Lombok Post
Perspektif

Catatan Ramadan

MEMASUKI bulan Ramadan bertepatan dengan Senin, 06 Juni 2016. Waktu yang diyakini sebagai bulan suci, penuh hikmah dan sebagai bulan peningkatan amal ibadah, sebulan penuh.

Ramadan penuh maaf. Sebelum Ramadan dan saat Idul Fitri kita menjadi begitu menyesali banyak kesalahan. Kefatalan yang pernah dilakukan. Bermaafan dengan keluarga, tetangga dan kerabat. Tapi mungkin, kita tak maafkan soal pelayanan publik yang terbengkalai dengan alasan bulan puasa.

Karena puasa harusnya tak menjadi alasan mengapa orang menunda pelayanan, mengapa orang menjadi bermalasan. Bukankah justru, berkah Ramadan akan lebih terasa bila difungsikan sebagai bulan pendongkrak semangat kerja.

Ramadan sebagai bulan penuh rahmat sekaligus ujian. Bagaimana banyak rumah makan yang diharuskan tutup di siang hari untuk saling menghormati.

Meski kadang, di situ kita merasa asing sendiri. Bagaimana mungkin iman kita hanya diuji sebatas buka tutup rumah makan? Yang benar saja. Jika puasa adalah sekedar menahan lapar, sungguh dalam lapar kita pun diuji untuk bersabar.

Konteksnya suasana Ramadan selalu tak hanya identik dengan soal ibadah. Secara kasat mata, bulan ini pun kadang terasa banal menjadi bulan banjir konsumsi. Banjir iklan media, promo dan diskon belanja mulai dari makanan, pakaian, kendaraan dan banyak lagi.

Memasuki Ramadan, justru yang sering kali kita dengar adalah soal kenaikan harga sejumlah bahan pokok makanan. Paling hits adalah soal harga daging. Lebih dari seminggu sebelum Ramadan, Presiden berpidato meminta agar harga daging dapat ditekan.

Tapi apa hendak dikata, sehari menjelang Ramadan, bahkan sampai tadi pagi sebelum tulisan ini saya ketik, harga daging sapi di pasar masih berkisar Rp 115 ribu sampai Rp 120 ribu per kilogram.

Kadang kita selalu merasa heran dengan begitu ramai media massa memberitakan, mengkonfirmasi soal kenaikan harga-harga.

Atau bahkan pemerintah yang jauh hari menjanjikan soal turun harga sejumlah bahan pokok. Faktanya mengontrol harga di pasar tentu tak semudah membuka panci untuk mengontrol apakah masakan sudah matang dan mendidih atau belum.

Ada yang bilang. Kenapa kita mesti ikut ribut harga daging sih? Memangnya kita konsumen tetap daging? Makan tiap hari lauk tahu tempe saja kok saat harga daging tinggi malah ribut.

Benarkah kita konsumen daging? Bisa jadi benar. Karena harga yang mahal kita tak mampu mengkonsumsinya. Atau, mungkin saja kita lebih baik menjadi vegetarian yang hanya mengkonsumsi sayur mayur saja.

Baiklah. Mungkin tak setiap hari kita membeli daging seperti membeli beras, bahan bakar minyak, atau membeli pulsa. Tidak rutin, tidak setiap hari.

Tapi perlu diingat. Betul kita tak beli daging, tapi kita menjadi pelanggan tetap bakso, sate dan masakan berbagan baku daging.

Saat satu porsi bakso/sate terhidang dan nampak lebih sedikit, maka orang pertama yang kita protes adalah tukang bakso, tukang sate. Kita lupa bahwa mereka juga konsumen daging yang harganya meroket itu.

Tak hanya daging. Harga kangkung kini juga meningkat. Harga kangkung yang sebelumnya berkisar Rp 500 sampai Rp 2.000 perikat.

Kini sudah tembus Rp 3.000 a�� Rp 5.000 per ikat untuk kangkung dengan batang pucuk. Kalau kangkung dengan banyak daun beda lagi. Tapi, tak ada kangkung seikat di bawah Rp 1.000.

Mengenai kenaikan harga kangkung ini saya tak ingin debat. Bagus jika harga kangkung naik. Tak hanya daging, minyak goreng kemasan, sirup, susu, dan banyak lagi produk pabrik dan kemasan yang notabene menjadi produk sekaligus konsumsi kelas menengah ke atas saja yang harganya naik. Setidaknya produksi petani kangkung kita, punya sejarah kenaikan harga. Saat Ramadan.

Sungguh rasanya memang perdebatan kita sepanjang tahun ini masih berkutat pada soal pangan, konsumsi, makanan. Kebetulan saja rasanya menjelang Ramadan, tadinya kita berpikir dengan puasa ada perubahan pola konsumsi untuk lebih irit dari makan tiga kali menjadi dua kali sehari. Tapi rasanya tidak begitu.

Seorang kawan berkata. a�?Puasa, untuk sebagian orang tak serta merta menjadikannya merasa cukup, menambah rasa sabar, atau hanya sekedar a�?menahana�? lapar dan dahaga sehingga menjelang magrib rasanya memang tak tertahan. Puncaknya saat azan berkumandang semua menu dihajar, mulut terus mengunyah, estafetA� sepanjang malam sampai waktu imsak. Hanya dijeda waktu tidur.a�?

Kadang kita heran, bulan ini acap kita jumpai, bahkan terasa ada peningkatan jumlah pengemis. Benarkah demikian? Tak jarang kita jumpai di pinggir jalan, lampu lalu lintas, pusat keramaian, mereka hadir sebagai sisi lain yang menginterupsi di tengah keramaian.

Entah dari mana datangnya. Bulan ini rasanya mereka begitu terorganisir rapi, mulai dari anak-anak yang memiliki cacat fisik, atau ibu yang menggendong bayi.

Betul Ramadan bulan berbagi, tapi tak bisa juga kebablasan. Dengan memberi sepanjang jalan, kadang terasa mengabaikan sisi kenyamanan sekaligus menghormati dan menghargai mereka yang hidup dalam kekurangan.

Lagi-lagi seperti kata tetangga saya, dalam hal ini kita perlu selektif. Pengemis juga tak sepenuhnya mengemis karena mereka kekurangan, tapi ada juga yang memanfaatkan kebaikan orang lain.

Lantas ia bercerita tentang razia yang digelar pemerintah kota Mataram untuk penertiban anak jalanan, pengemis di hari pertama Ramadan lalu.

Di antaranya ada yang pura-pura cacat tangan dan kakinya untuk mendapat belas kasian, mereka terjaring aparat. Jadi menurutnya kalau mau berbagi rezeki, alangkah lebih baik datangi langsung ke rumahnya, sekalian bersilaturrahmi.

Akhir kata, jika saja setiap bulan adalah Ramadan. Maka ada begitu menyisakan banyak pertanyaan. Mengapa harga barang banyak yang meningkat? Mengapa sangat ramai bunyi petasan? Mengapa beraneka menu tersaji di meja makan? Mengapa ini, mengapa itu? Hingga kita berpikir tentang banyak hal mulai dari soal sosial yang mendasar sampai banjir komentar.

Di samping semua itu, semoga kita terus diingatkan untuk ibadah dan amal dan perbanyak renungan, refleksi dan perubahan ke arah yang lebih baik. Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Semoga senantiasa selalu dalam keberkahan. Insya Alloha�� (r10)

Berita Lainnya

Hari Kartini dan Wajah Pribumi

Redaksi Lombok Post

Ragam Seragam

Redaksi Lombok post

Job, Non Job and Jobs

Redaksi Lombok post

2017

Redaksi Lombok post

Musibah

Redaksi Lombok post

Mengulang Tahun

Redaksi Lombok post

Seratus Tahun Nyala Tungku

Redaksi Lombok post

Kopia�� Ah

Redaksi Lombok post

Mengerjakan Rencana

Redaksi Lombok post