Lombok Post
Metropolis

Semoga Bukan Sekadar Janji

Arif Mandu
Arif Mandu

MATARAM – Perum Bulog wilayah NTB berjanji akan menyerap seluruh produksi bawang merah di Kabupaten Bima. Ini sesuai kesepakatan di awal, di mana Bulog berjanji akan menyerap 750 ton bawang.

a�?Kita pasti akan serap 100 persen dengan syarat kualitasnya memang masih memungkinkan,a�? kata Kepala Bulog NTB Arif Mandu.

Diakui, Bulog memang sudah membuat kesepakatan dengan petani bawang di Bima untuk menyerap total produksi 750 ton. Namun, ia mengakui, dalam pelaksanaannya sejauh ini baru bisa menyerap 477 ton dan masih tersisa sekitar 272 ton.

a�?Penyerapan memang harus dilakukan bertahap karena kita juga masih menunggu distribusi bawang di Jakarta selesai. Kalau dipaksakan pengiriman langsung, bawang akan rusak,a�? jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, kelompok tani dan pedagang bawang merah dari Kecamatan Woha dan Monta mendatangi Kantor Bulog Subdivre II Bima, Selasa (7/6).

Mereka memprotes sekaligus mempertanyakan kejelasan pengiriman bawang merah. Para petani ini datang menggunakan truk dan mobil pikap.

Kali ini, mereka membawa pula bawang merah yang tak jadi dikirim. Sekitar 30 ton bawang mereka itu dibawa ke Kantor Bulog.

Bulog sendiri dipastikan tak keberatan untuk menyerap seluruh produksi bawang merah petani Bima. Namun, harga pembelian sendiri tampaknya harus mengalami perubahan.

Jika dalam perjanjian sebelumnya ditentukan harga pembelian Rp 20 ribu per kilo, kini Bulog mengaku hanya bisa membeli dengan harga Rp 16 ribu per kilo.

a�?Kita juga mempertimbangkan penyusutan. Bawang itu penyusutannya tinggi, bisa sampai 20-30 persen,a�? jelas Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Wahyu Supariyono.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian NTB HusnulFauzi juga akan ikut turun memfasilitasi diskusi antara Bulog dengan petani bawang merah.

Terkait harga pembelian oleh Bulog yang turun dari perjanjiannya, Husnul mengaku itu memang bisa saja terjadi.

a�?Memang harga pembelian itu bisa berkembang, tidak mesti sesuai dalam MoU,a�? katanya.

Menurutnya, Pemprov akan tetap mendorong terealisasinya harga pembelian sesuai kesepakatan awal. Namun, jika dalam diskusi antara Bulog dan petani sendiri menyepakati harga pembelian Rp 16 ribu per kilo, itu pun tak jadi masalah.

Menurut Husnul, dengan harga Rp 16 ribu pun petani sebenarnya sudah diuntungkan. Pasalnya, BEP keuntungan petani minimal Rp 8000 per kilo.

a�?Dengan harga Rp 8000 saja petani itu sudah untung. Jadi, kalau dibeli Rp 16 ribu juga tetap dapat untung,a�? jelas Husnul. (uki/r9)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Rajin Blusukan ke Sejumlah Sentra Kerajinan Tenun

Redaksi LombokPost

Kreatif..!! Babinsa di Mataram Ganti BBM Motor Dengan Elpiji 3 Kg

Redaksi LombokPost

Ada Kemungkinan Passing Grade Diturunkan

Redaksi LombokPost

Anggota Pokmas Harus Lebih Rajin

Redaksi LombokPost

Mantap, Wali Kota Ingin UMK Naik

Redaksi Lombok Post

Peserta Tes CPNS Dilarang Bawa Jimat

Redaksi Lombok Post