Lombok Post
Metropolis

Ini Kewajiban, Bukan Pilihan

Mia Rusmayanti
Mia Rusmayanti

MATARAM – Pro kontra terkait perempuan yang menggunakan jilbab terus bermunculan. Mengingat, banyak perempuan yang menggunakan jilbab namun dinilai perilakunya masih kurang baik.

Terkait hal ini, Mia Rusmayanti, Duta Bahasa Provinsi NTB punya penjelasan menarik. a�?Satu hal yang harus diingat, jilbab itu kewajiban bagi perempuan.Bukan pilihan.

“Jadi nggak harus nunggu perilaku kita baik dulu baru berjilbab,a�? jelasnya.

Dikatakan, berjilbab tidak menjamin seseorang bahwa ia akan langsung berperilaku baik. Namun demikian, Mia sapaan akrabnya menekankan bahwa jilbab adalah sebuah kewajiban sehingga mau tidak mau harus diikuti oleh perempuan muslim. Terlepas nanti perilaku apakah baik atau tidak.

a�?Jangan sampai menyalahkan jilbabnya,a�? jelasnya.

Tak dipungkiri, saat ini masih banyak orang yang menggunakan jilbab hanya karena terpaksa. Meski demikian, ia menjelaskan hal itu tidak jadi masalah. Karena meski berawal dari paksaan, nantinya siapa tahu perempuan tersebut akan menjadi terbiasa mengenakan hijab.

a�?Logikanya sederhana, meskipun terkesan tidak konsisten karena bongkar pasang jilbab. Paling tidak ketika memasang jilbab, dosa seseorang perempuan dijelaskan bisa berkurang,a�? jelasnya.

Ia mencoba memahami pendapat banyak orang non muslim yang mencoba menggeneralisasikan perempuan muslim dengan penganut agama lainnya. Hal itu dijelaskannya karena mereka belum paham tentang aturan yang diajarkan agama Islam.

a�?Kalau mereka paham tentang Islam, mereka pasti tau kalau jilbab itu adalah kewajiban, bukanlah pilihan seperti yang banyak dianggap saat ini,a�? jelasnya.

Mia sendiri memilih tetap konsisten menggunakan jilbab. Bahkan, ia menuturkan punya pengalaman menarik terkait jilbab ini. a�?Kebetulan aku kan sering ngisi acara sebagai MC. Pernah sekali waktu aku diminta untuk ngisi acara tapi tidak pakai jilbab, ya langsung saja aku tolak,a�? tutur mahasiswa semester akhir Jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi Unram ini.

Meski demikian, dulu Mia mengaku di awal sempat merasa gerah dan terganggu menggunakan jilbab. Mengingat ia memiliki hobi traveling.

a�?Awalnya sih dulu gerah kalau pakai jilbab kemana-mana. Tapi lama-lama kalau nggak pakai jilbab, aku malah merasa lebih nggak nyaman.

“Aneh saja rasanya kalau nggak pakai jilbab keluar rumah,a�? jelasnya.

Bahkan, ketika mengikuti pertukaran pelajar ke Kanada sekali pun, Mia mengaku konsisten menggunakan hijab. Dimana di salah satu daerah di Kanada, orang dijelaskan tidak boleh menggunakan simbol keagamaan.

a�?Saya kasih penjelasan sederhana saja. Saya bilang ini sudah menjadi kewajiban bagi muslimah. Mereka pun menghormati,a�? jelasnya.

Untuk itu, ia merasa tidak masalah kalau awalnya menggunakan hijab memang dipaksakan. Karena, itu memang sudah seharusnya.

Lama kelamaan ia yakin pasti seorang muslimah akan menyadari kalau itu adalah kewajiban mereka. a�?Banyak kok teman-teman yang awalnya coba-coba kini malah konsisten menggunakan jilbab,a�? akunya. (ton/r6)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post