Lombok Post
Headline Kriminal

Pemkot Melarang tapi Polisi Izinkan Penjualan

JUAL PETASAN : Bapak Sarinah salah satu pedagang petasan yang berjualan di Jalan Sultan Hasanudin, Mataram ini mengaku memiliki surat ijin menjual petasan. Ijin tersebut dikeluarkan dari agen dimana tempat Ia mengambil barang

Entah sejak kapan petasan identik dengan bulan Ramadan. Memasuki bulan puasa bahan peledak ini ramai dinyalakan. Meski sudah dilarang namun nyatanya peredarannya seperti sulit dihentikan.

***

MALAM Ramadan di Mataram, lantunan ayat suci Alquran banyak terdengar selepas tarawih. Mengalun memecah keheningan dari sejumlah pengeras suara.

Namun sesekali suara merdu itu terusik oleh letusan disertai bunga api yang menguar keudara. Kadang hanya ledakan keras dengan sedikit asap. Itulah petasan, yang memekakan pendengaran di malam Ramadan.

Pemerintah Kota Mataram memang sudah memberi peringatan keras kepada para penjual untuk tak mengedarkan mercon selama Ramadan.

Namun disisi lainnya para pedagang bisa berlindung dari izin penjualan yang dikeluarkan kepolisian. Ini belum termasuk peredaran petasan secara A�tak resmi. Adanya dua aturan berbeda ini tentu menjadi celah besar bagi peredaran petasan.

Salah seorang distributor Petasan di Cakranegara mengatakan, untuk menjual petasan, pihaknya sudah mengantongi ijin dari pihak kepolisian. Baik itu dari Polda NTB hingga ke Polres diA� seluruh kabupaten dan kota.

A�a�?Kita sudah memiliki ijin dari polisi lengkap. Polres Lombok Barat, Polres Mataram, Polres Lombok tengah. Polres Lombok Timur saja yang belum bisa,a�? ujarnya.

Menurutnya, dalam izin yang dikeluarkan pihak kepolisian itu tidak mencantumkan kategori petasan yang boleh diperjualbelikan. Sehingga, berbagai bentuk petasan itu dapat dijual begitu saja kepada pengecer.

a�?(Karena itu) Saya tidak tahu kenapa polisi melakukan razia,a�? ujarnya.

a�?Pengecer yang membeli petasan di saya, sudah saya uruskan ijinnya di kepolisian,a�? ungkapnya.

A�Distributor yang enggan disebut namanya itu mencontohkan tahun A�ini Polres Lombok Tengah (Loteng) melakukan banyak razia petasan. Padahal menurutnya A�polres Loteng sudah mengeluarkan ijin A�penjualan tersebut. Namun, mereka turun melakukan razia dengan mengambil semua petasan.

a�?Lebih baik ijin tersebut jangan dikeluarkan. Jika memang para pedagang masih saja ditindak,a�? ujarnya.

Sementara itu, pengecer petasan Alwan merasa dirugikan dengan tindakan kepolisian. Karena, petasan yang mereka jual sudah memiliki ijin.

a�?Kami itu berhutang untuk dapat menjual petasan. Kasihan kami yang bergantung hidup pada penjualan petasan ini,a�? ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan, memang polisi mengeluarkan ijin untuk penjualan petasan. Namun, yang diberikan ijin tersebut memiliki kategori.

a�?Bahan petasan yang memiliki daya ledak tinggi akan ditertibkan. Karena sudah menyalahi aturan,a�? jelasnya.

Selain itu lanjutnya, itu sudah mengganggu ketertiban umum. Dan dapat mengganggu umat muslim yang menjalankan ibadah.

a�?Petasan ini yang ditindak adalah petasan yang dapat mengganggu ketentraman dan ketertiban,a�? jelasnya.

Polisi mengambil tindakan itu untuk menjaga cipta kondisi. Agar selama bulan Ramadan ini tidak terjadi konflik yang tidak diinginkan.

a�?Takutnya, gara-gara petasan antar kelompok nantinya bisa berseteru. Itu yang diantisipasi,a�? ungkapnya.

Terkait hal ini akademisi Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) Prof. Dr Husni menilai, petasan ini memang tidak diatur secara rinci di dalam Peraturan Daerah (Perda).

Selama ini penindakan petasan didasarkan pada Perda Kota Mataram Nomor 11 tahun 2015 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum. Dimana, petasan itu dianggap dapat mengganggu ketentraman dan ketertiban umum.

a�?Seharusnya perda tersebut harus direvisi. Dengan memasukkan kategori petasan yang dapat menggangu ketertiban umum,a�? ujarnya.

Dengan demikian, paling tidak nantinya petasan ini dapat diatur secara rinci. Baik itu tempat penggunaannya dan kategori petasan yang dapat dijual.

a�?Mungkin hanya tempat dan waktu saja yang harus dirubah untuk bisa membunyikan petasan. Yaitu, kegiatan pesta, tahun baru dan berbagai kegiatan lainnya,a�? ungkapnya.

Sementara itu ijin yang dikeluarkan aparat kepolisian, mungkin sudah tertera beberapa kategori petasan yang boleh diperjualbelikan. Sehingga, para distributor petasan bisa menjual petasan tersebut.

a�?Saya belum tahu secara pasti isi ijin yang ada didalam kepolisian. Yang pasti, jika memang itu melanggar ketertiban, maka polisi akan melakukan tindakan,a�? ujarnya. (arl/r3)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Jaksa Siap Eksekusi Baiq Nuril

Redaksi LombokPost

Dana BOS Dipakai Untuk Beli Motor

Redaksi LombokPost