Lombok Post
Metropolis

Pemulung Diminta Bayar Rp 1,9 Juta

A-SISWA MISKIN-SIR (1)
TIDAK MAMPU: Amaq Jamirah bersama dua anaknya M Masrah (laki-laki) dan Nurfiah (perempuan) tinggal di gubuk reot milikinya di RT 01 Lingkungan Irigasi Kelurahan Taman Sari, Ampenan. Bapak empat anak ini kesulitan membayar uang seragam sekolah anaknya.

MATARAM – Sekolah gratis hanya selogan. Pada kenyataanya, para siswa di Kota Mataram harus mengeluarkan uang berjuta-juta rupiah untuk mendapatkan hak pendidikannya. Bagi siswa kurang mampu, praktik seperti ini semakin menjerat. Bahkan mereka terancam tidak bisa sekolah.

Seperti M Masrah, siswa baru SMPN 13 Mataram yang kesulitan membayar uang seragam sebesar Rp 1.995.000 yang diminta pihak sekolah. Meski sudah diterima dari hasil seleksi nilai, namun sampai saat ini nasibnya menggantung, sebab uang seragam belum bisa dibayar. Penghasilan kedua orang tuanya sebagai pemulung dan buruh tani tidak akan mampu memenuhi uang sebanyak itu.

Masrah khawatir batal masuk sekolah tahun ini. Sebab tidak ada jaminan tahun depan ia bisa melanjutkan pendidikan.

a�?Sedih melihat teman yang lain sudah bayar, sementara saya belum pasti,a�? keluhnya.

Amaq Jamirah sang bapak mengaku masih bingung mendapatkan uang untuk sekolah anaknya. Persediaan uang Rp 1 juta yang ditabung jauh-jauh hari ternyata tidak cukup.

a�?Mau dapat uang darimana, hanya itu (uang) yang saya punya,a�? katanya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung ini hanya bisa berharap, ada keringanan dari pihak sekolah untuk anaknya. Sebab ia ingin melihat sang anak bisa masuk sekolah seperti yang lain.

a�?Mudahan anak saya bisa masuk, itu saja,a�? kata warga Lingkungan Irigasi, Kelurahan Taman Sari Ampenan ini.

Ketua RT 04 Suaeb yang membantu pendaftaran sang anak mengaku ia sudah berusaha mendatangi pihak sekolah. Meminta keringanan dan kejelasan nasib M Masrah, tapi sampai kemarin ia belum mendapat kejelasan. Saat menanyakan ke panitia, ia diminta menghadap ke kepala tata usaha, namun sulit ditemui.

Sebagai tetangga ia berharap anak tersebut bisa kembali diterima. Ia tergerak membantu karena kasihan melihat Amaq Jamirah yang sudah tua tidak akan mampu menyekolahkan anaknya.

a�?Kasihan bapak ini dia benar-benar tidak mampu,a�? ujarnya.

Sementara itu Kepala SMPN 13 Mataram Dodik Sartijo membantah adanya perlakuan sama antara siswa mampu dan tidak. Ia mengatakan, bagi siswa miskin tak mesti harus membeli seragam di sekolah.

“Boleh beli di luar atau pakai seragam bekas ” kata Dodik.

Ia menjelaskan, harga seragam di sekolah bagi siswa kurang mampu tidak dipatok. Ada keringanan bagi siswa seperti ini.

“Kami ingin siswa miskin melapor di sekolah agar diberikan keringanan,” imbuhnya. Bahkan lanjut Dodik, jika benar tidak mampu akan digratiskan. “Lapor ke saya kalau tidak mampu. Nanti akan kami gratiskan seragamnya,” tegas Dodik.

Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Mataram H Sudenom mengatakan, bila tidak mampu membeli seragam di sekolah hal itu tidak jadi masalah. Asal sudah lulus dan terdaftar melalui jalur resmi, maka anak itu sudah bisa masuk sekolah seperti yang lain. Masalah seragam tidak mesti membeli di sekolah, orang tua bisa membeli di luar.

a�?Yang penting dia ngomong baik-baik ke kepala sekolah, nanti itu masalah seragam tidak usaha dipaksan, yang penting daftar saja dulu,a�? katanya.

Ia menegaskan, membeli seragam sekolah tidak harus di sekolah. Orang tua bisa mencarikan di pasar asal sama warnanya. Pihak sekolah pun tidak boleh memaksa orang tua siswa membeli. Asal seragam yang dibeli sama warnanya. Intinya saat ini anak tersebut sudah daftar dan bisa belajar.

a�?Jangan memaksakan diri beli seragam di sekolah, silahkan beli di luar,a�? katanya ketus.

Pada hari pertama masuk sekolah juga tidak masalah mengenakan seragam berbeda bila belum ada uang. Untuk itu ia meminta orang tua berkomunikasi langsung dengan pihak sekolah.

Sudenom menegaskan, bila kepala sekolah diketahui memaksa orang tua membeli seragam, Dikpora akan memberikan teguran keras. Sebab pemerintah tidak pernah memaksa anak membeli seragam di sekolah.(ili/jay/r4)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost