Lombok Post
Metropolis

Ciptakan Jet Tempur, Otak Encer Seperti Habibie

DRONE: Suhaedi menunjukkan pesawat tanpa awak rakitannya di Dusun Buwuh, Desa Meninting, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat.

Dia anak nelayan, tapi otaknya encer seperti Habibie. Tangan kreatifnya mampu menciptakan beberapa jenis pesawat tanpa awak. Mulai dari jenis pesawat biasa hingga jet tempur.

***

TUBUHNYA kurus, selaras dengan rambutnya yang lurus. Siang itu, Suhaedi mengajak wartawan Lombok Post ke rumahnya di Dusun Buwuh, Desa Meninting, Batulayar Lombok Barat. Jaraknya sekitar 100 meter dari Jalan Raya Senggigi, Meninting.

Untuk sampai di rumahnya, gang kecil dan pepohonan rimbun harus dilalui. Di salah satu sudut desa, rumah Suhaedi berdiri menghadap hamparan sawah. Keheningan terasa di sana.

Tidak hal mencolok di rumah ini. Tapi di salah satu kamar, barang-barang elektronik ditumpuk. Mirip sebuah gudang barang bekas.

Ruangan inilah yang digunakan Suhaedi untuk membuat pesawat-pesawat tanpa awak. Seperti pesawat latih, pesawat komersil, juga ada Jet tempur.

Semua pesawat itu merupakan karya tangan kreatif Suhaedi. Meski berukuran kecil, tapi kemampuan terbang pesawatnya cukup dahsyat. Suara dan daya jelajahnya mirip pesawat tempur sungguhan.

Ia menjelaskan, pembuatan pesawat kontrolA� tersebut dilakukan secara bertahap. Layaknya pilot yang sedang belajar, mulai dari pesawat latih dengan sayap di atas body. Setelah itu baru beranjak membuat pesawat jenis intermediet yakni pesawat yang memiliki sayap di tengah body.

Setelah itu, baru beralih membuat pesawat cepat seperti Jet tempur yang memiliki kecepatan tinggi. Beda dengan pesawat sebelumnya, dari fisik mesin pendorongnya ditaruh di dalam body. Dari segi kecepatan juga lebih kencang, danA� sayapnya lurus.

a�?Dibuat bertahap karena berkaitan dengan keseimbangan dan cara mengendalikannya,a�? jelasnya.

Selain itu, ia juga membuat pesawat yang mencontoh pesawat tempur amfibi Amerika Utara. Kelebihannya, pesawat ini bisa terbang dan mendarat di atas air. Ide pembuatan pesawat ini tidak lepas dari kehidupannya yang dekat dengan laut. Apalagi Udin, ayahnya merupakan seorang nelayan.

a�?Rumah dekat pantai, kalau jatuh susah sehingga sekalian buat yang bisa mendarat di air. Mesin sama, cuma yang membedakan proteksi saja yang beda,a�? ujarnya.

Suhaedi menjelaskan, pesawat remot buatannya ini bahan dasar bodynya dari kayu balsa ada juga yang menggunakan depron. Untuk mesin ada dua pilihan, elektrik dan enggin.

Mesin elektrik penggeraknya menggunakan motor dinamo. Sementara enggin, mesinnya sudah ada otomatis, tinggal buat body pesawat saja.

Meski pesawat remot, tapi untuk membuatnya tidak bisa sembarangan. Banyak perhitungan, pertama menentukan model dan bentuk sayap, luas dan bentuk sayap. Karena sangat berpengaruh pada keseimbangan.

Kemudian letak gravitasinya juga harus ditentukan. Setelah membentuk body tanpa mesin, harus pula dihitung berapa beratnya. Ditimbang dulu.

a�?Dari sana kita menemukan penggeraknya, jenis motor dan kekuatan motor setelah itu dirakit,a�? jelasnya.

Setelah itu, baterai juga harus diperhitungkan, kemudian dihitung lama terbangnya berapa. Kalau tidakA� seperti itu, pesawat akan hancur saat terbang.

Biaya yang dihabiskan untuk membuat satu pesawat mencapai Rp 3,5 juta.n(Sirtupillaihi/Lombok Barat/r6)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost