Lombok Post
Selong

Gunakan Berbagai Cara, Semua Demi Pundi Rupiah

MINTA SUMBANGAN: Seorang ibu yang meminta sumbangan dengan sebuah map yang ditenteng di Polres Lotim, kemarin (22/6).

Satpol PP Lotim sudah menegaskan tak mentolerir tindakan minta-minta (mengemis, Red) selama Ramadan. Nyatanya aksi tersebut masih terjadi. Alasan kemiskinan menjadi dalih utama. Selain itu kecenderungan umat muslim lebih dermawan di bulan Ramadan menjadi kesempatan yang tak dilewatkan.

***

MENGENAKANA� jilbab coklat seorang ibu menenteng map merah di tangannya. Sejumlah orang yang kala itu sedang mengurus berbagai keperluan di Polres Lombok Timur (Lotim) dihampiri.

a�?Sedekah nak,a�? katanya memelas.

Beberapa mengacuhkannya, tak jarang juga ada yang tersentuh dan langsung memberi. Entah benar atau tidak, ia mengaku membawa amanat dari panti asuhan di Jerowaru. Map yang ditentengnyalah sebagai pembenar kegiatan ibu tersebut.

Ditempat terpisah, Seorang kakek berperawakan kurus memasuki kantor BKD Lotim pagi menjelang siang, kemarin. Menjinjing tas lusuh dengan bantuan tongkat untuk berjalan, kakek itu memasuki satu demi satu ruang di kantor tersebut. Kendati nampak berjalan terhuyung seperti orang sempoyongan, dengan pasti ia mendatangi para pegawai yang ada.

Setelah mengucap salam, ia langsung menengadahkan tangan ke lawan bicaranya. Kakek yang mengaku bernama Papuq Amat ini sedang menjalankan profesinya sebagai peminta-minta. Walaupun terlihat lemas dan hampir jatuh saat berjalan, ia terbilang kuat. Setiap hari dari pagi hingga siang iang selalu menyisir kantor-kantor yang ada di seputaran Selong. Itu belum termasuk keliling ke rumah-rumah penduduk jika masih ada tenaga. Tak jarang ia baru pulang sore hari bahkan jelang malam.

a�?Sudah lupa,a�? jawabnya ketika ditanya sejak kapan berkeliling meminta-minta.

Pemandangan tak berbeda tampak jelas di pusat perbelanjaan SB di Pancor. Di sana, sekelompok pengemis dengan sabar duduk di luar pintu toko. Mereka memasang wajah memelas setiap kali ada pengunjung yang keluar masuk. Beragam cara dilakukan, semua demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Yang jelas momentum puasa membuat pemasukan mereka bisa berkali lipat. Makin banyak warga yang mudah iba dan langsung beramal.

Imbauan Satpol PP Lotim untuk tak memberikan peminta-mintapun kerap diabaikan masyarakat. Para peminta lebih acuh lagi. Mereka tak takut dengan larangan meminta-minta yang sudah dikeluarkan. Kendati bisa diancam tindak pidana ringan, mengganggu ketertiban umum, peminta-minta tetap menjamur selama puasa. a�?Semua yang minta-minta bisa kami tangkap,a�? ancam Kasatpol PP Lotim Salmun Rahman yang terbukti tak digubris.

Selain itu Dinsosnakertrans Lotim menjadi pihak yang paling getol menyuarakan pengehentian memberikan uang pada peminta-minta. Bukan bermaksud jahat, namun hal ini dianggap tak mendidik. Terlebih jika peminta itu masih sehat jasmaninya. Apa lagi ada indikasi kegiatan meminta-minta ini dilakukan dengan koordinasi yang matang oleh orang yang sengaja membawa para peminta untuk disebar. a�?Itu kan tidak bisa dibenarkan, kalau mau amal, lebih baik ke lembaga resmi saja, misalnya Bazda supaya merata,a�? kata Kadissosnakertrans Lotim, HM Aminullah.A�Wahyu Prihadi. (r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

Ditilang, Siswa Madrasah Nangis Minta Pulang

Redaksi LombokPost