Lombok Post
Selong

Harta Tak Ada, Pasrah Dengan Keadaan

BINGUNG: Tapaul Kapi (kanan), pria yang membantu Siti Hidayatun sejak dari Jakarta hingga tiba di Lombok saat berada di Dinsosnakertrans Lotim, akhir pekan lalu.

Lama bekerja di luar negeri tak lantas menjadikan Siti Hidayatun bergelimang harta benda. Nyaris tak ada hasil yang dibawanya. Situasi itu bertambah rumit dengan kondisinya yang seperti hilang ingatan.

***

a�?SAYA bertemu dia di bandara Cengkareng (Jakarta, Red),a�? kata Tapaul Kapi bercerita. Pria ini adalah orang yang pertama menemukan Siti Hidayatun. Kala itu, ia yang berniat kembali ke Lombok usai mendaftar keberangakatan TKI di Jakarta.

Di Ibukota Tapaul mengaku bertemu Siti di musala bandara. Perempuan itu tampak bingung. Sambil terus berdoa, Siti tak henti meneteskan air mata.

Melihat Tapaul yang sudah selesai salat, ia lantas memberanikan diri bertanya. Tak disangka, tujuan mereka sama. Sama-sama menuju Lombok. Oleh majikannya di Uni Emirat Arab (UEA) Siti dibelikan tiket lengkap.

Transit di Singapura, lalu Jakarta, dan Lombok menjadi tujuan terakhir. Bertemu Tapaul, ia mendapat kemudahan pertama. Namun penderitaannya tak lantas sirna. Dia masih bingung hendak pulang ke mana. Mendengar kisah gadis tersebut, Tapaul tersentuh.

a�?Yang penting saya bisa temani dia sampai Lombok dulu,a�? kata pria berjanggut tersebut.

Sejumlah keluarga lantas dihubungi. Dimohonkan bantuan agar bisa menampung sementara TKW yang sedang bingung mencari keluarga, kampung, bahkan jati dirinya itu.

Makin menyedihkan ketika ia mengetahui nyaris tak ada harta benda yang dibawanya. Hanya sebuah koper berisi pakaian saja. Ditambah uang Rp 400 ribu.

Majikan yang membawanya ke UEA pasca perang saudara di Suriah meletus memang bukanlah orang berada. Bisa diizinkan tinggal bersama saja sudah berkah baginya. Bahkan bila perlu, ia ingin selamanya bersama sang majikan. Tak digajipun tak mengapa.

Namun apa daya. Izin kerjanya berakhir jua. Dia harus kembali. Namun entah kembali ke mana. Dengan harta yang nyaris tak ada, Siti pasrah dengan keadaannya.

Tapaul adalah orang baik pertama yang menolongnya. Setelah itu datang Triyati. Pemerhati perempuan yang bernaung dalam Yayasan Mampu.

Sejumlah dinas lantas didatangi. Dan jalan keluar sementara adalah menitipkan Siti di panti sosial di Mataram. Sembari itu jati dirinya coba terus dilacak.

a�?Ini adalah kisah pilu TKI dalam kasus yang berbeda,a�? kata Triyati penuh iba.

Siti kini hanya pasrah. Dia mengikuti seluruh saran dan masukan yang diberikan orang-orang yang mendampinginya. Dia yang sebatang kara hanya bisa berdoa, segera dipertemukan dengan keluarga sebenarnya. Tak lagi terlunta-lunta tanpa kejelasan nasib dan masa depan.

a�?Saya bingung mau apa, saya seorang diri di sini,a�? katanya dengan mata berkaca-kaca. (Wahyu Prihadi/ Selong.r3)

Berita Lainnya

Menange Rambang Butuh Sentuhan

Redaksi LombokPost

SECO Tempat Khusus Minum Kopi, Bukan Memburu Wifi

Redaksi LombokPost

Kuota Haji Lotim 2019 Bertambah

Redaksi LombokPost

RT BERIMAN Jadi Kampung Tertib Lalu Lintas

Redaksi LombokPost

P3K Harapan Terakhir Honorer

Redaksi LombokPost

SDM Pelaku Usaha Wisata Masih Rendah

Redaksi LombokPost

Partai Jangan Pasang APK Sembarangan!

Redaksi LombokPost

267 CPNS Lotim Lolos SKB

Redaksi LombokPost

Bencana Tiba, TSBD Tak Bergigi

Redaksi LombokPost