Lombok Post
Dialog Ramadhan

Ramadan Bulan Rahmat

Dialog Ramadhan

Assalamua��alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah, segala pujian hanya bagi Allah atas semua nikmatNya utamanya nikmat Iman dan Islam. Begitu pula untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat lainnya : kesempatan, ilmu, rizki, dan lain sebagainya. Selawat salam kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarga dan sahabat-sahabat beliau.

Pembaca Rahimakumullah

Sepuluh hari pertama dari bulan suci Ramadan adalah rahmat. Kata rahmatan merupakan bentuk mashdar dari rahimaa��yarhamu-rahmatan– yang berarti mengasihi atau menaruh kasihan.

Maksudnya bahwa sepuluh malam pertama itu merupakan curahan kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya baik berwujud rezeki, usia, kedudukan, ilmu, kemudahan-kemudahan, dan lain sebagainya yang semuanya tidak bisa disebutkan satu per satu.

Kesempatan tersebut bagi orang beriman merupakan peluang emas untuk memohon apa saja dari ramhat Allah tersebut, dan Allah swt pasti akan mengabulkannya sesuai dengan janjiNya : Memohonlah kepadaKu, Aku akan perkenankan bagimu.

Tentu saja dalam memohon hendaknya kita yakin bahwa doa tersebut pasti akan dikabulkan Allah swt. Jangan sekali-kali ragu apalagi pesimis untuk dikabulkan karena yang demikian itu salah satu bentuk sua��udzan kepada Allah azza wajalla yang Maha Pengasih dan Maha Kaya.

Allah swt tidak pernah khawatir kekurangan apapun yang dimohonkan oleh hamba-hambaNya. Karena di tanganNya lah segala yang dibutuhkan oleh makhluk-makhlukNya baik yang berada diatas bumi, di lautan, di langit, atau dimana saja mereka berada.

Keperluan mereka sudah disiapkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing baik jumlahnya, keras lunaknya, padat dan cairnya.

Manusia tidak boleh khawatir tidak akan kebagian rezeki berapapun jumlah mereka. Sekalipun hitung-hitungan mereka sangat mengkhawatirkan akan pendapatan mereka tidak merata. Karena perlu disadari bahwa hitungan manusia itu sangat terbatas.

Mereka menghitung apa yang mereka ketahui dalam jangkauan pikirannya, namun masih terlalu banyak karunia Allah yang tidak dapat mereka hitung baik sumber-sumbernya, atau jumlahnya, dan macamnya.

Secara manusiawi, manusia boleh khawatir dan wajar mereka khawatir lantaran berpijak kepada makhluk, dan tidak mengembalikannya kepada qudrat dan iradat Allah yang Maha Tidak Terbatas karuniaNya yang dapat diberikan kepada siapa saja hamba-hambaNya.

Beberapa ratus tahun yang lalu sebelum alat-alat canggih ditemukan, tidak terbayangkan pada pikiran orang bahwa kita dapat sampai ke tanah suci Mekkah hanya dalam jangka waktu sepuluh jam setengah.

Demikian pula dengan rezeki Allah yang Maha Kaya lainnya. Dia sesuaikan jumlahnya dengan jumlah manusia yang memerlukannya. Bahkan mereka diberikan rezeki itu tidak hanya yang ada di sekitarnya. Melainkan rezeki yang jauh-jauhpun didatangkan dengan sangat mudah.

Dahulu kita hanya menikmati makanan yang dibuat oleh keluarga dan tetangga saja. Tapi kini kita dapat menikmati makanan halal yang dibuat di negara-negara yang sangat jauh, demikian pula dengan bermacam buah-buahan, semuanya dapat terjadi semata-mata datangnya dari Allah swt, bukan dari manusia semata atau alat-alat teknologi yang diciptakan oleh mereka.

Karenanya dalam keadaan apapun kita tetap kembali kepada Allah dan memohon pertolonganNya untuk menyampaikan segala kebutuhan kita baik yang bersifat moral maupun material.

Semoga kita menjadi hamba-hamba yang selalu menggantungkan diri kepada Allah azza wajalla. Amin ya Rabbal alamin. (r10)

Berita Lainnya

Museum Alquran Terbesar Kedua di Dunia ada di Jakarta

Redaksi Lombok Post

Hadirkan True Broadband Experience

Redaksi Lombok post

Peristiwa Pulomas

Redaksi Lombok post

Zakat Fitrah

Redaksi Lombok post

Nafsu yang Mutmainnah

Redaksi Lombok post

Ketahanan Jiwa

Redaksi Lombok post

Waspada dan Hati-hati

Redaksi Lombok post

Pelajaran dari AL-Lahab

Redaksi Lombok post

Jangan Menjadi Pendusta Agama

Redaksi Lombok post