Lombok Post
Dialog Ramadhan

Bulan Pembakar Dosa!

TGH Shafwan Hakim

Assalamua��alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah atas semua nikmatNya utamanya nikmat Iman dan Islam. Begitu pula untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat lainnya: kesempatan, ilmu, rizki, dan lain sebagainya. Selawat salam kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

A�

Pembaca Rahimakumullah

Syukur kepada Allah Azzawajalla kita sampaikan, karena dengan rahmat dan ridhoNya kita bersua kembali dengan bulan suci ramdhan yang penuh berkah itu dalam keadaan sehat wala��afiat, setelah kita banyak berdoa untuk dipertemukan kembali dengan Ramadan. Bertemu kembali dengan Ramadan adalah karunia yang istimewa dari Allah kepada setiap orang muslim.

Dengan datangnya bulan Ramadan seorang muslim akan dapat menambah kekayaan amal shalihnya. Ramadan telah memberikan nilai lebih dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya dengan predikatnya yang tidak sedikit. Dimana masing-masing predikat tersebut mempunyai nilai kelebihan yang memberikan keuntungan bagi setiap orang yang menghidupkannya.

Ramadan berarti membakar dosa, dari segi nama saja sudah memberikan kesan yang sangat dalam. Dengan predikat tersebut seseorang mempunyai semangat berbuat menjadi lebih bergairah, optimis dan sungguh-sungguh tanpa memperhitungkan risiko pisik karena ingin memperoleh maghfirah dari Allah SWT, dengan maghfirah itu diyakini pintu surga menjadi terbuka.

Ramadan juga dikenal dengan sebutan syahrusshabri bulan sabar, sedangkan sabar itu balasannya adalah surga. Dengan demikian seseorang akan menempatkan dirinya menjadi orang yang berpredikat sabar. Untuk meraih predikat tersebut, maka dia harus menahan segala cobaan atau ujian hidup dari yang paling ringan sampai yang terberat.

Tidak hanya ujian penderitaan, tetapi juga ujian kesenangan dan kebahagiaan, karena tidak sedikit orang terjatuh karena kesenangan, jabatan dan kekayaan. Allah SWT menguji hamba-hambanya dengan dua hal tersebut.

Apakah kita bisa bersabar menghadapi kedua ujian tersebut? kenyataanlah yang akan berbicara.

Ramadan juga bulan tolong menolong, artinya bulan tersebut menjadi ajang yang luas untuk dapat mewujudkan terciptanya Taa��awun antara sesama, antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain sehingga dapat melahirkan amal shalih yang besar dan bermanfaat untuk orang banyak, disebutkan dalam hadist dengan Syahrul Muaawat. Tolong menolong dalam kehidupan sangat diperlukan, apalagi bila diingat bahwa manusia itu diciptakan sebagai makhluk sosial bukan makhluk individual atau yang hidup sendiri-sendiri sebagaimana: ular, belut, tokek, dan lain-lain.

Hidup bersama itu telah ditunjukkan dalam banyak hal dalam islam seperti kewajiban melaksanakan Salat Jumat, anjuran dalam bentuk sunat muakkad salat berjamaah setiap salat fardhu, demikian pulaA� pada salat hari raya, salat istisqo, salat gerhana matahari dan gerhana bulan, semua dianjurkan dengan berjamaah.

Tidak hanya salat, dalam pelaksanaan rukun haji dengan melaksanakan wukuf di padang Arafah hanya diperbolehkan pada hari yang sama yaitu tanggal 9 Dzulhijjah setelah gelincir matahari sampai subuh.

Selain dua hal di atas, diyakini oleh umat islam bahwa rizki pada bulan mulia tersebut bertambah banyak dari biasanya, sebab pada bulan tersebut sering dijadikan sebagai momen untuk mengeluarkan zakat dan memperbanyak sedaqah, juga mengerjakanA� sunat lainnya. Dijelaskan juga oleh Nabi Muhammad SAW–bahwa berbuat kebaikan (sunat) pada bulan Ramadan nilai pahalanya sama dengan pahala mengerjakan fardhu, sedangkan mengerjakan satu fardhu sama nilainya dengan melaksanakan tujuh puluh kali fardhu.

Nilai-nilai inilah yang memberikan motivasi terhadap umat islam untuk berbuat lebih semangat pada bulan Ramadan, selain nilai pahala dilipat-gandakan, juga macam-macam kelebihan lainnya-seperti bulan turunnya al-Qura��an, anjuran untuk qiyaamu Ramadan/salat tarwih dan witir, juga melaksanakan itikaf, lebih-lebih pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah keberadaan lailatul Qadr pada salah satu malam ganjil pada sepuluh terakhir ramadhan.

Lailatul Qadr menjadi sangat istimewa dan luar biasa, karena melakukan ibadah satu malam nilainya lebih dari seribu bulan atau delapan puluh tiga tahun empat bulan, sebuah nilai yang fantastis dan sangat membahagiakan seseorang dalam kehidupannya didunia dan diakhirat.

Kita berharap dan berdoa semoga Ramadan ini dapat mengantarkan kita masuk surga melalui pintu ar-Rayyan. Amin ya Rabbal alamin.(*/r6)

Berita Lainnya

Museum Alquran Terbesar Kedua di Dunia ada di Jakarta

Redaksi Lombok Post

Hadirkan True Broadband Experience

Redaksi Lombok post

Peristiwa Pulomas

Redaksi Lombok post

Zakat Fitrah

Redaksi Lombok post

Nafsu yang Mutmainnah

Redaksi Lombok post

Ketahanan Jiwa

Redaksi Lombok post

Waspada dan Hati-hati

Redaksi Lombok post

Pelajaran dari AL-Lahab

Redaksi Lombok post

Jangan Menjadi Pendusta Agama

Redaksi Lombok post