Lombok Post
Feature

Keliling Cari ABK, Berdayakan Mantan TKW

CURHAT: Fitri Nugrahaningrum (kanan) menangis dan memeluk Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa yang berkunjung ke rumahnya di Desa Kediri, Lombok Barat, Minggu (5/6). Kunjungan menteri ini dimanfaatkan Fitri untuk mencurahkan isi hatinya tentang nasib kaum difabel selama ini.

Jalan berliku harus dilalui Fitri Nugrahaningrum dalam membantu anak berkebutuhan khusus (ABK) yang kurang mampu. Bermodal semangat, wanita tuna netra ini pantang mundur. Perjuangannya kini mulai menyedot perhatian banyak khalayak.A�A�

***

HARI itu, Fitri Nugrahaningrum pulang sekolah sendiri. Teman yang biasa menemaninya tidak bisa mengantar pulang. Dengan mata tidak sempurna, siswi SMAN 5 Surakarta inipun berjalan.

Sayang bus yang ditumpangi salah jurusan. Ketika berjalan ia tersasar dan nyaris ditabrak mobil. Beruntung nyawanya selamat berkat bantuan anak-anak jalanan yang sedang berkeliaran di tempat itu.

Peristiwa ini masih melekat di benak Fitri. Sebab, sejak saat itulah ia memulai kiprahnya membantu anak-anak kurang mampu.

Meski masih duduk di bangku kelas II SMA, Fitri tergerak membuka ruang belajar bagi anak-anak jalanan itu dengan mendirikan Yayasan Alfitrah tahun 17 Desember 1998. Mengajarkan mereka baca tulis dan ilmu pengetahuan.

a�?Di situlah saya memulai karya itu, mereka awal dari karya saya,a�? kata alumi Pasca Sarjana Universitas Negeri Sebelar Maret (UNS) Surakarta, jurusan pengembaangan masyarakat ini.

Sejak saat itu pula, Fitri berkecimpung dalam dunia pendidikan. Tidak sebagai guru PNS, tetapi mendirikan lembaga pendidikan non formal untuk mengajar anak-anak kurang mampu.

Meski dengan sumberdaya seadanya, tapi lembaga yang dibentuknya terus berkembang. Muridnya bertambah banyak. Sampai akhirnya tahun 2005 saat menempuh pendidikan S2, ia mendirikan Yayasan Satelit Masa Depan Negara (Samara) Solo.

Muridnya mencapai 500 orang lebih. Mereka belajar pada sore hari dengan meminjam ruang kelas sekolah di lingkungannya.

Pindah ke Lombok.

Pengalaman ini menjadi modal bagi Fitri ketika pindah ke Lombok. Mendirikan yayasan yang sama di Pulau Seribu Masjid ini.

Samara memiliki arti, bahwa anak kecil adalah generasi penerus bangsa. Mereka punya potensi yang sama untuk bisa maju membangun bangsa.

Jika mentalitas sejak kecil sampai dewasa dibina dengan bagus, maka negara juga akan bagus. Sementara satelit memiliki makna, anak-anak harus dibawa terbang jauh membangun mimipinya. Segalanya itu tidak ada batas, walaupun hidup terbatas baik dari segi fisik, ekonomi dan sebagainya tapi mereka bisa mengejar mimpi tanpa batas.

Tapi tujuan mulia ini tidak mudah diwujudkan. Awalnya, apa yang dilakukan Fitri dengan mengajar anak-anak dipandang sebelah mata. Fitnah pun silih berganti menyambangi.

Oleh beberapa orang ia dianggap sengaja membangun yayasan tersebut hanya untuk mencari-cari sumbangan. Padahal ia tidak pernah mencari-cari sumbangan, apalagi lembaganya tidak memiliki badan hukum.

Dukungan dari pemerintah desa, kecamtan dan hingga pemerintah kabupaten juga minim. Kekurangan dana pun kerap dialami untuk biaya operasional Samara. Tapi ia tidak pernah putus asa.

Masalah demi masalah dijadikannya motivasi untuk terus maju, membantu anak-anak kurang mampu. Terutama anak berkebutuhan khusus, mereka harus diselamatkan.

a�?Kalau tidak ada yang nyumbang juga tidak apa-apa, yang penting anak binaan saya berdaya dengan usaha,a�? katanya.

Ia percaya niat baik pasti hasilnya akan baik. Terbukti 238 murid bisa belajar gratis. Mereka terdiri dari murid Pendidikan Usia Dini (Paud) 121 orang, murid TPA sebanyak 465 orang anak, kaum disabilitas 250 orang anak. Selain itu, ada 60 orang lanjut usia, dan 100 orang ibu rumah tangga dan mantan TKW diberdayakan Samara.

a�?Semuanya gratis,a�? ujarnya.

