Lombok Post
Metropolis

Petasan Masih Menjadi Ancaman Ramadan

Petasan (1)
HARUS DIPANTAU: Sejumlah pedagangpetasan di Jalan Pejanggik nampak sudah mulai berjualan sejak siang hari kemarin.

MATARAM – Surat edaran wali kota terkait penggunaan petasan dan rumah makan selama Ramadan sudah disebarkan. Namun, edaran ini ternyata masih belum ampuh untuk menangani maraknya penggunaan petasan yang dirasakan mengganggu warga. Banyak anak-anak dan remaja nekat meledakkan petasan saat orang sedang menjalankan ibadah.

a�?Kami bersama pihak Kepolisian sudah merazia pedagang petasan beberapa kali. Walaupun akhirnya kami kucing-kucingan karena mereka menyembunyikan petasan yang dilarang dijual,a�? kata Kabid Trantibum Sat Pol PP Kota Mataram, Bayu Pancapati.

Bersama aparat kepolisian, Pol PP menyita sejumlah petasan atau kembang api yang memiliki daya ledak tinggi. Bayu juga menjelaskan terkait petasan yang banyak diledakkan di dalam lingkungan-lingkungan, timnya sudah melaksanakan patroli. Hasilnya, saat mobil patroli lewat, anak-anak remaja yang meledakkan petasan dikatakan sepi. Namun, setelah mobil patroli tidak mengawasi, petasan kembali diledakkan. a�?Nggak mungkin kan anggota saya standby di satu lokasi secara terus-terusan,a�? katanya.

Langkah yang dilakukan Sat Pol PP bersama aparat kepolisian juga nampaknya masih belum bisa memberi efek jera pada pedagang petasan. Buktinya, saat ini hampir di setiap ruas jalan ditemukan pedagang petasan. Misalnya saja di sepanjang Jalan Pejanggik Cakranegara dan Jalan Airlangga. Para pedagang petasan terlihat berjejer di pinggir jalan menjual petasan.

Untuk itu, Sat Pol PP meminta adanya peran aktif dari pihak orang tua atau tokoh masyarakat setempat yang wilayahnya mengalami gangguan akibat petasan. Karena, yang menggangu atau bermain petasan dikatakannya pastinya anak-anak atau remaja dari lingkungan mereka sendiri. a�?Nggak mungkin kan anak-anak Ampenan main petasan di Dasan Agung,a�? cetusnya.

Jika orang tua dan tokoh masyarakat setempat bisa aktif, BayuA� mengaku permasalahan petasan bisa diatasi. Apalagi jika anak-anak tersebut memang menghormati orang tua dan tokoh di lingkungannya. Tidak selalu harus bergantung kepada aparat keamanan.A� Karena dijelaskannya aparatnya jumlahnya terbatas.a�?Di lingkungan saya ada juga anak-anak main petasan, diperingati dua sampai tiga kali ternyata belum mempan. Makanya kita panggil orang tuanya yang mengingatkan. Alhamdulillah sekarang sudah tidak ada,a�? akunya.

Terpisah, Camat Cakranegara M Salman Rusdi mengakui saat ini masih banyak pedagang petasan yang berjualan di wilayahnya. Bisa dikatakan, Cakranegara adalah pusat penjualan petasan. Dimana bukan hanya pedagang eceran, melainkan beberapa pedagang grosir berada di wilayah ini.

a�?Kalau himbauan terkait surat edaran wali kota tentu kami sudah lakukan beberapa kali. Tapi pastinya nanti ada saja beberapa pedagang yang bandel. Ini yang sulit kami tindak, karena kami kan tidak punya alat atau tim yang menindak,a�? katanya saat ditemui di kantornya kemarin.

Sehingga, jika pemberantasan petasan diserahkan ke kecamatan atau kelurahan, ia mengaku tidak bisa menindak para pedagang. a�?Untuk itu, kami tentu butuh bantuan aparat keamanan. Maka kami akan terus berkoordinasi dengan Sat Pol PP kepolisian atau pihak yang terkait,a�? kata dia. (ton)A�

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost

Baginya, yang Penting Jangan Mengemis!

Redaksi LombokPost

Ibu Kota kok Kotor?

Redaksi LombokPost