Lombok Post
Praya

Berharap Pertolongan Gubernur dan Bupati

PELUKAN HANGAT: Depita Agustina, saat mendapatkan pelukan hangat dari ibu tercintanya, Jahriatun.

Ironis, masih ada saja orang yang tega memanfaatkan situasi untuk mencari keuntungan. Hal ini menimpa keluarga Depita, yang konon berkali-kali mendapatkan bantuan, tapi disunat ditengah jalan.

***

BANTUAN itu mulai bergelontoran turun, begitu Jahriatun ibu Depita mengisahkan penderitaannya di jejaring sosial facebook. Langkah itu dilakukan Jahriatun, karenaA� merasa pemerintah benar-benar tutup mata pada konsisi buah hatinya. Padahal, mereka berkali-kali mendatangi kantor bupati, hingga kantor gubernur. Belum lagi, pimpinan dinas dan instansi terkait.

Niat ingin bertemu langsung dengan pemimpin daerah itu pupus ditengah jalan, lantaram diusir petugas Satpol PP. Parahnya lagi, di tingkat pemerintah desa dan dusun, Jahriatun dan keluarga dianggap sebagai aib desa.

Para aparatur desa itu, tidak terima kalau Jahriatun terlalu menggembar-gemborkan potret kemiskinannya. Di satu sisi, ia memang membutuhkan dana yang cukup, untuk menyembuhkan anak tercintanya, yang divonis menderita gangguan cairan hormon pertumbuhan tulang.

Terakhir, ia meminta surat keterangan tidak mampu, yang diterbitkan pemerintah Desa Braim, tertanggal 29 Juli 2015 lalu. Dokumen itu sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan dari Dinas Sosnakertans Loteng. Begitu lengkap, jangankan bantuan uang atau barang yang turun, malah tidak ada apa-apa.

Kondisi itu pun membuat Jahriatun merenungkan nasib kemiskinannya. Bagi ibu yang lahir pada 7 Januari 1979 tersebut, selama Sang Maha Pencipta tetap memberikan karunia kesehatan, maka ikhtiar jalan keluarnya. a�?Sudah tidak terhitung berapa hutang saya ke tetangga dan keluarga, untuk menyembuhan Depita,a�? ujarnya.

Sudah tidak terhitung pula, berapa kali ia membawa Depita ke Puskesmas dan rumah sakit. Namun, mereka angkat tangan karena penyakit yang diderita Depita, sulit disembuhkan. Kecuali, di rujuk ke rumah sakit yang memiliki kelengkapan alat kesehatan, obat-obatan dan dokter spesialis.

a�?Saya heran, di desa saya malah dianggap aib. Kalau memang mereka malu, kenapa tidak mereka membantu. Jangankan uang, untuk dapat surat keterangan itu saja, sulitnya,a�? keluh Jahriatun.

Sementara itu, Kepala Desa (kades) Braim Habib mengaku tidak pernah menyulitkan warganya, untuk mendapatkan dokumen apa pun itu. Apalagi, urusan bantuan. Pihaknya mengaku siap membackup keluarga Jahriatun untuk bertemu dengan bupati dan gubernur. a�?Kebetulan yang menerbitkan surat keterangan itu, dari Sekdes saya. Bukan saya pribadi,a�? ujarnya.

Kendati demikian, pihaknya tidak akan mengungkit-ungkit persoalan masa lalu. Yang penting, kata Habib pemerintah dan hamba Allah SWT, bisa terketuk hatinya untuk membantu Depita, keluar dari penyakitnya tersebut. a�?Mohon bantuannya,a�? seru Habib.(Dedi Shopan Shopian/Lombok Tengah/r3)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Jangan Larang Anak-Anak Masuk Masjid

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Hujan Datang, Longsor Mengancam

Redaksi LombokPost

Anggaran Tidak Terduga Tetap Tersedia

Redaksi LombokPost

PAD Bocor, Pemkab Libatkan BPK

Redaksi LombokPost