Lambat laun, hasilnya mulai terlihat. Masyarakat semakin percaya dengan yayasan Samara. Tidak hanya begerak di bidang pendidikan. Fitri kini juga membantu para mantan tenaga kerja wanita (TKW) untuk bisa mandiri.

Mereka diajarkan membuat berbagai jenis kerajinan tangan seperti tas rajut, gantungan kunci, cendera mata.

Juga dilatih membuat berbagai produk makanan seperti kerupuk kulit, kopi, juga budidaya jamur. Industri kecil seperti membuat topi dan sebagainya. Sementara bagi para tuna netra mereka juga diajarkan pijat refleksi, dan urut.

Dengan cara ini diharapkan, mantan TKW memiliki keterampilan yang memadai sehingga punya penghasilan sendiri. Tanpa harus balik bekerja ke luar negeri.

Karena menurutnya, buruh migran ini merupakan salah satu sumber masalah, meski banyak yang berhasil tapi banyak juga yang terpuruk. Akhirnya anaklah yang menjadi korban, mereka tidak mampu melanjutkan sekolah.

Namun, ia menyadri upaya ini juga tidak mudah. Kondisi sosial ekonomi yang kurang berpihak kerap mendorong mereka untuk kembali bekerja ke luar negeri.

Banyak ABK Telantar Pembinaan keterampilan ini sekaligus untuk menyiapkan kaum difabel memasuki dunia kerja.

Setelah mereka memiliki pengetahuan, mereka juga pasti harus terjun ke dunia kerja. Tapi faktanya, kaum difabel sangat sulit diterima perusahaan. Hampir tidak ada perusahaan yang mau mempekerjakan penyandang disabilitas.

a�?Pendidikan sulit, lebih-lebih di dunia kerja lebih sulit lagi,a�? katanya.

Menurutnya, sikap diskriminatif ini tidak lepas dari pandangan masyarakat yang belum terbuka terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Mereka masih dianggap sebagai aib. Sehingga banyak juga orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya bila cacat. Bukan karena meraka tidak sayang anak, tapi mereka ingin melindungan sang anak dari perlakuan lingkungan sosial yang kerap menghina mereka.

a�?Saking sayangnya pada anak, orang tua takut anaknya diapa-apakan di luar sana, sehingga tidak disekolahkan,a�? ujarnya.

Menurutnya, anak berkebutuhan khusus jangan ditertawakan atau dikucilkan. Mereka harus diterima apa adanya, karena kekurangan dan kelebihan itu datang dari Allah.

Manusialah yang saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi kondisi ideal ini masih sulit terujudkan. Kenyataanya, banyak anak berkebutuhan khusus tidak mendapatkan hak pendidikan.

a�?Jangankan mau kuliah, untuk SD SMP saja banyak anak berkebutuhan tidak dibolehkan,a�? katanya.

Kondisi ini membuat Fitri akhirnya harus keliling ke pelosok-pelosok Pulau Lombok mencari anak-anak tersebut. Mengajaknya masuk sekolah dan belajar seperti siswa lainnya.

Sekarang, gerakannya tidak hanya terbatas di Desa Kediri tetapi juga sudah membangun tempat binaan di Janapria Lombok Tengah, Desa Tanjung Luar Lombok Timur, termasuk di Selagalas Kota Mataram.

Perjuangan Fitri kini banyak mengundang perhatian publik. Kegigihannya dalam memperjuangkan nasib sesama kaum disabilitas dan kurang mampu mengetuk hati banyak orang.

Minggu (5/6) lalu, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa turun langsung melihat kondisiA� lembaga pendidikan Samara di RT 3 Dusun Karang Bedil, Desa Kediri Lombok Barat.

Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mencurahkan segala isi hatinya, perjuangan berliku yang dilalui dalam membantu sesama kaum disabilitas. Sebelumnya, Fitri juga terpilih menjadi salah satu Hero 2014 Kick Andy. Juga pernah masuk ke dalam beberapa program televisi.

Tapi baginya, penghargaan itu bukan akhir dari perjuangan. Tujuan hakikinya adalah ingin melihat anak-anak berkebutuhan khusus di NTB maju, mendapat perlakuan yang sama.

Akses pendidikan yang mudah dan terjangkau, juga hak-hak lain sebagai warga negara. Tidak ada lagi diskriminasi. (Sirtupilaihi/Lombok Barat /r10)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post