Lombok Post
Headline Selong

Lotim Darurat Sampah

BERSERAKAN: Tumpukan sampah yang dibuang begitu saja oleh masyarakat di pinggiran salah satu sungai di Sikur, Lombok Timur kemarin (12/7).

SELONG – Persoalan sampah ternyata tak hanya terjadi di Masbagik dan Selong saja. Hampir seluruh kecamatan di Lombok Timur (Lotim) dalam keadaan darurat sampah. Pasalnya dari 20 kecamatan yang ada, pemerintah hanya mengurusi sampah di lima kecamatan saja.

a�?Urus Selong dan Labuhan Haji saja kami sudah kewalahan,a�? aku Kepala Kantor Kebersihan dan Tata Kota (KKTK) Lotim Mulki, kemarin.

Sukamulia, Sakra, dan Masbagik adalah tiga kecamatan lain yang juga diurusi. Namun tetap sangat minim sentuhan dan jauh dari kata memuaskan. Lantas bagaimana dengan 15 kecamatan lain di daerah bermotokan Patuh Karya tersebut? Pemerintah mengakui belum sanggup menjangkaunya. a�?Kami serba kekurangan dapat dikatakan belum tersentuh,a�? sambung Mulki.

Betapa tidak, untunk mengurusi sampah daerah terluas di Pulau Lombok ini, KKTK hanya mengandalkan 12 truk pengangkut saja.

Personel mereka juga hanya 213 orang yang juga masih harus dibagi mengurusi taman, jalan, dan operasional kendaraan.

a�?Idealnya butuh 1.000 personel kebersihan dan minimal 50 truk pengangkut,a�? katanya ketika ditanya jumlah yang seharusnya dimiliki.

Status SKPDnya yang masih sebatas a�?kantora�? dan belum menjadi dinas juga menjadi soal. Ia membandingkan dengan Mataram yang hanya seukuran satu kecamatan di daerah ini sudah memiliki Dinas Kebersihan tersendiri yang terpisah dengan Dinas Pertamanan termasuk Dinas Tata Kota.

Hal tersebut berdampak pada banyak hal mulai dari kurangnya kemampuan operasional, cakupan yang tak maksimal, tenaga terbatas, hingga anggaran yang minim.

a�?Harusnya kita naik kelas dan jadi dinas level A,a�? ujarnya.

Dengan keadaan tersebut, tak heran sampah dengan sangat mudah akan ditemukan di berbagai lokasi di Lotim.

Tengok saja kecamatan-kecamatan terjauh semisal Jerowaru di ujung selatan atau Sambelia di ujung timur. Jangan pula lupakan Sembalun yang terletak nun jauh di kaki Gunung Rinjani sana.

a�?Untuk tempat-tempat itu kami bisanya hanya insidential saja, sesekali kalau sudah sangat menumpuk sampahnya,a�? jelas mantan Sekdis Sosnakertrans Lotim itu.

Camat silih berganti mendatanginya untuk menyampaikan keluhan dan meminta bantuan. Namun apa daya tangan tak sampai, kemampuan sangatlah terbatas.

a�?Saya datang mau minta bantuan atasi sampah di kecamatan saya,a�? kata Camat Pinggasela Hanudin yang kemarin berkunjung.

Kondisi tersebut sebenarnya sudah lama menjadi bahan sindiran berbagai pihak. Tokoh masyarakat selatan Lotim yang juga menjadi wakil rakyat, Samsul Rizal pernah menyoroti hal tersebut.

a�?Ingat sampah itu bukan hanya di Selong dan sekitarnya, ini KKTK Lotim, bukan KKTK Selonga�? kritiknya.

Menurutnya pemerintah harus mampu membagi pengaturan dan menambah kemampuan sehingga mampu menjangkau daerah selatan dan utara yang kini minim sentuhan.

Politisi Nasdem itu menambahkan untuk wilayah selatan kini praktis tak ada pengangkutan sampah.

a�?Menumpuk di pinggir jalan, dibuang ke kali, dibakar sembarangan, dan mengendap di pesisir,a�? katanya menjelaskan sampah-sampah selatan yang tak tertangani.

Pemerintah sebenarnya tak tinggal diam. Berbagai upaya terus dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Salah satunya mendorong desa-desa yang ada menjadi desa mandiri sampah. Dengan cara ini mereka diharapkan mampu mengelola sendiri sampahnya.

Misalnya yang dilakukan sejumlah desa di Masbagik, dengan iuran pada warga, ada petugas khusus yang digaji menangani sampah.

Nantinya merekalah yang meneruskan sampah tersebut ke truk pengangkut. a�?Sudah 46 desa yang kami bina,a�? katanya.

Jumlah tersebut jelas masih kurang, bandingkan dengan jumlah desa yang lebih dari 250 desa. Apa lagi belum semua desa binaan efektif menjalankan program sesuai harapan.

Selain itu, KKTK kini tengah memikirkan cara mengolah sampah menjadi pupuk organik. Cara itu adalah salah satu langkah mengurangi limbah yang dihasilkan masyarakat.

a�?Akhir pekan ini saya mau ke Surabaya menemui pihak yang menawarkan itu,a�? jelas Mulki.

Rencana pembuatan satu Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Pringgabaya juga menjadi salah satu jawaban atas masalah saat ini. Namun dengan proses yang baru mencapai studi kelaikan.

Diperkirakan TPA untuk menampung sampah di utara Lotim itu baru akan beroperasi 2018 mendatang. a�?Masih banyak yang harus kita benahi,a�? pungkasnya. (yuk/r3)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost