu juga membantu mengurangi tindak kriminalitas.

a�?Dulu di sini banyak jambret, tapi sejak banyak yang jualan jambret tidak ada lagi,a�? katanya.

Pedagang aneka jenis makanan dan minuman ringan ini sehari-hari bertani. Dia menegaskan tidak pernah menjual minuman keras.

Mereka berjualan kopi seperti biasa. Tapi ia tidak membantah sebelumnya ada pedagang yang berjualan miras. Tapi setelah ditegur mereka berhenti.

a�?Tidak pernah jual itu (miras), kami hanya jualan kopi biasa,a�? ujarnya.

Kasus pembongkaran lapak PKL ini kontras dengan tindakan ke para investor. Belakangan ini ramai diberitakan sejumlah pelanggaran tata ruang.

Pelanggaran tata ruang di Kota Mataram tercatat ada 118 titik. Sampai saat ini belum ada tindakan tegas apapun. Termasuk, pelanggaran tata ruang yang dilakukan Hotel Aston dan lembaga pendidikan STIE AMM.

Khusus STIE AMM, Kepala Dinas Tata Kota Mataram H Junaidi, mengaku dilema. Toleransi masih diberikan waktu hingga kini, sampai akhirnya STIE AMM menertibkan sendiri bangunannya.

a�?Ini (AMM) kan lembaga pendidikan, gimana ya, padahal sudah diperingati dari awal. Jadi dilematis, maju kena, mundur kena,a�? kata Junaidi.(cr-zad/sir)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost