Lombok Post
Bima - Dompu

Ibu Bupati, Wildan Butuh Bantuan

TERKENDALA BIAYA: Muhamad Wildan, bayi enam bulan penderita Hydrocepalus saat dirawat di RSUD Bima, kemarin (8/6).

KOTA BIMA – Muhamad Wildan, putra pasangan Misbah, 42 tahun dan Abdullah, 45 tahun divonis menderita penyakit hydrocepalus.

Bayi enam bulan ini mengidap ini saat memasuki usia satu bulan. Kepala bayi asal Desa Rupe, Kecamatan Langgudu ini membesar.

Ibu Wildan, Misbah cukup terpukul dengan kondisi anaknya. Ia terus meneteskan air mata ketika membawa buah hatinya ke IGD RSUD Bima, kemarin (8/6).

Wildan ini mengalami gangguan yang menyebabkan cairan terus bertambah dan menekan jaringan otak di sekitarnya. Khususnya di pusat-pusat saraf yang vital. Semakin hari, cairan di kepala Wildan kian bertambah banyak.

Misbah mengaku, anaknya sudah 10 hari dirawat di RSUD Bima. Namun tidak juga menunjukan perubahan.

a�?Waktu melahirkan Wildan, kondisi saya lemah sehingga dioperasia�? jelasnya.

Tidak ada tanda-tanda kelainan saat Wildan lahir. Tapi, memasuki usia satu bulan ke atas, gejala pembengkakan pada kepalanya mulai terlihat.

a�?Sejak saat itu, anak saya mulai sering menangis pada malam hari. Mungkin karena dia merasa kesakitan,a�? ujarnya.

Ayah Wildan, Abdullah mengaku, pengobatan hanya bermodalkan kartu BPJS dari pemerintah. Karena penghasilannya sebagai pekerja serabutan tidak mampu menutupi biaya perawatan Wildan.

a�?Untuk periksa ke dokter saja, saya harus berhutang ke tetangga,a�? jelasnya.

Ia tidak ingat sudah berapa kali membawa Wildan ke dokter dan rumah sakit. Dalam minggu ini untuk kali ketiga dirinya membawa sang buah hati ke RSUD BIma.

Wildan dibawa ke rumah sakit karena kondisinya makin memburuk. Hasil pemeriksaan terakhir, Wildan disarankan agar dirujuk ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Karena harus dioperasi untuk mengeluarkan cairan dalam kepalanya.

Hanya saja, rujukan itu tak mampu dipenuhi orang tua Wildan. Misbah dan Abdullah tergolong warga yang tidak mampu. Selama ini, untuk mengobati Wildan mereka mengandalkan kartu BPJS.

a�?Sebelumnya Wildan sudah pernah dibawa ke Bali. Sekarang diminta untuk dirujuk lagi, sementara kami sudah tak punya biaya,a�? jelasnya.

Abdullah dan Misbah kini hanya bisa pasrah. Beberapa hari terakhir, perawatan anak keduanya itu didampingi Tim Reaksi Cepat Perlindungan Anak (TRC-PA), TRC Pendamping Kesejahteraan Sosial Anak (PKSA) dan Lembaga Perlindungan Anak Kota Bima.

Namun, untuk biaya pengobatan lebih lanjut ke Denpasar, lembaga pemerhati anak ini tak bisa berbuat banyak. Mereka harus berkoordinasi dengan pemerintah.

a�?Pendampingan terhadap Wildan tetap kami lakukan untuk memastikan dia terlayani dengan baik,a�? kata Perwakilan TRC PA Bima Salmah. (yet/r1)

Berita Lainnya

IKKB Papua Barat Bantu Korban Gempa

Redaksi LombokPost

Etos Kerja Harus Meningkat selama Ramadan

Pemkot Bima Lanjutkan Perbaikan Infrastruktur Sisa Banjir

Redaksi LombokPost

Miliki Sabu, IRT Diringkus

Ops Ketupat Gatarin 2018 Dimulai

Masih Ditemukan Makanan Kedaluwarsa

Penataan Ama Hami Dilanjutkan

Berkas Ketua PDIP Kota Bima Dilimpahkan ke Kejaksaan

Redaksi LombokPost

KPU Kota Bima Mulai Lipat Surat Suara