Lombok Post
Metropolis

Malu Dijuluki a�?Buka-Tutupa��

Kartika Sari
Kartika Sari

MATARAM – Butuh momen yang tepat bagi seorang perempuan untuk bisa berkomitmen mulai merubah dirinya. Termasuk juga dalam urusan berhijab. Tidak semua orang bisa langsung tersentuh hatinya untuk mau menggunakan hijab dengan paksaan.

Ada beberapa yang memang butuh dorongan dari lingkungannya. Seperti yang diungkapkan Kartika Sari mahasiswa Akademi Kebidan Bhakti Kencana.

a�?Kalau dipaksa memang sih sah-sah saja. Karena itu kan kewajiban. Tapi kalau dipaksa, banyak yang akhirnya buka-tutup jilbabnya,a�? katanya.

Hal itu dikatakan Kartika yang membuat citra wanita muslimah ternoda di mata masyarakat kalangan umum. Apalagi, selain buka tutup jilbab, beberapa perempuan juga tak bisa menjaga akhlaknya dengan baik. Sehingga, meski dilakukan oleh oknum, akhirnya nama wanita berhijab ikut dibawa.

a�?Alangkah lebih baik kalau ada dorongan dari diri sendiri. Sudah sepatutnya setiap wanita muslim juga sadar bahwa jilbab adalah kewajiban. Jadi malu pada diri sendiri kalau tidak berjilbab,a�? ujar dia.

a�?Tak kalah penting juga jangan sampai merusak citra perempuan yang berjilbab,a�? imbuhnya.

Tika, sapaan akrabnya menceritakan bagaimana ia kini bisa konsisten bisa berhijab. Karena, sebelumnya ia juga mengaku sebagai salah seorang muslimah yang tidak konsisten mengenakan hijabnya.

a�?Bahkan dulu sering dijuluki a�?buka-tutupa�� sama teman-teman. Karena sering bongkar-pasang jilbab,a�? tutur perempuan ini.

Hal itu ia lakukan karena sebelumnya ia mengaku aktif dalam kegiatan ektrakurikuler dance. Sehingga, ketika tampil dalam pertunjukan dance, ia pun terpaksan membuka jilbabnya.

a�?Tau sendirilah kalau anak dance itu penampilannya kayak gimana,a�? cetusnya.

Ketidakkonsistenannya menggunakan hijab ini diakuinya berlangsung lama. Sehingga, julukan a�?buka-tutupa�� dari teman-temannya pun semakin melekat.

Hal ini ternyata membuatnya tidak nyaman. Namun, ia merasa belum memiliki dorongan yang kuat untuk mulai konsisten menggunakan hijab.

a�?Pernah pas saya ada praktek di Sumbawa. Ada anak kecil sendirian menggunakan jilbab di tengah teman-temannya yang mayoritas beragama hindu. Saya tanya dia kenapa konsisten sekali menggunakan hijab, padahal masih kecil,a�? ungkapnya.

a�?Di bilang dia diajarin orang tuanya kalau berjilbab itu kewajiban. Makanya saya jadi malu sendiri sama anak kecil tersebut,a�? sambungnya.

Dari sanalah ia akhirnya tergerak untuk terus konsisten menggunakan hijab. Tika merasa malu pada dirinya sendiri karena selama ini tidak menyadari kewajibannya sebagai seorang perempuan muslim.

a�?Alhamdulillah sekarang sudah istiqomah selama dua tahun konsisten menggunakan hijab,a�? akunya.

Ia makin konsisten menggunakan hijab setelah berada di organisasi Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram. Semakin banyak orang di lingkungan sekitarnya yang menggunakan hijab membuatnya semakin merasa nyaman. Bahkan ia merasa dengan siapa perempuan berteman akan sangat menentukan bagi akhlak dan perilakunya. (ton/r6)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost