Lombok Post
Headline Metropolis

Branding Ulang Lebaran Topat

REZEKI NOMPLOK: Para pedagang dadakan di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram, ramal-ramal menjual busung (Kulit Ketupat) sehari sebelum perayaan Lebaran Topat, Kemarin (12/7).Tradisi Lebaran Topat kembali dirayakan masyarakat Sasak hari ini di tengah desakan perlunya mengemas ulang tradisi yang berusia ratusan tahun ini untuk menarik minat wisatawan mancanegara dan nusantara.

Berusia ratusan tahun, tradisi Lebaran Topat tetap tak bisa menjadi magnet bagi turis nusantara dan mancanegara. Kemasan yang monoton, kreasi dan atraksi yang miskin, menjadikan tradisi ini tak dilirik turis. Pelaku wisata pun susah bukan main menjual tradisi ini. Sementara kemacetan yang ditimbulkannya, gunungan sampah yang ditinggalkannya, mengundang segudang keluh kesah. Mumpung NTB ditahbiskan jadi destinasi halal tingkat dunia, inilah saatnya, tradisi Lebaran Topat dikemas ulang.

***

INGATAN Erik Tumbelaka melayang ke Juli tahun lalu. Dia ingat betul betapa gegap gempitanya kawasan wisata Senggigi. Macet dan sesak. Orang berjejal-jejal. Berada di pantai dan jalan berimpit-impit namun penuh suka cita.

Mereka orang kita. Nyaris seluruhnya adalah masyarakat NTB. Datang dari seantero penjuru Pulau Lombok. Bergerombol dan berkelompok membawa bekal. Menumpang kendaraan pikap atau sepeda motor. Bahkan, ada yang rela datang sehari sebelumnya dan menginap di pantai. Demi bisa mendapat tempat yang sedikit baik.

Di Senggigi mereka berkumpul dan bergembira. Di ikon wisata paling kesohor di Bumi Gora itulah, mereka tumpah dan merayakan Lebaran kedua usai Lebaran Idul Fitri. a�?Itu Lebaran Topat tahun lalu,a�? kata Erik mengenang.

Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) chapter Lombok itu tak akan lupa betapa massalnya Lebaran Topat itu. Tentu saja, tak cuma tahun lalu. Tahun-tahun sebelumnya juga begitu.

Namun, suka cita itu tak menular ke banyak pihak. Tak juga menular ke para pengelola hotel dan restoran di kawasan wisata Senggigi. Kawasan dengan barisan hotel dan resort berbintang di Pulau Lombok.

a�?Kalau efek (Lebaran Topat) untuk hunian hotel, jujur saja. Tidak ada,a�? ungkap Erik.

Tak ada kenaikan tingkat hunian hotel pada Lebaran Topat. Rasanya Lebaran Topat memang bukan waktunya panen tetamu. Tak cuma tahun lalu. Tahun-tahun sebelumnya juga begitu.

Orang boleh ramai berdatangan. Namun, mereka bukan wisatawan. Jangankan wisatawan mancanegara. Wisatawan nusantara pun bisa dihitung jemari. Tak cuma tahun lalu. Tahun-tahun sebelumnya juga begitu.

Malah, kata Erik, pada momen Lebaran Topat biasanya mereka justru akan panen dalam urusan yang lain. Yakni panen keluhan dari para tetamu yang tengah menginap di hotel. Terutama karena macet di ruas jalan Senggigi dan gunungan sampah di pantai.

Kalau sudah begitu, hotel akan memberi penjelasan mendetail pada para tamu mereka. Menjelaskan bahwa keramaian itu bagian dari tradisi Lebaran Topat yang sudah berusia ratusan tahun di Lombok. Dan yang sudah-sudah tamu pun mengerti dan memahami.

Dan hari ini, Lebaran Topat kembali datang. Seperti tahun lalu, keramaian sudah pasti. Bahkan mungkin berlipat-lipat. Mengingat arus pengunjung dari seantero penjuru Pulau Lombok yang bisa meningkat. Seiring kemudahan mobilitas warga yang juga kian mudah.

Titik keramaian masih akan sama. Selain di kawasan wisata Senggigi, keramaian akan ada pula di pantai pesisir barat Kota Mataram. Keramaian serupa juga akan ada di sejumlah titik di Lombok Tengah. Antara lain di kawasan Bendungan Batujai. Termasuk pula pesisir barat di Lombok Utara.

Sebelum ke pusat-pusat keramaian itu, warga akan lebih dulu berkumpul di masjid dan musala di mukim masing-masing pada pagi yang masih basah oleh embun. Berzikir dan berdoa. Melantunkan kalimat takbir, tahlil dan tahmid.

Lalu setelahnya akan dikuti dengan begibung atau makan bersama. Sesuai namanya, menu utamanya adalah ketupat atau topat dalam bahasa Sasak. Sementara lauknya, boleh macam-macam. Yang penting enak tentu saja.

Biasanya juga, orang tua yang punya bayi akan menjadikan momentum ini untuk tradisi ngurisan atau potong rambut. Diikuti dengan lantunan doa-doa dari kitab Barzanzi, untuk keberhakan bagi sang buah hati dari Sang Maha Pencipta.

Sungguh sebuah tradisi yang agung. Dan karenanya, tradisi ini pun digagas agar menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan. Tak cuma nusantara, tapi mancanegara. Apalagi, tradisi seperti ini tak banyak ada di sejumlah daerah di Indonesia. Boleh dibilang, hanya di NTB, tradisi Lebaran Topat diperingati sedemikian massal.

a�?Tapi, sampai sekarang belum mampu untuk jadi magnet bagi wisatawan,a�? kata Erik.

Para pelaku wisata sebetulnya bukan tak berusaha. Sudah semenjak lama, event tradisi ini dijual. Namun, tetap tak mendongkrak angka kunjungan yang berimbas pada tingkat hunian hotel.

Jika dibanding tahun lalu, Lebaran Topat tahun ini memang ada peningkatan tingkat hunian. Namun, kata Erik, bukan karena event Lebaran Topat. Tapi, imbas libur Lebaran yang bertepatan dengan masih liburan sekolah menyongsong tahun ajaran baru.

Toh kendati begitu, para pelaku wisata tak pernah hilang harapan. Seperti di belahan bumi yang lain. Tradisi Lebaran Topat harusnya memang bisa dijual. Bisa menjadi daya tarik besar bagi wisatawan, terutama NTB yang tahun lalu dinobatkan sebagai destinasi halal terbaik di dunia.

Bagi Erik, Lebaran Topat akan bisa menjadi tradisi yang menarik apabila baik pula dalam penyelenggaraannya. Sehingga acara tidak monoton, dan tidak selalu sama dari tahun ke tahunnya.

GM Killa Senggigi Beach Hotel ini menegaskan, pemerintah daerah bersama pelaku wisata harus mampu membuat gagasan dan perubahan konsep. Serta mengevaluasi sarana dan prasarana yang menjadi perhatian pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

Peran masyarakat juga tidak kalah penting. Khususnya dalam menjaga ketertiban dan kebersihan.

Pandangan yang sama juga dilontarkan Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB I Gusti Lanang Patra. GM Hotel Lombok Raya, salah satu hotel bintang empat di Kota Mataram ini men mengatakan, biasanya selama ini, waktu Lebaran Topat, justru tamu hotel sudah banyak yang check out. a�?Biasanya mereka sudah pulang. Karena biasanya aktivitas perkantoran sudah mulai aktif,a�? kata dia.

Lanang mengatakan, khusus untuk hotel di dalam kota, siklus tamu yang datang menginap memang jarang sampai tiba waktunya Lebaran Topat. Itu sebabnya tingkat hunian hotel dalam kota saat ini berkisar paling tinggi 60 persen. Tidak seperti di resort yang bisa full booking.

Karena itu, pilihannya, Lebaran Topat harus mampu menggaet wisatawan mancanegara. Sehingga bisa mendongkrak angka kunjungan dan tingkat hunian hotel di dalam kota.

PHRI sepakat bahwa harus ada pembenahan ulang pada kemasan Lebaran Topat. Selain itu, tentu harus didukung pula dengan aksi promosi yang jitu. Informasi Lebaran Topat harus bisa dijangkau sebanyak mungkin khalayak. a�?Saat ini sepertinya ini yang belum maksimal,a�? kata Lanang.

Dan dia benar. Tengoklah di Gili Trawangan, salah satu destinasi wisata yang menjadi surga bagi wisatawan asing di NTB. Eliza, seorang wisatawan asal Meksiko kepada Lombok Post mengatakan, dirinya tak tahu ada event Lebaran Topat yang diperingati hari ini.

a�?Hampir seminggu kami tinggal di Lombok tidak tahu bila ada tradisi setelah lebaran tersebut,a�? kata dia.

Namun, setelah mendapat informasi dari koran ini soal tradisi Lebaran Topat, Eliza begitu antusias. a�?Coba nanti saat Lebaran Topat kami akan tinggal di Senggigi untuk melihatnya,a�? kata dia bersemangat.

Diakui Monoton

Pentingnya mengemas ulang ebent Lebaran Topat ini juga diakui Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mataram Abdul Latif Nadjib. Sebagai daerah yang setiap tahun memperingati Lebaran Topat, Latif mengakui kalau memang hingga perayaan tahun ini, nyaris tak ada yang beda di Kota Mataram.

Kalau soal meriah, tentu saja meriah. Tapi hanya sebatas itu. Namun, soal nilai tambah tahun ini dibanding tahun sebelumnya, bagian ini yang sulit ada penjelasannya.

Perayaan Lebaran Topat di Kota Mataram dipusatkan di dua lokasi makam. Yakni di Makam Loang Baloq Sekarbela dan Makam Bintaro Ampenan. Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh akan hadir di perayaan di Loang Baloq. Sementara Wakil Wali Kota H Mohan Roliskana akan hadir di Bintaro.

Perayaan Lebaran Topat di Mataram, selain ziarah ke makam akan dihiasi pula dengan atraksi musik qasidah, tradisi ngurisan hingga silaturahmi pemimpin daerah dengan warga. Sama seperti tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya.

a�?Ajang silaturahmi yang sesungguhnya bisa kita lihat saat Lebaran Topat. Warga akan bersalaman dengan warga lainnya di makam seperti semut yang salaman itu. Mereka ke makam selain ziarah juga ingin rekreasi bersama keluarganya,a�? jelasnya.

Namun, untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan, tradisi turun temurun itu tak cukup. Itu sebabnya, ia berharap kemasan ulang Lebaran Topat digodok Disbudpar NTB. a�?Kita tidak bisa pungkiri. Sinergitas dari semua pemerintah daerah dan provinsi sangat perlu,a�? kata dia.

Tak cuma Mataram. Namun melibatkan pula Pemkab Lombok Tengah, Lombok Barat, Lombok Timur maupun Lombok Utara.

a�?Kita bisa tiru Festival Maulid Jogja. Kita bisa buat gunung topat sebagai salah satu dari rangkaian perayaan Lebaran Topat,a�? usulnya.

Dikatakannya, bisa saja nantinya setiap daerah secara bergangtian menjadi tuan rumah perayaan tradisi ini. Sehingga tidak melulu di satu tempat tiap tahun. a�?Kami yakin, jika dikemas semenarik mungkin, akan menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan,a�? tandasnya.

Tantangan Terbesar

Bagi Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi, rebranding Lebaran Topat menjadi tantangan paling besar bagi pihaknya. Tahun ini, Lebaran Topat di Lombok Barat akan dipusatkan di dua lokasi. Untuk kegiatan spiritual keagamaan akan dilaksanakan secara tertutup di Makam Batu Layar. Sementara untuk seremonial akan berlangsung di pantai Duduk, Senggigi. “Pantai tersebut tentu banyak dilewati oleh turis,” sambungnya.

Ispan sadar, rebranding itu adalah suatu keharusan. Itu sebabnya, pihaknya juga melakukan penataan pedagang kuliner dan lainnya. Ispan juga mengakui, pihaknya harus membuat kreasi dan inovasi setiap tahun. Jika tahun ini di pantai maka tahun depan ia berencana melibatkan kapal laut. “Kita akan kerja sama dengan boatman,” ungkapnya.

Melalui kapal laut, wisatawan juga dapat menikmati Lebaran Topat yang berbeda. Di tahun berikutnya, ia juga berencana tak hanya mengundang tokoh agama Islam. Ia juga akan mengundang tokoh agama lain. Ispan memiliki impian jika Lebaran Topat bisa dinikmati segala lapisan masyarakat. “Ke depannya lebaran topat milik kita semua,” tandasnya.

Promosi Kencang

Bagi Kadisbudpar NTB HL Mohammad Faozal, mengemas ulang tradisi Lebaran Topat agar menjadi daya tarik wisatawan memang salah satu pekerjaan rumah yang harus dia selesaikan.

a�?Ya itu memang yang menjadi PR kita. Ke depannya, Lebaran Topat ini harus dibuat skenario atau konsep atraksinya lebih matang lagi,a�? kata dia.

Dijelaskan, Disbudpar NTB sudah melakukan koordinasi dengan Disbudpar Kota Mataram dan Lombok Barat. Dari gambaran yang diberikan, Faozal menangkap konsep tahun ini tidak terlalu banyak mengalami perubahan.

Itu sebabnya, dia menjanjikan suatu yang beda tahun depan. a�?Kita akan upayakan perayaan Lebaran Topat bisa dipusatkan di satu titik. Jadi, Kota Mataram dan Lobar bisa bikin acara di satu tempat saja. Kita buat lebih besar dan dengan konsep yang lebih matang lagi,a�? jelas Faozal.

Lokasi acara, lanjutnya, perlu dirundingkan dengan lebih matang. Tahun berikutnya, Lebaran Topat perlu dipusatkan di sentra keramaian yang lebih mudah dijangkau wisatawan.

Faozal pun mengakui bahwa promosi perayaan lebaran topat juga masih perlu dimaksimalkan lagi. Karenanya, ditargetkan, promosi bisa lebih luas. Harapannya, atraksi Lebaran Topat bisa menjadi daa tarik utama yang bisa mempunyai daya magnet, menarik wisatawan berkunjung ke Lombok.

a�?Pada dasarnya, Lebaran Topat ini punya nilai jual yang tinggi sebagai atraksi wisata tapi memang kedepannya perlu skenario yang lebih baik lagi,a�? pungkas Faozal.

Tak lupa, pihaknya berkoordinasi dengan manajemen hotel untuk memastikan mereka mengumumkan kepada para tamunya agar ikut menyaksikan atraksi Lebaran Topat. (ewi/nur/ton/fer/uki/r10)

Berita Lainnya

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost