Lombok Post
Dunia

Goodbye Ali

Muhammad Ali (1942-2016)

Muhammad Ali, atlet terbesar dan paling karismatis dari abad ke-20, meninggal kemarin di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat. Usianya 74 tahun. Juara dunia tinju kelas berat tiga kali itu menyebut dirinya sebagai Yang Terhebat. The Greatest. Itu bukan klaim sepihak.

***

A�BOB GUNNEL, juru bicara keluarga Muhammad Ali, mengonfirmasi berita sedih tersebut. a�?Setelah 32 tahun bertarung dengan parkinson, Muhammad Ali meninggal,a�? katanya.

Beberapa hari terakhir Ali memang dirawat intensif di rumah sakit. Sebab, legenda dengan nama lahir Cassius Marcellus Clay itu mengalami masalah gangguan pernapasan karena komplikasi parkinson yang selama ini diderita.

Pihak keluarga juga telah mengumumkan upacara pemakaman Ali akan dilaksanakan di tempat kelahirannya di Louisville, Kentucky.

A�a�?Ayah kami adalah gunung kesederhanaan. Sekarang dia telah pulang ke Tuhan. Kau adalah sumber cinta dalam hidupku. Tuhan memberkatimu, Ayah,a�? cuit salah seorang putri Ali, Hana Ali, kemarin.

Gunnel menuturkan, pihak keluarga menyampaikan terima kasih sebanyak-banyaknya atas seluruh atensi dan doa yang diberikan kepada Ali selama ini. Namun, pihak keluarga belum bisa mengeluarkan pernyataan resmi secara langsung karena masih berkabung.

A�Seluruh dunia bersedih mendengar kabar duka meninggalnya Ali. Pria yang dilahirkan pada 17 Januari 1942 itu adalah sosok yang sangat besar. Namanya bahkan melebihi olahraga tinju yang membuatnya menjadi salah satu figur paling kondang di dunia.

Ali semasa hidup dikenal memiliki pergaulan luas. Dia bukan hanya atlet, tetapi juga sosok yang memiliki perhatian besar untuk kemanusiaan. Namanya tetap masyhur meski telah pensiun 36 tahun silam, yakni pada 1980.

a�?Ini adalah hari berkabung dalam kehidupan umat manusia. Ali tidak akan pernah benar-benar mati. Seperti Martin Luther King, semangatnya akan selalu hidup. Dia akan terus berdiri untuk dunia ini,a�? ucap Don King, promotor tinju terkenal yang tercatat pernah menaungi Ali di banyak laga.

Nama Ali tidak hanya besar melalui tinju. Dia panutan dalam menunjukkan keberanian memegang teguh prinsip hidup. Dia legenda lintas generasi. Namanya harum melebihi batasan ras, negara, warna kulit, maupun agama.

Pada 1966, keberaniannya dalam menolak panggilan wajib militer saat akan dikirim sebagai anggota angkatan bersenjata Amerika Serikat (AS) pada perang Vietnam membuat namanya makin melambung. Karena hal tersebut, dia juga mendapat simpati banyak pihak.

Ali melakukan itu karena berkeyakinan perang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang dia anut. Padahal, akibat keputusannya itu, gelar juara dunia yang dia miliki harus dicabut. Dia juga divonis bersalah di pengadilan dengan hukuman dijebloskan ke penjara selama lima tahun oleh pemerintah AS. Ali juga dilarang bertinju selama tiga tahun.

a�?Saya ingin dikenang sebagai seseorang yang tidak pernah menjual rakyatnya. Jika itu terlalu berlebihan, saya hanya ingin diingat sebagai petinju yang baik,a�? ucap Ali semasa hidup sebagaimana dilansir Associated Press. Kalimat itu dikeluarkan Ali saat ditanya ingin dikenang sebagai sosok seperti apa oleh generasi setelahnya.

Keinginan Ali terwujud. Sampai masa akhir hidupnya, dia masih menunjukkan perhatian besar di dunia kemanusiaan. Pada 2005, Presiden AS George W. Bush menganugerahi petinju yang pernah naik ring sebanyak 56 kali itu dengan Presidential Medal of Freedom.

Kota kelahirannya, Louisville, juga membangun Muhammad Ali Center. Di tempat tersebut, semua orang bisa mempelajari perjalanan hidup Ali. Sekaligus mempromosikan sikap toleransi dan saling menghormati yang menjadi jalan hidup Ali selama ini.

Ali memang berhasil menyentuh hati banyak orang. Salah satu yang merasakan karisma petinju berjuluk The Peoplea��s Champion tersebut adalah La Paene Masara.

Hari itu, 19 Juli 1996, di Centennial Olympic Stadium, Atlanta, mungkin jadi hari yang tak akan pernah dilupakan petinju asal Kendari tersebut. Paene bersama Hermensen Ballo, Nemo Bahari, serta Hendrik Simangunsong menjadi wakil Indonesia di Olimpiade 1996.

Keempatnya melihat langsung bagaimana Ali yang sudah mengidap parkinson berjuang menyalakan obor multievent terbesar sejagat itu.

a�?Air mata saya rasanya ingin tumpah saat melihat Ali sebagai penyala obor Olimpaide Atlanta. Saya sampai menahan napas melihat tangan Ali yang bergetar demikian hebat saat menyalakan obor.a�? Demikian testimoni Paene kemarin (4/6), ketika tahu idolanya itu meninggal. Di Olimpiade 1996, La Paene sukses menembus Olimpiade.

Pria yang kini sehari-hari berdinas di Satpol PP Jakarta itu masih ingat bagaimana jalanan Pasar Mardika Ambon, kawasan tempatnya tumbuh, akhir 1970-an sepi ketika Ali bertinju.

Karena televisi saat itu masih menjadi barang eksklusif, penghuni pasar berdesak-desakan di salah satu kios yang punya televisi. Semua terpaku menonton Ali. Kalah atau menang, Ali selalu jadi pembicaraan yang hangat di Pasar Mardika.

Paene mengidolakan Ali bukan sekadar dari sosoknya. Namun, style dan teknik bertinju Ali yang disebut menari seperti kupu-kupu dan menyengat seperti lebah benar-benar dipraktikkan.

a�?Saya mencoba bergerak lincah seperti Ali, menunggu lawan memukul, lalu memberikan pukulan balasan. Gaya itu tidak gampang meski bertahun-tahun saya mencobanya,a�? kata Paene. Selamat jalan The Greatest. (irr/dra/c10/nur)

Berita Lainnya

Yesus Benar-benar Punya Saudara?

Iklan Lombok Post