Lombok Post
Metropolis

Tiga Bulan Bertambah 33 Orang

HIV
HIV

MATARAM – Dalam tiga bulan pertama di tahun 2016, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) NTB mencatat tambahan 33 penderita HIV/AIDS. Yang memprihatinkan, sebagian besar penderita didominasi oleh usia produktif.

a�?Hingga Maret tahun ini, kita mencatat ada tambahan 18 kasus HIV dan 15 kasus AIDS,a�? jelas Sekretaris KPA Soeharmanto, kemarin (7/6).

Jika dikomulatifkan, kini terdata sekitar 515 penderita HIV dan 653 penderita AIDS. Temuan terbanyak masih didominasi oleh Kota Mataram sebesar 447 kasus, menyusul kemudian Lombok Timur sebesar 189 kasus, dan Lombok Bvarat 150 kasus.

a�?Paling banyak temuan di Pulau Lombok. Itu karena akses kita di Sumbawa juga masih terbatas untuk melakukan pemeriksaan, jadi belum banyak penderita yang terdata,a�? katanya.

Kasus HIV/AIDS sendiri memang diibaratkan sebagai fenomena gunung es. Hanya sebagian saja yang baru mencuat atau terdata. Sementara, masih banyak penderita lain yang tak mengetahui atau malu untuk memeriksakan diri.

Sejauh ini, penderita HIV/AIDS tertinggi masih didominasi oleh pekerja wiraswasta sebesar 246 kasus. Menyusul kemudian kalangan ibu rumah tangga (IRT) sebesar 206 kasus dan rata-rata ditularkan oleh suami mereka sendiri.

a�?Dari kalangan PNS juga ada sekitar 51 kasus,a�? imbuhnya.Yang harus juga menjadi perhatian, lanjut Soeharmanto, kasus HIV/AIDS masih cukup tinggi di kalangan eks Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Sejauh ini, ada sekitar 83 eks TKI yang terdata menderita penyakit mematikan tersebut.

a�?Itu baru yang terdata, tapi kan tidak semua TKI yang balik semua memeriksakan diri,a�? katanya.

Ia mengakui, pengawasan TKI yang baru pulang ke tanah air masih minim. Sementara, resiko mereka untuk tertular HIV/AIDS di negeri seberang patut diantisipasi. Apalagi, mereka bertahun-tahun terpisah dari pasangannya.

KPA mengaku, beberapa tahun lalu sebenarnya sempat berkoordinasi dengan pihak terkait membahas kemungkinan dilakukannya pemeriksaan HIV/AIDS bagi TKI yang baru tiba di tanah air.

a�?Kita sudah bahas dan dulu kesimpulannya, kita akan tempatkan petugas di bandara untuk melakukan pemeriksaan terhadap buruh migran yang pulang,a�? jelasnya.

Namun, diakui, konsep pengawasan itu masih sulit direalisasikan. Terutama melihat keterbatasan sarana prasarana dan jumlah tenaga pengawas. Alhasil, seperti biasa, TKI yang pulang kembali ke tanah air tidak melakukan checkup ulang.

a�?Kedepannya, konsep pengawasan bagi eks TKI ini perlu kita bahas lagi dengan pihak-pihak terkait agar benar-benar terealisasi.

Mungkin kita bisa manfaatkan embarkasi haji untuk melakukan tes HIV/AIDS kepada eks TKI,a�? pungkasnya. (uki/r9)

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost