Lombok Post
Metropolis

Untuk Makan, Pengungsi Cari Hutangan

B-Warga Pesisir
PASRAH: Sejumlah warga Lingkungan Bagek Kembar yang tinggal di tenda pengungsian hanya bisa berdiam diri, kemarin. Para nelayan di wilayah ini tidak bisa melaut dikarenakan gelombang masih membahayakan.

MATARAMA�– Hingga kemarin, gelombang pasang masih menjadi momok yang menakutkan bagi para warga pesisir Pantai Ampenan dan Sekarbela. Bagaimana tidak, gelombang pasang telah memporak-porandakan tempat tinggal mereka.

Mereka pun tidak bisa melaksanakan ativitas sehari-hari melaut mencari ikan. Mengingat, gelombang pasang ini sangat berbahaya bagi warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Untuk memenuhi makan minum dan kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan bantuan dari Dinsosnakertrans. Jika bantuan kurang, mereka terpaksa berhutang.

a�?Kami nggak berani melaut. Jadi untuk makan, cari hutangan,a�? kata Putra salah seorang nelayan Bagek Kembar.

Saat ditemui, ia dan istrinya tengah mengeluarkan pasir yang menimbun rumahnya dengan ketinggian hampir satu meter. Untuk sementara waktu, mereka mengaku tinggal di tenda pengungsian yang dibangun Tagana Disonsnakertrans Kota Mataram.

Gelombang pasang yang cukup besar ini dikatakan Putra sudah berlangsung selama sekitar setengah bulan. Sehingga, para nelayan dibuat kebingungan untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Sehingga berhutang pun menjadi satu-satunya solusi yang ditempuh para nelayan saat ini.

a�?Tiga hari sejak Selasa sampai Kamis lalu kami sempat dikasih nasi bungkus dari Tagana. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Makanya mau nggak mau saya ngutang ke sana kemari buat makan keluarga,a�? kata Sukianah, istri Putra.

Kedatangan gelombang pasang ini diakui warga pesisir di Bagek Kembar berlangsung hampir setiap tahun. Meski demikian mereka enggan meninggalkan kediamannya yang langsung berhadapan dengan bibir pantai. Dikarenakan, mereka mengaku tidak punya tempat tinggal lain.

a�?Mau pindah kemana? Tanah nggak ada, rumah nggak punya. Kami juga tidak bisa bekerja apa-apa, selain menjadi nelayan,a�? akunya.

Sehingga, dengan kondisi ini mau tidak mau ia hanya bisa mengharapkan bantuan dari teman atau keluarga agar mau meminjamkan uangnya. Sambil berharap gelombang pasang yang cukup besar bisa segera berhenti agar mereka bisa segera melaut kembali.

Tak jauh dari tempat tinggal Putra, Sahlan, nelayan lainnya juga nampak sedang mengeluarkan pasir dari rumahnya. Ia juga terlihat tengah membersihkan air sumur di sekitar area rumahnya.

a�?Bukan hanya merusak rumah, air sumur juga meluap bersama air pantai. Jadi kami susah cari air minum,a�? kata Sahlan.

Sehingga, untuk minum dan kebutuhan air bersih sehari-hari Sahlan dan beberapa keluarga nelayan yang ada di Bagek Kembar lainnya terpaksa harus mengambil air bersih jauh dari tempat tinggal mereka. Karena, air sumur yang mereka bangun sudah tidak memungkinkan lagi digunakan untuk memasak dan minum.

a�?Airnya bau dan kotor, penuh pasir dan sampah. Makanya ambil air ke daratan yang akan jauh dari pantai,a�? ungkap Sahlan.

Bersama anak dan istrinya, Sahlan nampak hanya bisa berdiam diri sambil sesekali mengeluarkan pasir yang menumpuki tempat tinggal mereka. Ia semakin dibuat pusing mengingat biaya kebutuhan hidup sehari-hari.

a�?Apalagi sekarang sudah mau puasa. Bingung mau cari hutang dimana untuk menutupi kebutuhan puasa tahun ini,a�? katanya. (ton/r4)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost